Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 46


__ADS_3

"Daddy ....!" teriak Daisy yang langsung terbangun dari tidurnya. Dadanya masih naik turun dengan jantung yang berdebar. Keringat dingin juga sudah membasahi wajahnya.


Excel yang berada di samping Daisy merasa sangat terkejut. "Kamu kenapa Syi? mimpi buruk?"


Daisy menoleh kearah samping lalu menanyakan pukul berapa sekarang. Hatinya masih tidak tenang apakah yang baru saja terjadi ada mimpi atau memang kenyataan sebenarnya jika Daddy-nya sudah tiada.


"Baru pukul 10 malam. Ada apa? kamu mimpi buruk? Makasih habis makan jangan tidur."


"Bagaimana dengan Daddy-ku? apakah dia baik-baik saja?"


Excel menunduk untuk sejenak. Mungkinkah dia terlalu kejam kepada Arathorn? tetapi semua itu tidak sebanding dengan apa yang sudah ia lakukan kepada Daisy.


Awalnya Excel mengira jika ibunya meninggal akibat dibunuh, tetapi nyatanya malah ibu Daiys-lah telah dibunuh. Selama ini Excel menempatkan dendam yang salah kepada Daisy.


"Daddy kamu ... Daddy kamu sedang kritis dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit," jawab Excel.


"Jadi Daddy masih hidup? Dia belum meninggal?"


"Aku berharap dia memang akan segera mati, dari pada hidup hanya menjadi sampah," lirih Excel.


Daisy membuang nafas leganya. Dia bersyukur bahwa Daddy-nya masih hidup. Mimpi yang sangat menakutkan untuk dirinya. Meskipun Daddy sudah sangat jahat kepada dirinya, tetapi Daisy tidak mau jika Daddy begitu cepat untuk meninggal.


Daisy : ( Author, terimakasih karena itu hanya mimpi buruk untuk ku )


Excel harus menunda tidur malamnya. Karena setelah Daisy mengalami mimpi buruk, dia langsung di paksa untuk mengantarkan ke rumah sakit untuk melihat keadaan Daddy-nya.


Jika Excel tidak mencintai Daisy, Excel tidak akan pernah mau untuk mengantarkan istrinya ke rumah sakit malam-malam seperti ini.

__ADS_1


"Excel, cepatkan laju mobilnya!" perintah Daisy, yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Daddy-nya.


"Aku tidak bisa, Syi. Mataku ngantuk. Aku takut jika aku akan hilang kendali nanti," balas Excel dengan rasa malas. Sebenarnya bisa saja Excel melaju dengan cepat karena dia sudah terbiasa dengan perjalanan yang ngebut-ngebutan. Namun, kali ini berbeda. Ada orang yang sangat berharga dan harus di jaga, terutama calon anak mereka yang masih ada di dalam perut Daisy.


Sepanjang perjalanan Daisy hanya bisa mengerutkan bibirnya. Dia sudah tidak sabar untuk bisa segera sampai di rumah sakit dan melihat keadaan Daddy-nya yang masih hidup.


Daisy sudah tidak sabar lagi untuk keluar saat Excel batu saja mematikan mesin mobilnya untuk bergegas keluar.


"Syi, pelan-pelan jangan lari! Anak kita masih sebesar biji kacang nanti kalau kenapa-napa bagaimana?" teriak Excel, yang sudah tidak dipedulikan lagi oleh Daisy.


"Syi .... tunggu!"


Excel kewalahan untuk mengejar langkah istrinya yang sudah berlari jauh. Excel menyesal telah memberitahu keadaan Arathorn kepada Daisy. Jika tahu akan seperti ini lebih baik tadi Excel tak mengatakan jika Daddy-nya sedang kritis.


"Syi ... pelan!" lagi-lagi Excel berteriak, hingga membuat beberapa orang melihat kedua yang saling kejar mengejar.


"Mammy .... " panggil Daisy.


Mishelle langsung menoleh dan segera memeluk tubuh Daisy untuk menumpahkan air matanya.


"Syi ... Daddy Syi ....." isak Mishelle.


"Mammy tenang ya. Daddy pasti baik-baik saja." Daisy membalas pelukan dari Mammy.


Meskipun Daisy tahu jika Mishelle sudah jahat kepada dirinya, tetapi rasanya Daisy tak bisa untuk membenci Mishelle terlalu dalam.


Excel enggan untuk menatap Mishelle yang masih terisak. Jujur Excel sangat membenci jika melihat orang menangis, apalagi dari mata perempuan.

__ADS_1


"Syi ... ayo pulang!" ajak Excel.


Daisy menautkankan alisnya. Baru juga sampai sudah mau pulang saja, lalu siapa yang akan menemani Mammy-nya disini?


"Tidak! Aku akan tetap disini untuk menemani Mammy untuk menunggu Daddy," tolak Daisy.


"Jangan membantah! Ini sudah malam. Tidak bagus untuk kesehatanmu dan calon anak kita. Tidak ada gunanya kamu disini, biarkan saja dia menunggu suaminya sendiri.".


Michelle segera menatap Daisy, anak tirinya. Dari ucapan Excel berarti saat ini Daisy sedang hamil. Apakah itu artinya Excel sudah mencintainya Daisy? Jika benar begitu, mengapa Excel malah mencabut semua saham di perusahaan milik suaminya hingga membuat suaminya masuk ke rumah sakit seperti ini.


"Kamu hamil, Syi?" tanya Mammy-nya.


"Sudah, ayo pulang!" Excel menarik paksa tangan Daisy untuk meninggalkan Mammy-nya.


Masih pantaskah wanita seperti Mishelle untuk dikasihani, setelah apa yang telah ia akukan di masa lalunya? Sungguh Daisy terlalu bodoh untuk mengasihani seorang pembunuh seperti Mishelle.


.


.


.


☕ Bersambung ☕


Mon maap, baru bisa nongol 🥰.


Jangan lupa Jejaknya!!!!

__ADS_1


__ADS_2