Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 21


__ADS_3

Sesampainya di kantor Excel segera menyuruh office boy untuk mengupas mangga hasil colongannya dengan bangga.


"Bersihkan sekarang juga!" perintah Excel.


Office boy yang mendapatkan titah hanya bisa menautkan alisnya melihat mangga yang di bawa bos-nya adalah mangga muda.


"Serius ini, Pak?"


"Kamu meragukan ku? Sejak kapan aku suka bercanda?"


Sang office boy langsung membersihkan mangga muda hasil colongannya dengan cepat karena Excel hanya memberikan waktu satu menit untuk membersihkan lima buah mangga muda yang membuat gigi ngilu.


"Bisa lebih cepat sedikit tidak?"


"Iy-iya, Pak. Ini juga sudah mau siap. Di potong atau dibiarkan begini saja?"


"Kamu potong sekalian dan juga bikinkan cabe giling. Gak pake lama!"


Lagi-lagi office boy hanya bisa menautkan alisnya. Selama dia mengabdi di perusahaan ini baru kali ini bos-nya bertingkah aneh seperti ini.


"Tapi disini tidak ada gilingannya, Pak. Bagaimana jika garam saja. Ini juga cocok kok buat makan mangga muda," tawar office boy.


"Ya sudah sini!"


Excel memakan begitu saja mangga muda dengan garam tanpa mengeluh masam ataupun ngilu. Sementara office boy hanya bergidik sambil menahan air liurnya saat melihat bos-nya dengan santai menikmati mangga muda.


Lima buah habis dalam waktu yang singkat. Sebelum pergi Excel sempet berpesan kepada office boy untuk membelikan salad buah naga gak pakai lama.


"Sekarang atau nanti Pak?"


"Tahun depan! Ya sekarang lah!" sentak Excel.


*****


Di dalam ruang kerjanya Excel tidak bisa konsentrasi dengan penuh. Tak seperti biasanya, mata Excel terasa berat saat berada di depan laptopnya dan memanggil Sherly untuk mengerjakan pekerjaan. Sementara dia duduk di sofa sambil menikmati salad buah naga yang baru saja diantar oleh office boy.


Sekali Sherly hanya melirik bos-nya yang terlihat aneh hari ini. Sikapnya tidak seperti sosok Excel yang dia kenal selama ini.

__ADS_1


"Sherly, bisa buatkan aku orenge jus? Aku haus?"


Sherly yang sibuk di depan laptop mendengus kesal terhadap bos-nya. "Maaf Bos, saya sedang sibuk. Telepon saja office boy."


Excel membuang kasar nafasnya sebelum menghubungi office boy untuk membuatkan orange jus. Sherly tak percaya bahwa ucapan akan di setujui begitu saja. Padahal dia hanya asal berbicara saja.


Sementara itu di salah satu ruangan, dua orang sedang berbicara sangat serius. Dia adalah Felix, anak dari pemilik Maxion group. Satu-satunya perusahaan yang tidak ingin bekerjasama dengan Ex group. Maxion group adalah perusahaan yang terbesar setelah Ex group.


"Jadi bagian rencana anda selanjutnya?" tanya Felix.


"Aku ingin kamu memisahkan putriku dari ba.ji.ngan itu. Aku sudah lelah dengan semua drama ini," ucap Arathorn.


"Lalu apa yang akan aku dapatkan? Putrimu yang tidak perawan lagi?" sinis Felix.


"Jadi kamu menginginkan apa dariku?"


Keduanya saling bertukar pikiran, merancang strategi untuk menghancurkan Ex group dan juga Excel yang selama ini menguasai dunia pembisnisan hingga tidak celah untuk Maxion group tampil, meskipun performa perusahaan jauh lebih baik dari pada Milik Excel.


"Excel, aku datang. Tapi kali ini jangan harap kamu akan menang."


Hampir satu hari berada di kantor tetapi Excel tidak menjamah pekerjaan sama sekali. Dia hanya duduk santai dan menikmati makanan yang dia pesan. Tepat pukul lima sore, Excel sudah bersiap untuk meningkatkan kantor, tetapi tidak dengan Sherly yang masih berkutat di depan laptop milik bos-nya.


