
Excel sudah gusar saat tak menemukan keberadaan Daisy di dalam rumahnya tetapi Excel yakin jika Daisy belum pergi kemana-mana.
Mina yang sudah mengetahui jika Daisy sedang hamil juga ikut panik. Dia takut akan terjadi sesuatu kepadanya, mengingat dia adalah wanita yang lemah fisiknya.
Saat semua orang tengah sibuk dengan pencarian, tiba-tiba Adel datang untuk mengahadap kepada Excel. Dia tidak tega saat melihat wajah pucat Nona-nya.
"Maaf Tuan, Nona ada di rumah belakang." Suara Adel mengema di ruang yang sepi.
Excel yang mendengar membulatkan matanya tak percaya. Tanpa ba bi bu, dia segera menuju rumah belakang, dimana Adel tinggal untuk merawat kelinci-kelinci kesayangan.
"Kenapa dia bisa ada di sana?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi sepertinya Nona sedang sakit, wajahnya sangat pucat," jelas Adel.
Ada sedikit getaran dalam dada Excel mengingat apa yang baru saja ia lakukan kepada Daisy. Dia sudah terbawa emosi dan tidak bisa mengontrol emosinya. Tak seharusnya Excel melampiaskan amarahnya kepada Daisy.
Sesampainya di rumah belakang, Excel bisa melihat Daisy sedang menonton televisi. Wajah sayu dengan mata yang sembab, membuat Excel merasa semakin bersalah. Inilah pertama kalinya Excel peduli kepada seorang wanita, meski awalnya dia hanya akan membuat Daisy tersiksa. Namun, semakin lama, Excel tiba-tiba berubah pikirkan tak ingin melanjutkan rencana awal. Apalagi saat ini Daisy sedang hamil darah dagingnya, meskipun Excel tidak mencintai Daisy, tetapi dia akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Anaknya harus bisa lahir dengan selamat, agar bisa menjadi penerusnya kelak.
Seperti ada yang sedang mengawasi, Daisy menoleh kebelakang. Dan saat itu juga ia terlonjak kaget. Mengapa Excel bisa ada di sini. Apakah Adel yang telah memberitahu kepadanya.
"Kenapa kamu disini? Aku mencarimu kemana-mana."
"Aku tidak menyuruhmu untuk mencari ku. Bukankah kamu tadi sudah mengusirku?"
Excel memberikan diri untuk mendekati Daisy. "Maaf." Satu kata langkah keluar dari mulut Excel. Bahkan Adel yang mendengar saja sangat terkejut.
"Ayo kita ke kamar lagi," pintanya.
Daisy tersenyum sinis. "Untuk apa? Aku tidak mau. Aku ingin disini saja."
Sabar Excel. Semua ini juga gara-gara kamu.
__ADS_1
"Baiklah, jika kamu ingin tetap ada disini. Aku juga mau disini."
Excel segera menurunkan perintah kepada kepala pelayan agar mempersiapkan semua keperluannya untuk tidur di kamar Adel. Kamar yang tidak terlalu besar dan menyuruh Adel bersama dengan penghuni rumah belakang untuk tidur di rumah utama.
"Excel kamu gila ya?"
"Tidak. Tapi ada yang ingin aku katakan kepadamu bahkan aku tidak ingin mejeratmu dalam belenggu ini. Bagaimana?"
Sejak Excel ikut duduk disampingnya Daisy yang tak fokus dengan acara televisi karena dia terus mengganti channel siaran.
"Katakanlah apa yang ingin kamu katakan!" Daisy sudah bosan menunggu Excel untuk buka suara.
Cepat atau lambat semua akan terungkap. Excel memberikan diri untuk mengatakan jika Daisy sedang hamil. Dia tidak ingin Daisy mengetahui lebih dahulu. Pasti dia tidak akan pernah menerima kehadiran calon anaknya yang sedang tumbuh di dalam perutnya.
"Daisy, mari kita buat perjanjian. Aku akan melupakanmu dan tidak akan mengganggumu. Aku juga akan mencabut wanaca saat itu tetapi dengan satu syarat," tutur Excel.
"Benarkah?" Mendengar kata tersebut Daisy sangat bahagia. Berarti setelah itu dia akan lepas dari tawanan belenggu dendam Excel selama ini. Dia juga bisa bebas dan pergi jauh untuk membesarkan anaknya kelak.
Daisy belum bisa mencerna ucapan Excel karena daya pikirnya yang lambat.
"Berjanjilah kepadaku agar tidak melakukan hal bodoh. Aku tahu kamu pasti akan menolak anugerah Tuhan, tetapi itu sudah terjadi. Ku mohon dengan kerendahan hatiku, jangan bunuh dia."
Lagi-lagi Daisy tidak mengerti akan ucapan Exel. "Kamu ngomong apa sih ngelantur seperti itu? Siapa yang mau dibunuh? Ngomong yang jelas!"
Excel tidak tahu darimana dia akan memberitahu Daisy jika di sedang hamil. Mata Excel terus mengarah pada perut rata milik Daisy.
"Kalau seandainya kamu hamil gara-gara malam itu bagaimana? Apa yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu ingin menggugurkan dia karena dia anakku?" tanya Excel dengan wajah serius.
Daisy langsung segera memegang perutnya. Terlalu bodoh jika dia ingin menggugurkan anak yang tidak berdosa.
"Jika pun aku hamil, aku pasti akan merawat dia hingga dia lahir dan besar nanti. Karena saat ini hanya dia yang aku miliki. Dia anakku, mana mungkin aku menggugurkan dia."
__ADS_1
Excel tak percaya akan jawaban dari Daisy, tetapi dia sangat tidak terima saat Daisy mengatakan bahwa itu adalah anak dia. Dengan menahan rasa kesal Excel berkata, "Dia anakku! Bagaimana mungkin kamu bisa mengklaim bahwa itu adalah anakmu. Dia anakku!" Nada Excel sedikit meninggi.
"Apa kamu bilang?" Daisy sedikit shock.
Excel yang tidak bisa menyembunyikan wajah malunya saat tidak bisa mengontrol perasaan. Dia memilih meninggalkan Daisy ke kamar yang hendak ia tiduri malam ini. Daisy belum puas jika Excel belum menjawab pertanyaannya. Apakah Excel sudah tahu jika dirinya sedang hamil? Lalu apakah Excel akan mengambil anaknya kelak. Tidak! Daisy tidak terima, dia segera mengejar Excel ke kamar untuk menjelaskan ucapan..
Namun, saat hendak melangkah tiba-tiba lampu mati membuat Daisy berteriak kencang hingga membuat Excel terkejut.
Melihat keadaan sudah gelap, Excel sangat panik apalagi saat mendengar Daisy yang berteriak.
"Daisy, tunggu disana jangan bergerak. Aku akan kesana!" teriak Excel dengan kuat.
.
.
.
.
🌼 Bersambung 🌼
Hayo mana taburan bunganya? Lelah othor nungguin bunga dari kalian 😔😔
Selagi menunggu othor Up lagi mampir dulu yuk ke novel temen othor Senja_90 cerita seru pastinya nguras air mata.
Judul Novel : DI KHIANATI KARENA TAK KUNJUNG HAMIL
Author : Senja_90
__ADS_1