
"Iya, Nona. Tuan sudah menunggu anda. Asal anda tahu, inilah kali pertama Tuan bersikap manis kepada wanita. Sepertinya anda sudah bisa melunakkan hati Tuan Excel, Nona. Saya sangat salut dengan anda. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."
Mina sangat bahagia saat Tuan-nya sudah bisa bersikap manis kepada Daisy. Namun, tidak dengan Daisy yang sama sekali tidak tertarik dengan ucapan Mina. Hatinya masih sakit. Jika Daisy tahu Mina telah bersekongkol dengan Excel, dia tidak akan pernah mau untuk jalan. Mending dia berada di dalam kamar dari pada harus bertemu dengan Excel. Saat ini hatinya belum bisa menerima kenyataan jika Excel adalah Alex.
"Kamu saja yang turun! Aku tidak mau menemui dia," ketus Daisy.
Mina menautkan alisnya. Disaat para wanita sangat mendambakan perlakuan manis dari seorang Excel, istrinya sendiri malah acuh.
"Tapi Tuan sudah menunggu anda, Nona," bujuk Mina.
"Aku tidak mau, Mina! Jika kamu memaksa aku tidak akan pernah mau menganggap kamu lagi!" ancam Daisy.
Mina membulatkan matanya seraya menelan kasar ludahnya. Dua pilihan yang sangat sulit. Dia tidak bisa membantah perintah Excel, tetapi dia juga tidak bisa memaksa Daisy.
"Nona, tolonglah. Apakah anda tidak kasihan kepada saya? Jika anda tidak menemui Tuan Excel, bisa-bisa saya kena gantung di Monas hari ini juga." Mina memohon dengan iba, berharap Daisy mau menemui Excel.
Maaf Nona, kali ini aku harus berpihak kepada Tuan Excel, karena aku ingin anda bahagia.
Daisy menatap Mina dengan raut wajah yang menyediakan. Dia tahu bagaimana sosok Excel jika kemauannya tidak di turuti maka dia akan marah besar, dan itulah salah satu mengapa Daisy tidak bisa menerima Excel sepenuhnya. Meskipun mereka orang yang sama, tetapi Alex tidak mempunyai sifat seperti Excel.
"Tolonglah Nona, untuk kali ini saja." Mina memohon.
"Baiklah, aku akan turun."
Akhirnya Daisy mengalahkan dan masuk ke dalam sekolah taman kanak-kanak yang tak asing baginya. Meskipun sudah dua puluh tahun lamanya, namun sekolah itu masih berdiri kokoh.
__ADS_1
Kedatangan Daisy juga sudah di sambut oleh dua orang pengawalnya Excel untuk menunjukkan jalan dimana Excel berada.
"Silahkan Nona."
Daisy telah sampai ke taman belakang. Bunga yang bermekaran membuatnya hanyut dalam masa kecilnya, dimana dia sering menghabiskan waktunya bersama dengan Alex.
Saat ini Daisy melihat Excel yang berdiri membelakanginya dengan tegap. Ingin rasanya Daisy memeluk Excel saat ini untuk melepaskan rasa rindunya selama ini tetapi, ia membentengi perasaan agar tidak terbawa suasana.
Selama hampir tiga bulan ini Excel sudah menyakitinya, bahkan Daisy tak diberikan kesempatan untuk membela diri. Namun, saat Excel mengetahui bahwa dia adalah Sysi, seketika sikap Excel berubah sangat drastis.
"Apakah kamu tidak merindukan tempat ini? Lihatlah, semua masih sama seperti dahulu, tidak ada yang berubah. Begitu juga dengan hati dan perasaanku yang tak bisa berubah. Menunggu dan terus mengunggu hingga waktu itu datang." Excel membalikkan badan lalu berjalan mendekati Daisy yang merasa gugup. Irama detak jantungnya berpacu dengan cepat, membuat dadanya terasa sedikit nyeri.
Sebisa mungkin Daisy mengontrol nafasnya agar lebih teratur.
Daisy tersenyum sinis. Bohong jika dia tidak merindukan tempat yang penuh kenangan yang tak bisa terulang kembali, tetapi melihat Alex yang sudah berubah menjadi sosok Excel, Daisy mencoba untuk menepis rasa itu. Dia memang merindukan Alex, bukan Excel.
Sebelum menjawab pertanyaan Excel, Daisy mengeluarkan nafasnya dalam-dalam.
"Tidak! Aku tidak merindukan tempat ini!" elak Daisy.
"Bohong! Aku tahu kamu berbohong!"
Tanpa persetujuan dari Daisy, Excel memeluk wanita yang ia rindukan, sayangnya Excel tidak menyadari sedari awal. Jika Excel tahu mungkin keadaan tidak akan seperti ini.
Daisy hanya diam dan pasrah. Ia menghirup dalam aroma tubuh Excel yang mampu mendebarkan jantungnya, seolah dia juga ingin membalas pelukan tersebut.
__ADS_1
Tidak Daisy! Kamu tidak boleh lemah! Dia ini lelaki jahat, sudah membuatmu menderita. Ingat itu Daisy!
"Excel, tolong lepaskan!" pinta Daisy.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan sebelum kamu mengatakan bahwa kamu juga merindukanku!"
"Tapi aku tidak merindukanmu, Excel!"
"Bohong!"
Keduanya saling beradu mulut untuk beberapa waktu, hingga akhirnya Daisy memilih mengalah agar Excel mau melepaskan dirinya.
"Iya. Aku juga sangat merindukanmu, tapi lepaskan aku!"
.
.
.
.
🌹 Bersambung 🌹
Hayo ... siapa yang belum kasih bunga sama kopi? sini othor getok 🤕🔨
__ADS_1