
Karena merasa tidak sabar akhirnya Excel memilih menyambangi apartemen Sherly. Sudah hampir 1 jam lebih Excel menunggu kedatangan Sherly yang tak kunjung datang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Daisy terus menguap karena rasa kantuk yang menyerangnya. Saat Daisy melihat layar ponsel ternyata sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Dalam hati Daisy hanya membatin saja, mustahil jika Sherly bisa menemukan rujak di malam hari.
"Gak bisa ditahan sampai besok gitu ya keinginanmu? Malam-malam seperti ini sudah tidak ada orang yang berjualan rujak, Excel."
"Kamu jangan meragukan kemampuan Sherly. Sudah bertahun-tahun dia mengabdi kepadaku, belum sekalipun dia mengecewakan seorang Excel Word."
Baiklah, Daisy hanya memilih diam sambil memejamkan matanya. Mengapa orang nyidam kemauannya harus dituruti saat itu juga? Tidak bisakah si tunda dahulu? Memang merepotkan, beruntung saja bukan dirinya yang nyidam. Akan lebih baik jika Excel yang nyidam dan merasakan sakitnya saat melahirkan nanti.
Excel sudah menggenggam erat tangan Daisy saat mencari kamar Sherly berada. Excel sedikit lupa disebelah mana letak apartemen Sherly berada, karena Excel hanya sekali saja datang ke apartemen milik Sherly.
"Yang mana ya?" Excel terlihat kebingungan.
"Kamu gimana sih Cel? kalau gak tahu ngapain juga kita kesini?"
"Tenang dulu, aku tahu cuma lupa aja dimana letaknya."
Daisy menggerutu pelan. "Sama aja juga, Excel."
Pucuk dicinta ulampun tiba, begitu lah kata yang tepat untuk Excel, karena matanya bisa menangkap sosok Sherly yang berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Tuan, anda kenapa samai sini?" tanya Sherly terkejut.
"Pakai nanya lagi! Mana pesanan ku? Aku sudah jamuran menunggu pesanan tak kunjung datang!" ketus Excel.
"Maaf Tuan, tapi saya baru saja mendapatkan pesanan anda. Ini pesanannya." Sherly menyodorkan paper bag yang berisi rujak buatannya sendiri.
Dengan segera Excel menyambar lalu memeriksanya dengan teliti, takut-takut jika pesanan tidak sesuai dengan keinginannya.
Excel hanya bisa meneguk kasar ludahnya saat dalam bungkusan itu ada buah mangga muda yang dia inginkan.
"Kerja yang bagus. Ngomong-ngomong disebelah mana apartemen mu? aku mau makan rujak ini dulu," kata Excel.
"Tuan, lebih baik anda makan dahulu rujaknya, nanti keburu tidak enak," saran Sherly.
"Tapi ... tiba-tiba aku sudah tidak menginginkannya lagi dan aku sekarang menginginkan nasi goreng masakanmu. Aku tahu kalau kamu pandai masak."
Sherly ingin sekali menjerit. Ini adalah permintaan nyleneh dari Excel untuk yang kesekian kalinya. Daisy yang sedang hamil, Excel yang nyidam dan dirinya-lah yang harus tersiksa dengan keinginan aneh-aneh dari Excel. Belum lahir saja sudah membuat orang tersiksa, bagaimana kelak jika sudah lahir. Bisa-bisa semua keperluan bayi itu Sherly juga yang akan mempersiapkan.
"Tapi Tuan, ini sudah malam dan saya ingin beristirahat. Apakah lebih baik anda dan Nona juga beristirahat? Ingin menginap atau mau pulang?" Sherly berharap jika Excel segera pulang dari apartemennya.
"Kamu sudah berani mengusirku? cepat buat nasi gorengnya sebelum kamu aku makan!" ancam Excel.
__ADS_1
Tak asa pilihan lain selain menuruti kemauan Excel yang tidak masuk akal. Jika tahu akan seperti ini, Sherly tidak akan repot-repot untuk mencarikan buah-buahan demi untuk membuat rujak.
Dengan penuh rasa kesal, Sherly masak sambil mendumal saat dia melihat jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam.
Saat Sherly sedang merasa geram dengan perintah Excel yang se-enak jidatnya sendiri, Daisy malah sibuk menikmati rujak yang telah diabaikan oleh Excel.
Selama kehamilannya, Daisy merasa biasa saja, hanya mual di pagi hari dan selera makannya turun. Tak ada rasa untuk makan ini dan itu seperti yang Excel rasakan saat ini.
Sambil mengusap perutnya Daisy mengucapkan kata kepada calon anaknya. "Kamu jangan siksa Momy ya! Siksa saja Daddy-mu, agar dia tahu bagaimana rasanya wanita hamil."
.
.
.
.
☕ Bersambung ☕
Halo-halo, jangan lupa like dan komen-nya 💗
__ADS_1