Sherly membulatkan matanya saat Excel telah berlalu meninggalkan dirinya di dalam ruang kerjanya.


"Tuhan, apakah ada jin sedang menempel pada tubuh Tuan Excel? Apakah perkelahian kemarin kepala Tuan Excel terbentur? Mengapa hari ini dia sangat aneh?" Sherly hanya bisa mendumal saat Excel telah pergi. Malam ini terpaksa Sherly harus lembur untuk menyelesaikan tugas milik bos-nya. Beruntung malam ini tidak ada agenda di markas sehingga Sherly bisa leluasa untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.


Sesampainya di rumah Excel segera mencari kepala pelayan untuk mereques makan malamnya. Kali ini Excel memilih makanan yang berbeda dari biasanya. Entah mendapatkan ide dari mana saat Excel meminta makanan harus di hidangkan hanya menggunakan daun pisang saja. Bagaimana caranya bisa mendapatkan daun pisang sementara pohonnya saja tidak ia tanam.


"Tuan, dari mana saya akan mendapatkan daun pisang, sementara kita tinggal di kota metropolitan seperti ini?" protes kepala pelayan.


"Aku tidak tahu. Itu tugas kalian! Oh iya, dimana wanita itu?"


"Maksud anda, Nona Daisy?"


"Jadi maksud kamu aku menanyakan para pelayan? Untuk apa?"


Kepala pelayan menunduk sambil mengucapkan kata maaf telah lancang. Dia juga memberi tahu jika Daisy berada di dalam kamarnya selama satu hari tanpa ingin makan sedikit pun.

__ADS_1


"Kenapa bisa tidak makan? Bukankah tadi aku sudah memerintahkan Tanu untuk menyuruhnya untuk makan?"


"Tetapi Nona Daisy tidak mau makan, Tuan. Dia hanya mengkonsumsi susu. Mungkin karena itu dia kenyang."


Excel tidak ingin mendengar panjang lebar penjelasan dari kepala pelayan. Saat ini tubuhnua sudah lengket dan ingin segera mandi.


Berkat kecekatan para pelayan, permintaan Excel talah selesai meskipun harus saling mengejar waktu.


Namun, saat hendak menyantap makan malamnya seperti ada yang kurang. Hatinya terasa sangat kosong mana kala ia tak melihat satupun orang yang duduk bersama dirinya di meja makan. Hal ini sudah terjadi selama bertahun-tahun dan Excel baik-baik saja, tetapi mengapa mendadak Excel merasa sakit saat melihat tak ada satu orang pun yang turut menemaninya untuk makan.


Mata Excel menangkap saat Daisy berjalan menuju dapur sambil membawa gelas kosong. Meskipun kata pelayan dia tidak makan, tetapi wajah tidak pucat.


"Berhenti!" cegah Excel.


Daisy-pun berhenti.


"Duduk!" perintah Excel.


Bak seperti robot, Daisy menuruti perintah Excel untuk duduk di depannya.


"Makan!" perintahnya lagi.


Namun, untuk kali ini Daisy menolak untuk makan. Daisy pun menautkan alisnya saat melihat hidangan di atas meja semua beralas daun dan lebih parahnya semua makanan di kukus. Apakah Excel yang kaya raya ini takut uangnya akan habis untuk membeli minyak goreng? Atau memang sebenarnya dia itu pelit?


"Kenapa tidak mau makan? Mau mati?"


"Tidak! Aku tidak lapar. Jika sudah tidak ada perlu aku permisi," ucap Daisy.


"Aku belum menyuruhmu untuk pergi, tetaplah disini untuk menemaniku untuk makan." Suara Excel melemah di akhir kata.


.


.


.


🌹 Bersambung 🌹

__ADS_1


Hayo mana jejaknya 🥰 boleh dong tinggalkan Vote, mawar dan kopinya 🤭🤭🥰🥰


__ADS_2