Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 35


__ADS_3

Daisy hanya bisa menatap kepergian Excel sedang perasaan tak menentu. Ingin mengatakan kata jangan pergi tatapi lidahnya sangat kelu. Namun, bukankan sudah biasa jika Excel keluar malam? lalu untuk apa Daisy merasa sangat khawatir?


Bukan hanya Daisy saja yang merasa sangat berat, Excel juga merasakan hal yang sama. Dimana dirinya ragu antara ingin pergi atau tidak, tetapi dia sudah mengatakan akan datang malam ini. Excel bukanlah seorang yang pengecut, dia akan tetap datang bagaimanapun tentang perasaan hatinya.


Dari dalam mobil, Excel bisa melihat wajah sendu Daisy yang mengantarkannya sampai di teras rumah. Entah mengapa desiran hatinya semakin menjalar ke seluruh tubuhnya. Excel benar-benar sangat tidak rela untuk meningkatkan Daisy saat ini.


Daisy yang hendak masuk kedalam, tiba-tiba lengannya di tarik dari belakang. Dengan sigap Excel segera memeluk tubuh Daisy yang masih dalam keterkejutan.


Dalam dan erat, begitulah Excel memeluk tubuh Vie.


"Ijinkan untuk sebentar saja," lirih Excel saat Daisy memberontak.


Aroma tubuh Excel mampu menggetarkan seluruh tubuh Daisy. Sensasi kupu-kupu sedang beterbangan di perut Daisy.


"Sy ... percayalah, aku pasti akan segera pulang. Tetapi jika aku tidak pulang sampai pagi, kamu jangan khawatir! aku pasti akan baik-baik saja," bisik Excel.


Lama keduanya berpelukan. Munafik jika Daisy tidak ingin membalas pelukan dari Excel.


"Ah, aku lupa. Mana mungkin kamu akan peduli denganku." Excel melepaskan pelukannya lalu tangan berpindah untuk mengelus perut Daisy pelan.


"Daddy pergi dulu, kamu baik-baik ya, Nak."


Daisy hanya bisa memejamkan matanya. Mendadak hatinya merasa terenyuh saat mendapatkan sentuhan lembut dari tangan Excel.


"Excel ... hati-hati." Meskipun berat akhirnya mulut Daisy mengeluarkan sebuah kata yang tak terduga.


"Aku pasti akan berhati-hati. Masuklah, dan tidur di kamar kita. Aku akan segera pulang."


Setelah mengucapkan kata tersebut Excel baru bisa sedikit lebih tenang untuk melakukan perjalanan malam ini. Biasanya jika Excel akan pergi tinggal pergi saja tanpa ingin berpamitan ataupun akan merasa berat untuk pergi. Namun, setelah mengetahui jika Daisy adalah Sysi, Excel merasa berat saat ingin meninggalkan Daisy.


Mobil telah meninggalkan pekarangan rumah. Setelah mobil itu sudah benar-benar pergi, Daisy keluar dari balik pintu. Ternyata Daisy bersembunyi untuk bisa melihat kepergian Excel.


"Kenapa dadaku sesak, ya?" gumam Daisy.


"Excel ... kenapa hatiku tak merelakan kepergian mu malam ini? Tuhan ... lindungi Excel di manapun dia berada malam ini."


Mobil Excel melaju kencang melewati jalan yang sepi. Entah mengapa pertemuan malam ini dilakukan di batas kota. Sherly dan beberapa anak buahnya sudah tiba lebih awal, sedangkan Excel datang terlambat karena dia sempat makan malam bersama Daisy untuk yang pertama kalinya.

__ADS_1


Satu pesan dari Sherly mengambang di ponselnya. [ Tuan, anda dimana? mereka tidak terima dan tidak mau bernegosiasi. Cepatlah anda datang! Saya tidak bisa melakukan perlawanan ]


Setelah membaca pesan dari Sherly, Excel segera menambah kecepatan laju mobilnya dan berharap segera sampai di tujuan.


Perasaan Excel sudah tidak tenang. Dia segera mengerahkan lagi anak buahnya untuk menuju lokasi meskipun harus memakan waktu sedikit lama. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.


Sherly tidak bisa berkutik lagi saat dia dan anak buahnya sudah mulai di kepung. Namun, sedikit pun Sherly tidak merasa takut.


"Mengapa kamu ingin mempermainkan harga jual? bukankah itu barang palsu?" bentak seorang lelaki yang bertubuh tegap.


