
Sherly hanya bisa menundukkan kepalanya saat Excel memberondongnya dengan seribu pertanyaan. Padahal dia baru saja selesai melakukan rapat untuk menggantikan dia.
Hanya karena Sherly tidak mengangkat panggilannya Excel sampai marah besar kepada Sherly.
Saat ini suasana hati Excel sedang tidak baik. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, saat ini Daisy sedang hamil anaknya. Darah daging yang tak sengaja Excel semai di rahim Daisy.
Di kantor, Excel tidak bisa berkonsentrasi karena masalah kehamilan Daisy. Jika Daisy telah hamil, maka akan sulit untuk mereka berpisah kelak.
"Sherly, ke ruangan ku segera!" perintah Excel dari sambungan telepon.
Sherly segera menuju ruangan Excel dengan berbagai macam pertanyaan yang menggajal. Jika tadi dia tadi sempat mengatakan muak melihatnya karena tidak bisa diandalkan, lalu mengapa sekarang dia di panggil? Sherly sudah yakin jika akan ada perintah yang akan di turunkan untuk dirinya.
Setelah mengetuk pintu, Sherly segera menghadap dimana Excel sedang duduk.
"Ada apa Tuan memanggil ku?" tanya Sherly segera.
"Aku tarik kembali ucapan ku tadi. Maaf sudah emosi tadi."
Sherly masih bengong saat mendengar kata maaf dari mulut atasan. Selama dia mengabdi untuk Excel inilah pertama kalinya seorang Excel Word mengucapkan kata maaf.
"Kenapa? Ada masalah?" komentar Excel, saat tak ada jawaban dari Sherly.
"Oh ... Maafkan saya, Tuan. Jadi perintah apa yang akan Tuan berikan?"
__ADS_1
Excel tertawa pelan. "Kamu memang selalu bisa diandalkan."
Cih ... Tadi bilang A sekarang bilang B. Tapi maaf,aku tidak haus pujian. Aku hanya heran saja, mengapa dia berubah? Dan aku tidak melihat sosok Excel Word saat ini diwajah Excel.
"Aku mau kamu cari tahu sekarang juga dimana keberadaan Sysi berada!"
"Baik Tuan, saya akan kerahkan anak buah untuk mencari keberadaan Sysi."
"Satu lagi ... Belikan aku salas buah naga sekarang, tidak pakai lama!"
Sherly mendongak. Yang benar saja, dasar aneh, gerutu Sherly dalam hati.
Dengan berat hati Sherly menganguk dan segera mencarikan pesanan Excel. Sepanjang perjalanan Sherly hanya menggerutu kesal. Mengapa Excel berubah? Apa sebenarnya yang sedang terjadi kepada dia? Berbagai pertanyaan bersarang dalam pikiran.
"Permintaan aneh. Seperti orang ngidam aja."
Seketika Sherly menginjakkan rem secara mendadak saat menyadari ucapannya.
"Apa jangan-jangan Tuan Excel memang sedang ngidam. Apakah Nona Daisy saat ini sedang hamil? Tidak ... Tidak mungkin. Mana mungkin Tuna Excel mau menjamah Nona Daisy. Dia tidak mencintai Nona Daisy. Hatinya hanya untuk wanita yang bernama Sysi."
Sherly menggeleng pelan, seolah ingin menepis dugaan. Tetapi rasa penasaran itu kian memuncak saat dia mengingat permintaan nyeleneh dari Tuan-nya.
Kemarin meminta yang segera-segar, makan mangga muda san sekarang ... salad.
__ADS_1
"Jika benar begitu, lalu untuk apa dia memerintahkanku untuk mencari keberadaan Sysi?"
Sherly segera menginjakkan gasnya kembali. Dia tidak sabar untuk menanyakan keganjilan dalam pikirannya. Jika memang Daisy sedang hamil, untuk apa lagi mencari wanita yang tidak tahu keberadaan.
Sesampainya di kantor ternyata Excel sedang makan siang. Sherly segera memberikan salad permintaan tadi.
"Maaf Tuan, ini permintaan anda."
Sherly meletakkan 20 bungkus salad buah naga di meja Excel.
Dengan santai Excel menjawab, "Apakah kamu tidak tahu jika aku sedang makan? Sudahlah ambil saja untukmu semua. Aku sudah tidak menginginkannya."
🌹 Bersambung 🌹
Jangan lupa jejaknya 🥰
Maaf kalau bab ini pendek ☺️
Oh, iya selagi menunggu othor up lagi, singgah dulu ke novel temen othor ya
Judul Novel : Truly Madly Love
Author : Triple.1
__ADS_1