Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 70


__ADS_3

Di dalam sebuah ruang kerja, Kaisar masih terngiang-ngiang atas insiden yang menimpa dirinya kemarin. Sungguh hal yang sangat memalukan seumur hidupnya. Hancur sudah harga dirinya sebagai seorang laki-laki di hadapan Sherly. Bagaimana bisa dia menunjukkan kelemahannya di hadapan wanita itu, bisa-bisa wanita itu menjadi besar kepala dan meremehkan dirinya.


"Arrhh ... sial! kenapa juga harus terjebak satu lift dengan wanita itu sih? Harga diriku sebagai seorang Kaisar benar-benar sudah tercoreng." Kaisar terus mengumpat di dalam ruang kerjanya.


Satu kejadian yang membuat Kaisar tidak bisa melupakan seumur hidupnya. Dimana dia memohon kepada Sherly untuk terus memeluknya. Lima jam berada di dalam lift yang rusak bukanlah waktu yang sebentar. keduanya merasakan sangat gerah dan panas. oksigen yang masuk pun juga tidak ada sehingga keduanya merasa sesak. Beruntung saja keduanya tidak memiliki riwayat penyakit asma. Jika ada, kemungkinan nyawanya tidak akan bisa terselamatkan.


"Astaga ... kenapa bayangan wanita itu memenuhi isi kepalaku saat ini?" keluh Kaisar dengan rasa kesal.


Sherly bukanlah wanita idamannya, selain tidak anggun bentuk tubuh Sherly juga kurang menarik apalagi bagian dadanya yang datar.


"Lama-lama aku bisa gila kalau terus memikirkan wanita itu."


Kaisar tidak ingin terus-menerus memikirkan Sherly, dia pun memilih meninggalkan ruang kerjanya untuk menuju kantin. Mungkin Kaisar bisa merefresh isi kepalanya dengan secangkir kopi.


***


Di lain sisi, Sherly tengah berkutat dengan tumpukan map yang berisi file untuk meeting nanti siang. Baru juga satu hari Sherly tidak memegang pekerjaan, pekerjaannya sudah sangat numpuk. Sebenarnya dia tidak tahu bagaimana cara Excel menghandle pekerjaannya sendiri. Apa jadinya kelak jika sudah berkeluarga dan memilih resign dari pekerjaan ini, mungkin pekerjaan Excel semuanya akan terbengkalai.


"Baru juga kemarin aku nggak megang pekerjaan, udah numpuk aja," gerutu Sherly.


Hari ini Sherly harus mengabaikan jadwal makan siangnya karena tuntutan pekerjaan yang harus dia siapkan secepatnya. Berbeda dengan Excel, lelaki itu malah sedang asyik menikmati bekal makan siangnya yang sudah disiapkan oleh sang istri.


Untuk menemani makan siangnya, Excel menghidupkan televisi yang ada di ruangannya. Memang tidak ada berita yang menarik, tetapi Excel ingin mengetahui lebih dalam bagaimana berita di luar sana. saat dia memencet sebuah channel, matanya langsung membulat. Sebuah berita besar mengatakan bahwa Mishelle telah berhasil di bebaskan oleh seseorang dari penjara. Tidak tahu pasti siapa dia, karena di dalam berita itu hanya menayangkan sekilas berita tentang Mischelle.


Dada Excel sudah naik turun untuk mengatur nafasnya. Tangannya mengepal dengan gigi yang menggeretak. Tanpa sadar tangan Excel menggebrak meja yang ada di hadapannya.


"Ku.rang ajar!" Excel terlihat sangat emosi.

__ADS_1


Saat itu juga dia langsung segera menghubungi Sherly. Excel tidak terima jika Mischelle lepas begitu saja. Meskipun dia tidak tahu siapa dalang dibalik semua ini, tetapi Excel yakin jika pelakunya tak lain adalah Felix. Karena beberapa hari terakhir ini tikus itulah yang sedang ingin bermain dengannya.


"Sherly cepat datang ke ruangan ku sekarang juga!" titah Excel dari teleponnya.


Sherly yang mengangkat telepon sedikit menjauhkan ponselnya karena suara Excel begitu nyaring di telinganya. Belum sempat Sherly menjawab, panggilan itu sudah terputus begitu saja.


"Kebiasaan, belum juga dijawab sudah dimatikan saja," gerutu Sherly.


