
"Al-Alex," ucap Daisy terbata.
Excel mengangguk pelan merutuki kebodohannya yang tidak mengetahui jika Daisy adalah satu orang yang sama dengan Sysi.
"Iya. Aku Alex kamu. Alex yang bodoh tidak bisa mengenali pahlawannya sendiri. Maafkan aku," sesal Excel.
Daisy menatap lekat lelaki yang ada di depan matanya. Sorot mata yang tajam, membuat Daisy tidak percaya bahwa itu adalah Alex-nya.
Daisy menggelengkan kepala. Dia menolak pengakuan Excel karena dia belum bisa menerima kenyataan bahwa Excel adalah Alex.
"Tidak! Kamu bukan Alex! Kamu Excel!" bantah Daisy.
"Sy, maaf jika pengakuan ini membuatmu tidak bisa menerimaku lagi. Aku salah sudah terlalu kejam kepadamu. Kamu berhak untuk marah, tetapi percayalah kepadaku jika aku adalah Alex yang berjanji akan selalu melindungi mu."
"Apakah dengan cara seperti ini kamu melindungi ku? Jika aku tahu pada akhirnya akan seperti ini, aku tidak akan pernah merelakan nyawaku untuk kamu. Selama puluhan tahun aku berjuang untuk tetap bertahan karena aku ingin sekali bertemu dengan Alex, tetapi nyatanya Alex yang aku banggakan dengan bahagia menyiksaku dalam rumahnya. Menjadikan aku sebagai tawanan untuk balas dendam. Excel, tolong keluarlah! Aku ingin sendiri," pinta Daisy
Excel sadar penuh akan kesalahannya, dia pun menuruti ucapan Daisy untuk keluar. Saat ini Daisy butuh waktu untuk sendiri.
.......
Setelah mengcancel semua agendanya untuk hari ini, tetepi Excel masih harus pergi ke kantor karena Sherly tidak bisa menangani tugas-tugas Excel yang di nilai terlalu berat. Apalagi jika hendak melakukan kerjasama, harus berpikir secara matang sebelum memutuskan sebuah kata iya.
Sesampainya di kantor, wajah Excel terlihat sangat kusut. Wajah yang memang sudah terlihat seram dari bawaan, kini ditambah lagi dengan suasana hati yang buruk. Semua itu bercampur menjadi satu dan memperlihatkan wajah Excel yang benar-benar suram.
"Maaf Tuan, apakah anda ada masalah?" tanya Sherly.
Excel membuang kasar nafasnya. "Ada. Dan ini adalah masalah yang sangat besar," ucapnya.
Sherly menatap lekat kepada bos-nya. Jika memang ini adalah masalah besar berarti Sherly harus siap siaga.
"Apakah ada mata-mata lagi Tuan, atau Arathorn membuat masalah lagi?"
Excel menatap malas kearah Sherly yang banyak pertanyaan hingga Excel semakin pusing.
"Bukan masalah pekerjaan tapi masalah hati. Aku sudah menemukan Sysi."
__ADS_1
"Itu adalah kabar bagus, Tuan. Tapi ... mengapa anda terlihat menyakitkan. Apakah Nona Sysi tidak mengenali anda dan sudah menikah? apakah kita harus merebut Nona Sysi, Tuan?"
"Sudah diam! kamu membuatku semakin pusing!" bentak Excel.
Sherly hanya bisa menelan kasar ludahnya. Seperti mood Tuan-nya sangat buruk hingga dia lepas kendali. Sebenarnya ada apa dengan wanita yang bernama Sysi? Harusnya Tuan-nya bahagia jika Sysi sudah berhasil ditemukan. Apakah Sysi hanya tinggal namanya saja?
"Kenapa masih ada disini? Keluar!" bentak Excel pada Sherly.
Didalam ruang kerjanya Excel tidak bisa lepas memikirkan Daisy. Wanita yang hampir tiga bulan dia nikahi tanpa diperlukan dengan baik dan terus menyiksanya ternyata adalah wanita yang sedang ia cari selama ini. Dengan kebodohannya dia sama sekali tidak menyadari bahwa yang ada di hadapannya selama ini adalah Sysi.
Bayang-bayang Excel mengurung Daisy dalam gudang tanpa memberinya makan. Bayang-bayang saat Daisy hampir membakar rumahnya, bahkan saat Daisy pingsan di balkon malam itu. Semuanya terekam jelas dalam ingatan Excel.
