Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 50


__ADS_3

Sesuai dengan janji Excel, pagi ini dia harus mengantarkan istrinya untuk ke rumah Daddy-nya, meskipun dengan rasa was-was. Dia takut jika Felix sudah sembuh dan menginginkan Daisy lagi.


"Aku mengizinkan kamu untuk menjenguk Daddy-mu asalkan kamu tetap di kawal oleh bodyguard ku," ucap Excel, saat Daisy hendak turun dari mobil.


"Hanya menjenguk Daddy saja harus pakai bodyguard segala," protes Daisy.


"Demi untuk keselamatan kamu," balas Excel.


Tidak hanya Daisy saja yang turun, tetap Excel juga ikut turun. Bukan untuk menjenguk Arathorn, tetapi hanya ingin memastikan istri masuk ke dalam rumah dengan selamat.


"Ingat, anak kita masih kecil di dalam perut kamu. Kamu hanya menjenguk, bukan mengurusi Daddy-mu, oke!"


"Iya, iya. Bawel," sahut Daisy.


Ini adalah kedua kalinya Excel menginjakkan kakinya di rumah Arathorn. Rumah dimana ibunya tewas saat itu. Mata Excel menatap nanar pada tangga penghubung lantai dua. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana saat ibunya terjatuh dari atas lantai hingga sampai bawah.


Dada Excel semakin sesak jika berlama-lama di rumah Arathorn, karena itu hanya akan mengingatkannya pada sosok sang ibu.


"Syi, aku harus segera pergi ke kantor. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku, oke!" pesan Excel.


"Iya, iya suamiku. Kamu bawel amat sih."


Setelah kepergian Excel, Daisy segera menuju kamar dimana Daddy-nya berada. Ternyata Daddy-nya sedang makan.


"Daddy." Daisy menghampiri Daddy-nya yang sedang disuapi oleh Mammy-nya.


Sudah payah Arathorn untuk berbicara. Begitu juga dengan tangannya yang sulit untuk di gerakan. Michelle yang berada di samping suaminya hanya menatap nanar kepada sang suami.


Daisy terkejut dengan keadaan Daddy-nya yang sama sekali tidak bisa mengucapkan kata. Dia sangat kesulitan saat ingin berbicara.

__ADS_1


"Duduklah, Syi!" perintah Mammy-nya.


"Daddy kenapa, Mi?"


"Daddy-nya terkena stroke Syi," lirih Mammy-nya.


Daisy menutup mulutnya tak percaya. Daddy-nya yang gagah dan kuat ternyata bisa mengalami stroke.


*******


Hampir satu hari Daisy menemani Daddy-nya di dalam kamar. Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya sesekali membantu Daddy-nya jika ingin minum. Sementara itu, Mammy-nya merasa sangat frustasi akan kejadian ini. Di tambah lagi dengan datangnya wartawan setiap hari yang berada di luar pagar untuk memberikan konfirmasi atas kejadian 20 tahun yang lalu.


"Mammy ... apakah setelah ini Mammy akan meninggalkan Daddy? Aku yakin sebentar lagi Daddy akan jatuh miskin dan tidak punya apa-apa lagi. Tidak bisa memenuhi kebutuhan Mammy dari lahir maupun batinnya. Mammy masih muda dan cantik, tidak susah untuk menggantikan sosok Daddy dalam hati Mammy."


"Syi ... Mammy menang salah. Tapi Mammy sangat mencintai Daddy kamu. Mammy tidak akan meninggalkan dia kecuali jika Mammy masuk penjara. Mammy takut Syi. Berita itu muncul kembali. Mammy sudah bilang jika Mammy tidak membunuh ibu kamu. Mammy tidak sengaja Syi." Michelle terisak saat mengingat kejadian naas yang harus menewaskan Laluna, ibu Daisy.


Flash Back On


Ucapan bibi Liu masih terngiang-ngiang di kepala Laluna. Sebelum jatuh, bibi Liu mengatakan jika Mishelle telah menggoda suaminya. Bisa dipastikan jika suaminya dan juga Michelle mempunyai hubungan gelap si belakangan. Laluna tidak terima atas pengkhianatan yang telah dilakukan oleh sahabat yang sudah menusukkan dari belakang.


Laluna menghampiri Mishelle yang berada di dalam kamarnya. Setelah kejadian bibi Liu tewas, Mishelle memilih mengurung dirinya di dalam kamar.


"Mischelle ... buka pintunya!" teriak Laluna.


Saat pintu di buka, Laluna segera menyerang Mishelle tanpa henti hingga Laluna memojokkan tubuh Mischelle di pagar balkon. Dengan wajah ketakutan, Mishelle berteriak minta ampun dan minta tolong.


"Na, maafin aku. Aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku," pinta Mischelle dengan tubuh yang sudah gemetar. Tidak bisa di bayangkan jika dirinya terjatuh kebawah, pasti tubuhnya akan hancur seketika.


"Aku sudah berbaik hati kepadamu, tapi kamu malah menusukku dari belakang. Beginikah cara kamu berbalas budi kepadaku, hah?" teriak Laluna penuh emosi.

__ADS_1


"Na, maafkan aku."


Mendengar keributan, Daisy segera mencari as keributan itu. Dia sangat terkejut saat melihat ibunya menyerang tante Mishelle, apalagi dengan posisi yang seperti itu. Salah sedikit tante Mischelle bisa jatuh.


"Ibu .... " panggil Daisy.


Laluna yang mendengar suara putrinya memanggil segera menoleh. Dan saat itu juga Mischelle berusaha untuk melepaskan diri. Naas, saat Mischelle sudah terlepas dari cengkeraman Laluna, tanpa sengaja tangannya mendorong tubuh Laluna karena ingin menghindari.


"Ibu .... " teriakan panjang disertai dengan jatuhnya Laluna, menggema di seluruh penjuru rumahnya.


Flash back Off


"Mammy ... tidak selamanya bangkai yang kita tanam tidak akan tercium oleh orang lain. Meskipun Mammy sudah berjasa dalam hidupku, tetapi hukum akan tetap datang. Dimana kita yang memulai, maka kita juga harus siap untuk mengakhiri."


Mischelle menatap lekat pada Daisy yang sudah dia anggap anaknya sendiri. Dia tidak percaya jika Daisy bisa mengatakan hal seperti itu kepada dirinya, seolah Daisy setuju jika dia masuk penjara.


"Syi ... tapi Mammy tidak sengaja. Mammy hanya memberontak dan tidak akan tahu jika ibu kamu akan terjatuh. Syi ... sekarang Daddy tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tolong kamu jelaskan kepada wartawan dan polisi jika Mammy tidak bersalah."


Saat ini Daisy tidak bisa berpikir apa-apa. Semua berjalan begitu saja karena Excel yang sudah mengatur. Dengan alasan apapun, tetap saja Mischelle sudah menewaskan ibunya.


.


.


.


.


☕ Bersambung ☕

__ADS_1


Halo-halo aku datang lagi 🥰 Jangan lupa tinggalkan jejak 🥰🥰


__ADS_2