
Setelah mengantarkan Daisy pulang ke rumah, Excel sekarang melaju kencang meninggalkan pekarangan rumahnya. Saat ini tujuannya adalah pergi ke markas. Excel yang mendapatkan kabar dari Sherly bahwa markas mereka telah kebobolan segera menuju ke sana. Ada beberapa barang berharga yang dibawa kabur oleh penyusup. Padahal barang tersebut akan menjadi barang transaksi untuk lusa. Sepertinya penyusup itu adalah orang dalam karena tidak akan mungkin orang luar bisa masuk ke dalam markas dan mengetahui di mana tempat orang berharga itu berada.
"Sial!" umpat Excel.
Saat dirinya telah berhasil meyakinkan sang istri dan ingin melepaskan rasa yang dia pendam selama ini, tetapi mengapa tiba-tiba ada masalah yang datang. Dengan seperti ini mana bisa Excel terbang ke angkasa, memikirkan saja sudah tidak mood lagi. Barang yang sulit didapatkan tiba-tiba harus raib begitu saja.
Sesampainya di markas Excel segera menatap satu persatu anak buah yang ya sudah dikumpulkan. Dengan tatapan mata yang memerah, satu persatu di antara mereka. Siapa yang tidak akan takut dengan sosok Excel yang sudah marah, mereka semua hanya tertunduk meskipun mereka tidak bersalah. Kali ini Excel benar-benar terlihat sangat murka.
"Katakan apakah diantara sudah tidak menyayangi nyawa kalian lagi? Aku tahu pelaku itu hanya diantara kalian yang ada di sini, karena tidak akan mungkin orang lain bisa masuk ke dalam! Jika bukan orang dalam, lalu siapa lagi? hanya orang-orang dalam yang tahu di mana letak senjata itu berada. Katakan dimana sekarang senjata itu berada atau detik ini juga nafas kalian akan berhenti berhembus!" ancam Excel dengan berapi-api
Tak ada yang mampu berkutik, semua anak buah hanya menunduk terdiam dengan tubuh yang sudah bergemetar meskipun mereka tidak bersalah.
Kemarahan Excel benar-benar sangat mengerikan, apalagi saat ini ia tengah mengelus senjatanya. Sebuah pistol yang selalu dia bawa kemana-mana.
"Cepat katakan atau peluru ini akan menembus kepala kalian semua!" seru Excel dengan penuh ancaman.
"Tuan, anda tenang dulu. Jangan gegabah!" pesan Sherly
"Bagaimana aku bisa tenang, barang itu sangat langka Sherly! Bukankah kamu tahu untuk mendapatkan senjata itu aku harus mengeluarkan modal yang tidak sedikit, bahkan aku harus berbulan-bulan untuk mendapatkan benda itu. Dan setelah benda itu akan kita buat transaksi, tiba-tiba hilang. Aku yakin pelakunya satu di antara mereka!" tegas Excel.
"Tetapi jika anda sampai salah langkah, kita malah tidak bisa mendapatkan benda itu lagi Tuan. Mohon anda tenang, kita cari dan kita selidiki sekarang." saran Sherly.
Excel menautkan alisnya, jika biasanya Sherly yang paling agresif untuk membasmi para penyusup, mengapa tiba-tiba dia malah terlihat lebih santai.
__ADS_1
Sekilas Excel mirip Sherly dengan penuh kecurigaan. "Apakah sekarang kamu sudah berani berkhianat?" tuduh Excel.
Sherly hanya bisa menautkan alisnya saja mengapa tiba-tiba Excel bisa menuduhnya seperti itu. Apakah dia sudah tidak percaya lagi dengan dirinya?
"Maksud tuan, Tuan mencurigai saya? Apakah saya terlihat seperti seorang pengkhianat di mata Tuan saat ini?"
Excel segera membuang muka. Karena terbawa emosi dia tidak bisa mengontrolnya dia malah mempunyai pikiran bahwa Sherly adalah pengkhianat itu.
"Lupakan saja!" ketus Excel.
Excel memberikan waktu 5 menit kepada para anak buahnya untuk mengakui dimana benda itu mereka sembunyikan. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan tak ada satu di antara mereka yang mau menyerahkan diri.
Excel perlahan mendekati mereka, satu persatu menatap mereka dengan tatapan membunuh. Sudah lama tangannya tidak bermain dengan pistol yang ia bawa ke mana-mana, tapi mungkin malam ini dia akan menjadi malaikat maut seorang penghianat.
Dengan mata yang memerah dan dada naik turun Excel segera memerintahkan anak buahnya untuk menangkap pelaku itu. Ternyata benar dugaan Excel. Penghianat itu ada disini, namun sayangnya dia telah lebih dulu dihabisi oleh seseorang. Excel tahu jika yang telah menghabisi penghianat itu adalah orang yang sudah telah meracuni pikirannya untuk menjadi seorang penghianat.
"Cepat cari orang tersebut! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya kalian harus menemukan orang itu!" teriak Excel.
Dengan sikap Sherly buahnya sudah mulai berpencar mencari pelaku yang telah menghabisi nyawa anak buah Excel.
"Nona Sherly, maafkan atas keteledoran kami yang tidak mengetahui jika selama ini kami berdampingan dengan seorang penghianat," ucap salah seorang anak buahnya.
"Tidak usah merasa bersalah, yang terpenting jangan pernah kalian mencoba untuk berkhianat kepada tuan Excel jika kalian masih mencintai nyawa kalian dan keluarga kalian, mengerti?!"
__ADS_1
"Saya mengerti Nona," balasnya.
Hingga dini hari Sherly dan anak buahnya tidak bisa menemukan pelaku tersebut. Lelah dengan pencarian yang tidak membuahkan hasil, Excel memilih meninggalkan markas terlebih dahulu. semua pekerjaan dia limpahkan kepada Sherly sepenuhnya.
"Aku tidak mau tahu bagaimana caranya dan aku menginginkan kabar baik besok pagi! Mengerti!" pesan Excel sebelum pergi.
Ya Tuhan, cobaan apalagi yang telah kau berikan? Baru saja kami ingin bernafas lega tiba-tiba kau kirimkan kekacauan kepada kami lagi. Aku sudah lelah, jika seperti ini, kapan aku memiliki waktu bersama dengan Kaisar? keluh Sherly dalam hati.
Sesampainya di rumah Excel telah melihat sang istri tertidur pulas. seperti biasa sebelum menyentuh sang istri dia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Karena dia tidak ingin menyentuh sang istri dalam keadaan tangan kotornya meskipun dia tidak menjadi malaikat maut malam ini.
Posisi tidur Daisy yang miring dan membuat sebagian daster tersingkap membuat Excel menelan kasar ludahnya. Pikirannya untuk terbang ke angkasa yang sudah dia lupakan tiba-tiba saja muncul kembali saat melihat Daisy. Excel yang sudah menahan diri selama hampir lebih 4 bulan, merasa sudah tidak tahan lagi. Apalagi saat ini baby Hazel dan baby Shereena sudah tidur di kamar mereka.
.
.
.
.
🌼 TERSAMBUNG 🌼
JANGAN LUPA TABURAN BUNGA DAN KOPI BIAR NGGAK KENA GETOK 🤕🔨
__ADS_1