
Setelah Daisy lebih tenang, ingin sekali Excel menanyakan siapa Alex yang baru saja ia sebut tetapi lidah sangat kelu.
"Ada apa?" tanya Daisy kala ia sadar jika Excel terus memperhatikannya.
"Tidak ada! Tidurlah lagi, masih malam. Lampu juga sudah menyala, tak perlu takut lagi," ujar Excel.
Excel salah tingkah, ia pun berniat untuk tak memperlihatkan wajahnya kepada Daisy, namun saat ia hendak turun dari ranjang tangannya di tahan oleh Daisy.
"Mau kemana?"
Excel tak menjawab, ia hanya melihat tangannya yang sedang di cekal oleh Daisy. Sadar akan hal itu Daisy segera melepaskan cekalan-nya. "Maaf."
"Aku hanya ingin ke kamar mandi sebentar. Apakah kamu mau ikut?"
Daisy menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tapi aku takut."
"Takut apalagi? Lampu sudah hidup! Biasanya juga di kamar sendirian. Apakah kamu hanya berpura-pura untuk mendapatkan perhatianku? Dasar wanita mura-..." Excel tak melanjutkan ucapannya saat Daisy merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur dan menarik selimutnya.
Sesaat Excel menyadari akan lidahnya yang terlalu lincah untuk mengeluarkan kata-kata manis hingga membuat Daisy merasa tersinggung.
Hatinya bimbingan antara ingin meminta maaf atau acuh. Mau berapa kali dia minta maaf kepada Daisy. Wanita memang merepotkan, salah sedikit ngambek. Itulah alasan Excel selalu menjauhi wanita dan tetap menunggu Sysi. Karena hanya dia satu-satunya yang bisa mengerti akan dirinya.
Saat ingin beranjak keluar, hatinya berat. Excel bisa melihat dengan jelas jika saat ini Daisy sedang menangis. Excel paling tidak suka jika melihat seorang wanita menangis.
"Kamu menangis? Sudahlah kamu lupakan saja ucapkan tadi. Aku tidak bermaksud untuk memaki mu, tadi. Lidahku hanya lepas kendali."
Tak ada jawaban dari Daisy malahan suara isaknya semakin terdengar membuat Excel tidak tahu harus berbuat apalagi.
"Daisy please, jangan nangis. Aku benci orang yang cengeng!" Excel sedikit membentak.
__ADS_1
Daisy langsung menyibakkan selimutnya, tanpa kata ia pergi meninggalkan kamar tersebut.
Hatinya sangat sakit dengan ucapan Excel yang nylekit hingga ke ulu hati.
"Lha, malah pergi." Excel menautkan alisnya lalu mengejar Daisy yang saat ini sedang keluar dari areal rumah belakang.
"Dasar wanita suka kabur-kaburan," gerutu Excel.
Daisy memilih untuk pergi ke kamarnya sendiri. Niatnya ingin menenangkan hati dan pikiran nyatanya malah semakin menambah sesak di dadanya.
Di balik pintu Daisy menangisi akan nasib yang sedang menimpa dirinya. Ditambah lagi dengan kejadian yang baru saja dia alami. Mimpi buruk yang akan selalu datang saat dirinya sangat merasa ketakutan. Mimpi yang sudah menghancurkan impiannya semasa kecil.
Dari luar Excel menggedor pintu dan memanggil nama Daisy, berharap wanita itu akan membuka pintu untuk dirinya.
"Daisy, buka pintunya. Baiklah aku minta maaf atas ucapan ku tadi. Tapi tolong jangan menangis. Aku tidak suka jika melihat seorang wanita menangis," teriak Excel dari luar.
Lama tak ada jawaban dari Daisy membuat Excel nekat ingin mendobrak pintunya.
Sepertinya ancaman Excel berhasil dan saat ini pintu sudah di buka. Tanpa pikir panjang lagi Excel segera menyelonong masuk kedalam.
"Mau apa lagi kamu kesini? Apakah kamu belum puas untuk mencaci maki ku? Kalau niat mu hanya untuk memarahi atau berdebat aju mohon, pergilah. Aku ingin sendiri," kata Daisy setengah berapi-api.
Excel menghembuskan nafasnya secara kasar. Kali ini dia harus berusaha sabar saat teringat akan tujuan awalnya. Dia tidak boleh membuat Daisy marah atau tertekan.
"Duduklah dulu, kita harus bicara sebentar," pinta Excel.
Daisy duduk di pinggir tempat tidur, sementara Excel masih berdiri di depannya.
"Baiklah aku minta maaf jika sudah kasar terhadapmu. Aku tahu jika saat ini kamu sedang hamil. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan bertanggungjawab untuk mengakui dia adalah pewarisku selanjutnya. Aku juga tidak akan melampiaskan dendam ini kepadamu tetapi setelah anak itu lahir, pergi menjauh dari anak itu."
__ADS_1
Hati yang masih terluka seperti mendapatkan siraman air garam saat Excel mengatakan agar Daisy menjauh dari anaknya. Siapa yang hamil, siapa yang mengandung, siapa yang melahirkan. Tiba-tiba dengan seenak jidatnya harus meninggalkan anak tersebut. Teori gila yang pernah Daisy terima. Jika hanya untuk melahirkan anak, mengapa tidak menyewa rahim wanita lain saja?
"Kamu sudah gila Excel! Sampai matipun aku tidak akan pernah meninggalkan anakku."
"Tapi dia anakku, Daisy!"
"Kamu gila Excel! Keluarlah, aku ingin sendiri."
"Tidak! Aku ingin disini!"
"Kamu benar-benar gila dan membuatku gila, Excel!"
.
.
.
.
🌹 Bersambung 🌹
Halo-halo aku datang lagi 🥰 minta kopi biar gak ngantuk 🤭
Selagi menunggu aku up lagi mampir dulu ke karya temen aku ya
Judul Novel : Aku Di antar Mereka
Author : Asyifa
__ADS_1
Mampir ya!