Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 59


__ADS_3

Malam ini seperti ada yang kurang untuk Daisy. Meskipun dia belum lama tidur satu ranjang bersama dengan Excel, saat ini dia merasa kehilangan akan sosok yang menjadi selama ini menjadi gulingnya.


Tiba-tiba Daisy teringat akan ucapan Vie yang mengatakan bahwa sebagai kaum istri harus bisa mengambil hati seorang suami.


Daisy yang selama ini hanya memikirkan diri sendiri, tidak pernah memiliki rasa apapun terhadap orang lain, membuat dirinya sedikit tidak peka akan sosok Excel yang saat ini telah menjadi suaminya. Dia sadar bahwa selama ini dia telah banyak mengabaikan Excel. Bahkan untuk masak saja dia tidak bisa, apalagi untuk membereskan rumah seperti apa yang dikatakan oleh Vie.


Daisy bertekad akan mengikuti saran yang diberikan oleh Vie untuk menjadi sosok istri yang baik untuk suami. Mungkin dia juga harus belajar memasak agar bisa menyenangkan hati Excel.


Sebelum tidur, Daisy menyempatkan diri untuk melakukan panggilan video kepada Excel terlebih dahulu. Belum ada satu hari, tetapi dia sudah sangat merindukan lelaki dingin itu.


Bagaikan mendapat durian yang runtuh, Excel merasa sangat girang saat nama Daisy mengambang di layar ponselnya.


Tidak aku sangka, belum juga satu hari berpisah dia sudah merindukanku.


Excel segera mengangkat panggilan video dari Daisy. Dapat melihat dengan jelas wajah Daisy yang sangat cantik di layar ponselnya dengan baju tidur yang ia kenakan saat ini.


Ya ampun Syi, Kamu cantik sekali sih? coba aja kalau dekat, pasti sudah aku sikat. batin Excel.


Keduanya saling mengobrol bertukar kabar, meskipun baru saja bisa beberapa jam yang lalu berpisah.


Seperti layaknya seorang pasangan yang sedang LDR, keduanya sama-sama saling merindukan. Hampir 2 jam penuh, tetapi Daisy masih enggan untuk mengakhiri panggilan video mereka. Excel tidak merasa keberatan, dia dengan senang hati untuk menemani Daisy lewat panggilan video dan bersedia untuk menemani Daisy hingga tertidur.


Panggilan itu akhirnya terputus saat Excel melihat Daisy sudah memejamkan matanya. Dalam hati dia merasa bersyukur, meskipun dia sedikit geram atas kebodohan yang dimiliki oleh Daisy saat ini.


*****


Pagi ini ada yang kurang. Jika biasanya Daisy akan mendapatkan morning kiss, maka pagi ini akan terasa hampa. Tak ada morning kiss maupun ucapan selamat pagi dari Excel yang menyebalkan.


"Ah sial, mengapa aku menjadi bucin seperti ini sih?" gerutu Daisy.


Mina datang dengan membawakan satu gelas susu rasa vanilla untuk Daisy.

__ADS_1


"Selamat pagi Nona, mengapa anda belum turun ke bawah untuk sarapan?" tanya Mina.


Daisy hanya melihat gerakan Mina yang meletakkan susunya di atas nakas kemudian ia bertanya kepada Mina. "Mina, apakah aku terlalu bodoh?" tanya Daisy kepada Mina.


Mendengar pertanyaan konyol dari Nona-nya, Mina hanya membulatkan matanya saja. Apakah dia harus berkata jujur atau dia menutupi aib dari namanya sendiri. Jika harus jujur, Nona-ya memang bodoh dan keras kepala. Apakah itu jawaban yang harus Mina berikan kepada Nona-nya saat ini?


"Kenapa kamu terdiam, Mina?" tanya Daisy saat Mina tidak menjawab pertanyaan darinya.


Mina hanya bisa menelan kasar saliva-nya, dia tidak tahu apakah dengan jawabannya akan membuat kecewa Nona-nya nanti.


"Katakan saja dengan jujur atas penilaian mu terhadapku. Aku tidak akan marah ataupun tersinggung sama sekali," lanjut Daisy lagi.