Tidak ingin membuat Excel menunggu lebih lama, Sherly segera beranjak menuju ruangan Excel. Sepanjang perjalanan Sherly terus menduga-duga jika ada masalah yang sangat serius yang harus segera ditanganinya. Jika tidak, tidak mungkin Excel akan langsung segera mematikan panggilan teleponnya.


"Ada apa Tuan," tanya Sherly.


Excel belum menjawab dia masih duduk di sofa dengan gusar. "Coba kamu lihat itu!" perintah Excel sambil menunjukkan sebuah berita yang ada di televisi.


Dengan mata membulat dan segera Sherly menangkupa mulutnya dengan kedua tangannya. Seakan tidak percaya bahwa berita itu benar.


"Aku tidak tahu. Jadi tugas kamu sekarang adalah menyelidikinya cari kemanapun inisial berada! Bahkan jika sampai Ke ujung dunia harus kamu kejar sekarang juga!" perintah Excel dengan marah.


Sherly hanya bisa mengangguk pelan. Tugasnya menjadi tangan kanan seorang Excel tidaklah mudah. Masalah pekerjaan kantor saja belum dia siapkan dan saat ini dia sudah mendapatkan pekerjaan baru.


"Baik Tuan, anda tidak perlu khawatir. Masalah ini akan saya selidiki secepatnya," ucap Sherly dengan sungguh-sungguh. Meskipun saat ini Sherly tidak tahu di mana keberadaan Mischelle, tetapi dia akan berusaha untuk mengerahkan anak buahnya terlebih dahulu. Koneksi Sherly yang luas tidak akan pernah menghambatnya dalam melakukan penyelidikan. Terbukti semua pekerjaan dari Excel bisa dia selesaikan dengan cepat.


"Bagus! aku sangat mengharapkan kabar baik itu."


***


Sepertinya hidup Excel jauh dari kata tenang. Satu masalah belum selesai, sudah timbul lagi masalah baru. Jika kehidupannya terus menerus seperti ini, bagaimana kelak dia akan memberikan kebahagiaan kepada anak dan istrinya. Apalagi usia kandungan istrinya saat ini sudah memasuki bulan ke lima, itu berarti tinggal empat bulan lagi istrinya akan melahirkan.

__ADS_1


Excel memijit batang hidungnya kali ini pikirannya benar-benar sangat runyam. jika dia masih sendiri, dia masih bisa bebas. Namun, nyatanya saat ini harus ada tiga nyawa yang harus dia lindungi. Terkadang Excel berpikir ingin membawa Daisy ke luar negeri agar bisa merasakan hidup yang aman dan tentram tanpa adanya teror dari tikus-tikus kecil.


"Felix tunggu saja kau!"


Meskipun Excel tidak tahu siapa pelakunya, tetapi feeling Excel mengatakan bahwa pelakunya adalah Felix. Karena selama ini hanya dia yang berani mencari masalah secara terang-terangan dengan dirinya.


***


Sherly yang baru saja ingin menjalankan perintah dari Excel, tiba-tiba saja dia teringat kepada kaisar. Sherly tersenyum tipis saat dia mengingat kejadian kemarin, di mana tubuhnya dipeluk erat oleh kaisar. Seumur hidupnya, tak ada lelaki yang berani menyentuh dirinya kecuali Kaisar. Namun, tiba-tiba kesadarannya kembali. Sherly segera menepis bayangan tentang Kaisar. Bagaimana mungkin dia bisa memikirkan seorang laki-laki.


"Ini pasti sudah gila." Sherly mengetuk kepalanya sendiri.


Tidak ingin terlalu lama memikirkan tentang Kaisar syarat pun memilih segera berlalu untuk menjalankan perintah dari Excel. Dia tidak ingin mengecewakan Excel yang sudah memberikannya hidup layak hingga sampai saat ini. Perjalanan yang sangat panjang dan menyakitkan untuk seorang Sherly untuk bisa bertahan, enggak suatu saat Excel datang bagaikan malaikat untuk menolong dirinya.


.


.


.


🌼 BERSAMBUNG 🌼


Guys ada kabar baru nih, novel Jerat Hasrat Sang CEO sudah ada Audio-nya loh. Cuss dukung Audionya ya, yang di dubber oleh Kak PIMOY, dengan cara FAVORITKAN, LIKE, BERI HADIAH DAN JUGA BERI VOTE. Terimakasih 🙏 atas kesetiaan kalian semua.


umah umah umah 🥰🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2