Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 36


__ADS_3

Excel perlahan membuka kedua bola matanya. Seluruh tubuhnya terasa remuk, bahkan kepalanya juga masih terasa sakit. Ingin bangkit tetapi rasanya tidak sanggup. Namun, Excel merasakan sebuah tangan sedang menggenggam erat telapak tangannya. Ternyata Excel bisa melihat raut wajah Daisy yang tengah mengkhawatirkan dirinya.


Saat Daisy menyadari pergerakan Excel, dia langsung bangkit dan segera keluar untuk memanggil dokter. Sudah hampir 12 jam Excel tidak sadarkan, hal itu membuat Daisy sangat panik.


Setelah melakukan pemeriksaan, Excel dinyatakan tidak mengalami cidera yang serius, hanya patah tulang tangan tetapi masih bisa untuk sembuh seperti sedia kala.


Daisy merasa sangat bersyukur jika Excel tidak mengalami lupa ingatan yang berujung akan melupakan dirinya.


"Kamu jangan banyak bergerak. Kalau butuh sesuatu katakan saja," kata Daisy.


Meskipun sedikit ketus, tetapi Excel merasa sangat bersyukur bahwa Daisy masih peduli akan dirinya. Setidaknya masih ada celah untuk membuat Daisy menerima dirinya dalam wujud Excel, bukan Alex.


Bagi Excel, Alex hanyalah lelaki yang lemah dan mudah tertindas. Oleh sebab itu, semenjak Excel masuk bangku kuliah dia mencoba untuk¹ menjadi seorang yang kuat hingga tak kan terkalahkan lagi.


"Sy, makasih ya," ucap Excel.


Daisy tak menanggapi. Saat ini dia hendak menyuapi Excel, karena setelah sadar Excel harus segera minum obat, sedangkan saat ini perut Excel masih kosong.


"Aku gak mau makan," tolak Excel, saat Daisy hendak menguapi Excel.


"Kenapa? kamu harus makan biar cepat sembuh," ujar Daisy.


Aku menolak untuk sembuh jika ini adalah satu-satunya cara agar kamu bisa melayani ku Aku rela menahan rasa sakit yang bertubi-tubi asalkan kamu peduli kepadaku, Syi.


"Makanannya tidak enak," kilah Excel.


Daisy mencoba untuk terus meyakinkan Excel agar dia mau makan dan minum obat. Jika Excel seperti ini kapan lukanya akan sembuh?


"Ayolah! Sedikit aja ya?" bujuk Excel Namun, Excel lagi-lagi menolak.


"Aku tidak mau makan."


"Ya sudah, kalau begitu kamu tidak ingin sembuh bukan? Kamu tinggal saja disini sendiri, aku tidak bisa menemanimu lama di tempat ini karena aku sangat membenci rumah sakit. Aku muak berada di tempat ini, tetapi demi kamu aku rela mengikis egoku. Namun, nyatanya kamu merasa nyaman di tempat ini," ucap Daisy.

__ADS_1


Daisy sudah meletakkan kembali piring keatas meja. Saat ini dia ingin keluar, karena semakin lama dia berada di dalam ruangan, semakin mual menahan gejolak dalam perutnya.


"Tunggu! Iya aku mau makan."


"Dari tadi kek," gerutu Daisy.


Excel pasrah saat suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya meskipun rasanya sangat hambar. Tetapi tangan Daisy menyulapnya menjadi makanannya yang paling nikmat se-nusantara.


"Abis ini minum obat ya."


Satu piring ternyata Excel habiskan dalam sekejap mata saja. Rasanya ingin mengeluarkan kembali makanan yang telah ia telan, tetapi tidak bisa. Ia tidak ingin membuat Daisy ngambek lagi.


*********


Tepat pukul lima sore Excel sudah tiba di rumahnya meskipun kondisi belum pulih sempurna. Ia tahu jika Daisy tidak menyukai rumah sakit, akhirnya meminta untuk melakukan perawatan di rumah saja.


Excel di bantu kepala pelayan saat hendak naik ke lantai atas. Tidak mungkin Daisy yang akan membantu Excel dengan kursi rodanya.


Excel merasa sangat gerah. Ingin mandi tetapi untuk berdiri saja dia belum kokoh. Untuk sementara waktu Excel harus memerlukan tangan orang lain untuk menggantikan tangannya.


"Kamu butuh sesuatu? biar aku bantu?" tawar Daisy.


"Aku tidak yakin jika kamu mau untuk membantuku," balas Excel.


"Memangnya apa yang kamu butuhkan?"


"Aku ingin mandi, gerah."


Daisy paham, ia pun segera keluar dari kamar untuk memanggil kepala pelayan. Setelah kepergian Daisy, Excel ingin memaki Daisy yang tidak peka. Harusnya Daisy basa-basi untuk menawarkan diri kek, ini sama sekali tidak peduli.


"Dasar gak peka!" maki Excel.


"Siapa yang tidak peka?" tanya Daisy saat mendengar ucapan Excel.

__ADS_1


"Tidak! Tidak ada. Kepala pelayan yang tidak peka, seharusnya dia menyiapkan keperluanku dengan baik. Ini malah tidak peka," kilah Excel. Mana mungkin Excel akan berani mengatakan bahwa yang sedang di maki adalah Daisy., bisa hancur dunia malam ini.


Dengan bantuan Kepala pelayan Excel memasuki kamar mandi. Rasanya begitu aneh saat Excel di tungguin oleh kepala pelayan yang hendak membantu membuka pakaiannya.


"Eiitss ... tunggu! Masa iya kamu mau liat aku mandi?" protes Excel.


"Ganti! aku gak mau kamu yang bantuin aku mandi!" lanjutnya lagi.


"Jadi anda ingin siap yang membantu anda untuk mandi? sebutkan saja pelayan siapa yang ingin anda tunjuk, Tuan." Kepala pelayan menyuruh Excel memilih salah satu diantara para pelayan.


"Dasar bodoh! Aku mempunyai istri, mana mungkin aku menyuruh pelayan untuk melayaniku. Sekarang tugas kamu katakan kepada istriku kalau kamu ternyata ada panggilan darurat dan suruh dia segera masuk agar aku tidak masuk angin. Bisa kan?"


Kepala pelayan mengangguk pelan. "Bisa Tuan. Saya akan yakin Nona untuk melayani anda dengan baik," pungkas Kepala pelayan.


"Bagus! Cepat kerjakan, jika tidak bisa-bisa aku beneran kedinginan."


.


.


.


.


.


🌹Bersambung 🌹


Hayo mana Jejaknya?? getok pakai palu nanti 🔨


Halo-halo ... aku datang lagi dengan satu novel bagus dari temen aku yang pastinya lebih bagus 😊 Mampir ya!


Judul Novel : CEO playboy terjerat Nona Hacker

__ADS_1


Author : Covievy



__ADS_2