"Baiklah Nona, saya akan katakan. namun, sebelumnya saya minta maaf jika apa yang saya katakan ini akan membuat anda kecewa karena anda sendiri yang memaksa saya untuk mengatakannya.


Sebenarnya anda tidak bodoh hanya saja kurang pintar sedikit lagi," jelas Mina, dengan rasa gugup.


"Berarti sama saja dong, aku memang bodoh," keluh Daisy.


"Baiklah kalau begitu. Jadi aku harus bagaimana agar aku menjadi lebih pintar? Apakah aku harus kuliah lagi?" tanya Daisy.


"Anda tidak perlu kuliah lagi, Nona. Namun, anda hanya perlu belajar dari kesalahan anda. Jika anda bisa memperbaiki semua kesalahan anda, saya yakin anda bisa menjadi yang lebih baik lagi," kata Mina.


Puas berbincang dengan Mina, Daisy mulai mengoreksi semua kesalahannya. Dia tidak tahu harus memulai dari mana, tetapi atas saran dari Mina, mulai saat ini dia harus menjadi seorang istri yang baik untuk Excel. Tidak boleh melawan apalagi melanggar larangannya.


"Apakah selama ini aku adalah istri yang pembangkang?" tanya Daisy.


****


Bodoh dan keras kepala, begitulah untuk menggambarkan sosok Daisy. Terlahir dari keluarga kaya raya membuatnya selalu dilayani oleh para pelayan yang ada di rumahnya, maka dari itu Daisy sama sekali tidak mengerti akan pekerjaan rumah.


Daisy yang selalu diberikan kebebasan, membuatnya menjadi sosok yang pembangkang, apalagi selama ini Daisy tidak memiliki teman. Bukan karena tanpa alasan, Daisy memang enggan bergaul dengan teman-temannya, karena menurut Daisy teman-temannya hanya akan memanfaatkan dirinya saja.

__ADS_1


Dengan tekad bulat, saat ini sudah berada di dapur. Meskipun dia ragu, tetapi dia harus bisa. Dengan berbekal sebuah ponsel yang menghubungkan ke aplikasi Hutub, Daisy mulai meracik apa yang akan dia eksekusi saat ini.


Beberapa pelayan menghampiri Daisy, tetapi Daisy meminta mereka tidak ikut campur. Daisy ingin membuktikan bahwa dia juga bisa masak seperti Vie, wanita yang baru saja ia kenal beberapa hari yang lalu.


Kata Vie, suami akan lebih senang jika dia memakan masakan dari sang istri ketimbang masakan pelayan ataupun makanan di luar sana. Itu sama halnya dengan pelayanan saat di atas ranjang. Jika seorang istri bisa memuaskan suami, maka bisa dipastikan bahwa suami tidak akan pernah mencoba barang di luar sana.


"Nona apakah anda sedang menginginkan sesuatu? Jika iya, biar kami buatkan," kata Mina saat melihat Daisy sudah mengajak adul dapur.


Daisy menatap jengah kepada para pelayan yang sedang mengerubungi dirinya. Padahal dia hanya ingin belajar memasak, tetapi mengapa mereka semua sangat khawatir pada dirinya. Apakah karena dia tidak bisa memasak? atau mereka takut jika Daisy akan membakar dapurnya seperti yang sudah berlalu?


"Aku hanya ingin belajar memasak. Apakah aku salah?"


Mina menghampiri Daisy lalu berkata, "Jika anda ingin belajar memasak anda, sini biar kami bantu. Kami akan senang hati untuk mengajari anda memasak," rayu Mina. Ia takut jika kejadian yang lalu akan terjadi lagi. Apa lagi saat ini tuan mereka sedang tidak ada di rumah.


"Benarkah?"


Daisy bahagia karena ternyata para pelayan merespon dengan baik keinginannya untuk belajar memasak. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita belajar bersungguh-sungguh. Saat Excel pulang nanti Daisy pastikan bahwa dia sudah bisa memasak masakan yang layak dimakan untuk Excel.


.


.


.


.


☕ Bersambung ☕


Selamat berjuang Daisy-ku yang rada O'on. Semoga kamu bisa pintar seperti Vie


.

__ADS_1


__ADS_2