Untuk pertama kalinya Excel merasa sangat frustasi hanya karena seorang wanita. Karena wanita ini bukan sembarang wanita. Wanita yang sudah mempertaruhkan nyawa untuknya, namun apa balasan? Excel malam terus menyakiti wanita tersebut. Jika Excel mengetahui sedari awal, Excel tidak mungkin akan menyakiti Daisy lebih dalam lagi. Saat ini kata maaf saja tidak cukup untuk menebus kesalahannya yang sudah ia lakukan kepada Daisy. Bahkan malam panas yang tak ia sadari membuat dadanya semakin sesak.
"Tuan, anda ingin kemana?" tanya Sherly, saat Excel meninggalkan ruangan.
"Apakah semua yang aku lakukan harus aku katakan kepadamu? tidak kan? Jangan mentang-mentang kamu dekat denganku lalu kamu berhak untuk ikut campur urusan pribadiku!" bentak Excel.
Sherly menunduk dan mengucapkan kata maaf. Dia tidak tahu apa yang mempengaruhi Tuan-nya menjadi mode singa kelaparan, tetapi Sherly tidak akan membiarkan Tuan-nya pergi begitu saja.
"Seperti bukan masalah biasa. Tidak seperti biasanya Tuan Excel akan langsung marah hanya karena ucapan ku?" Sherly tak ingin membuang waktunya lagi kemudian mengikuti Excel yang sudah pergi meninggalkan kantor.
Di sisi lain Daisy masih merenung di dalam kamarnya. Dunia yang sempit dimana dia harus bertemu dengan Alex dalam wujud Excel yang kejam. Dia memang berharap jika Alex akan datang, tetapi dia tidak berharap jika Alex itu adalah Excel.
Mina yang mendapatkan pesan dari Excel segera masuk ke dalam kamar dan menyuruh Daisy untuk bersiap, karena Mina mengatakan akan mengajaknya keluar untuk mencari angin segar.
Daisy yang memang sedang membutuhkan angin segar untuk menjernihkan pikirannya langsung menyetujui ajakan Mina.
Daisy pikir mereka hanya pergi berdua saja, nyatanya bada bodyguard yang turut mengawal Daisy pergi.
"Mina, kita mau kemana? Sepertinya ini bukan jalan ke pusat kota. Kamu ingin mengajakku kemana?" tanya Daisy heran saat jalan yang di lalui keluar dari jalan kota.
"Tenang saja, nanti Nona juga akan tahu sendiri," jawab Mina.
"Apakah kamu akan menculik ku, Mina?"
__ADS_1
Mina yang mendengar pertanyaan Daisy hanya bisa menahan tawanya. Bagaimana bisa Nona-nya beranggapan demikian?
"Tidak Nona. Saya tidak akan menculik anda. Saya hanya ingin mengajak anda ke suatu tempat supaya pikiran anda lebih tenang," ucap Mina.
"Apakah Excel juga tahu? jika kita pergi tanpa seijin dari dia, bisa-bisa kita tidak selamat, Mina. Aku tidak mau pergi ketempat itu! Cepat putar balik mobilnya!"
"Tenang Nona. Tuan Excel sudah tahu jika kita akan pergi ke suatu tempat, bahkan dia yang menyuruh saya untuk mengajak anda. Sepertinya Tuan Excel akan mengadakan kencan romantis dengan anda," kekeh Mina.
"Jangan sembarang kalau bicara, Mina!"
"Ah, saya lupa kalau Tuan Excel itu kulkas hidup," balas Mina.
Sejenak, Daisy tidak asing lagi dengan jalan yang sudah di lalui. Sebuah jalan menuju ke sebuah sekolahan yang berjaya pada masanya. Meskipun sekolah itu sudah tidak beroperasi lagi, tetapi bangunan itu masih terawat dan masih sama persis dengan dua puluh tahun yang lalu.
"Apakah Excel juga ada disini?" tanya Daisy saat mesin mobil sudah berhenti.
"Iya, Nona. Tuan sudah menunggu anda. Asal anda tahu, inilah kali pertama Tuan bersikap manis kepada wanita. Sepertinya anda sudah bisa melunakkan hati Tuan Excel, Nona. Saya sangat salut dengan anda. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."
.
.
.
🌹 Bersambung🌹
Hayo mana suaranya, masih sepi 😤 Yang kagak mau ninggalin jejak othor getok 🔨🔨 Tabur-tabur bunga atau kopi napa woii 😔
Nih aku bawakan rekomendasi novel bagus untuk kalian. Mampir ya! ( Wah ... ini bisa jadi saingan babang Excel 🤭(
Judul Novel : Penjara Cinta Mafia Kejam
Author : Siti Fatimah
__ADS_1