"Maaf Tuan, ini barang asli. Kami tidak pernah menjual barang palsu dan ini barang asli dari New York."


"Aku tidak percaya jika tidak melihatnya secara menyeluruh!"


"Tetapi, sesuai kesepakatan, anda tidak bisa memegang barang jika anda belum memberikan uang. Jika anda tidak mampu membayar urungkan niat anda untuk membeli barang dari kami. Masih banyak orang yang mau membeli barang ini," jelas Sherly.


Lelaki yang bertubuh tegap merasa tidak setuju atas ucapan Sherly yang dianggap sudah merendahkannya.


"Jaga mulutmu!" bentaknya.


"Kamu pikir kami akan takut dengan kalian? Kamu tidak tahu jika jumlah kami lebih banyak daripada jumlah kalian? Apakah kamu sudah bersiap untuk melihat surga? Jika kamu tidak belum siap melihat surga maka perlihatkan dengan jelas terlebih dahulu benda itu!"


Sherly mencoba untuk tetap tenang. Ia sangat berharap jika Excel akan segera datang. Tidak mungkin jika Sherly akan melakukan perlawanan, sedangkan anak buah yang dia bawa tak sebanding dengan anak buah lawan.


"Maaf Tuan, kami tidak akan menyalahi ketentuan yang berlaku. Dan ini berlaku untuk semua konsumen kami, termasuk anda Jadi ... mohon tetap hargai keputusan yang sudah kami terapkan."


"Persetan dengan keputusan yang kalian buat! aku hanya ingin melihat barangnya!" bentak lelaki kekar itu.


Karena Sherly berteguh erat pada keputusan yang sudah di jalankan selama ini, dia tak mengindahkan ucapan lawan.


Tidak terima atas perlakuan tersebut, pihak lawan menantang dengan arogant.


Tuan Excel, anda dimana?


Tak bisa terelakkan lagi perkelahian terjadi. Karena jumlah anak buah yang tak sepadan, Sherly merasa sangat kewalahan saat mengahadapi lawan yang membabi buta.


Satu persatu anak buah yang dibawa telah tersungkur. Begitu juga dengan Sherly yang beberapa kali perutnya terkena tendangan dari lawan.

__ADS_1


Disaat yang bersamaan Excel datang dengan wajah yang memerah. Dia tidak terima saat melihat Sherly di menjadi mangsa mereka.


Satu letusan senjata Excel mampu mengalihkan pandangan lawan kepada dirinya.


Sambil menghadang-kan pistol, Excel menantang satu persatu dari lawan.


"Kalian pengecut!" bentak Excel.


"Cih ... kau yang pengecut Excel. Kau gunakan senjata mu untuk menghabisi lawan, sementara awan hanya menggunakan tangan kosong saja," sinis lelaki bertubuh tegap.


"Kalian dari kelompok mana, sudah berani menantang ku? apakah kalian susah bosan hidup?" cecar Excel.


Excel yang sudah naik pitam segera menghajar satu persatu lawan yang ada di depannya tanpa kenal ampun. Semua mereka sikat begitu saja, tatapi karena lawan mereka jumlah lebih banyak Excel tanpa sengaja terkena pukul dari belakang yang membuat tubuh jatuh ke tanah. Dari situ Kesempatan emas untuk mengajar Excel dengan mudah.


Excel tidak bisa bangkit untuk melawan. Berbagai pukulan dan tendangan menghujani tubuhnya hingga darah segar keluar dari mulut Excel.


Sherly yang masih melakukan perlawanan sangat khawatir akan Tuan-nya yang sudah di mangsa oleh lawan.


Tuan, bertahanlah. Anak buah kita sebentar lagi sampai.


Sherly terlena hingga satu pukulan mengenai tubuhnya. Sama seperti Excel, Sherly tidak bisa bangkit untuk melawan. Berbagai pukulan ia terima. Sebelum matanya menutup, Sherly bisa melihat jika bala bantuannya telah datang.


.


.


.


.


🌹Bersambung 🌹


Terimakasih yang untuk kalian yang sudah setia dengan cerita receh ini. Jangan tinggalin jejaknya 🥰


Selagi menunggu aku up lagi mampir dulu gih, ke karya salah satu temen aku ya!


Judul Novel : Dendam ( Aku bukan bayangan )

__ADS_1


Author : Neng Syantik



__ADS_2