
Tiga hari terasa Tiga tahun, begitulah yang dirasakan oleh Excel saat ini. Berada di luar kota selama 3 hari membuatnya sudah frustasi berat, karena tidak bisa melihat Daisy dengan jelas. Apalagi saat kepala pelayan memberikan kabar bahwa saat ini mereka sudah mulai berubah. hal itu membuat Excel semakin tidak sabar untuk segera pulang.
"Sherly, bisakah aku pulang lebih awal?" tanya Excel kepada Sherly yang saat ini tengah fokus untuk mengoreksi data-data yang baru saja ia dapatkan.
"Maaf Tuan, sepertinya jadwal kepulangan kita akan diundur, karena dari data yang saya dapatkan belum lengkap," jelas Sherly.
Excel membulatkan matanya. Bagaimana mungkin data belum lengkap sedangkan mereka sudah berusaha semaksimal mungkin dalam waktu 3 hari ini.
Excel harus menelan kasar kekecewaannya saat Sherly mengatakan bahwa mereka belum bisa kembali pulang hari ini.
"Aku tidak mau tahu data sudah lengkap atau belum, yang aku tahu hari ini kamu harus menyelesaikan semuanya! jika tidak aku akan memastikan jika aku akan pulang hari ini."
Sherly hanya bisa menggeleng melihat tuan-nya sudah tidak sabar lagi untuk pulang. Jika tahu akan seperti ini, kemarin Sherly akan mengajukan untuk mengajak Nona-nya ikut bersama agar perjalanan bisnisnya mereka terasa aman dan nyaman.
"Anda tidak bisa seperti itu Tuan, anda harus profesional. Ingat, ini bukan bisnis sembarangan. Jika kita bisa mengumpulkan data dengan lengkap dan menguasai semuanya, maka sudah dipastikan kita bisa menaklukkan lawan dengan sangat mudah. Apakah anda ingin mundur begitu saja?"
"Tidak! Aku tidak akan pernah mundur begitu saja. Bagaimanapun juga aku harus memperjuangkannya agar aku bisa memperluas kekuasaan ku."
"Bagus Tuan, itu baru namanya seorang Excel world yang pantang menyerah sebelum," kata Sherly mengacungkan jempolnya kepada Excel.
Excel harus bisa menahan rindu yang menggebu karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya. Saat ini Excel sedang berada di sebuah pelabuhan untuk menyelesaikan misinya. Dia hanya membawa Sherly dan dua orang bodyguard yang ia bawa dari ibukota.
Sebelum dia menemui seseorang, Excel menyempatkan diri untuk melakukan panggilan video kepada Daisy untuk mengurangi rasa rindu yang sudah membubung tinggi. Ingin rasa Excel memeluk dan menghujani ciu.man-nya kepada wanita yang ia cintai saat ini.
Lagi-lagi Excel melihat Daisy memakai celemek dengan rambut yang diikat asal membuat jenjang lehernya terekspos dengan jelas.
"Excel apakah kamu jadi pulang hari ini? aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu. Lihatlah ini!" Deisy menunjukkan sebuah makanan kesukaan Excel yang ia buat dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
"Maafkan aku, Daisy. sepertinya aku tidak bisa pulang hari ini. karena aku masih ada pekerjaan tetapi, kamu jangan khawatir aku akan segera pulang," ucap Excel, sambil menarik garis simpul kedua bibirnya.
Dari seberang sana Daisy hanya bisa membuang kasar nafasnya saja, setelah dia tahu bahwa Excel tidak jadi untuk pulang hari ini.
Excel tahu bahwa Daisy merasa kecewa, tetapi dia juga harus bisa membentengi rasa kasihan itu, karena Excel juga harus bekerja dengan profesional.
Karena tak ada lagi yang ingin dibicarakan oleh Daisy, wanita itu memilih untuk mengakhiri panggilannya. Hal itu membuat Excel merasa tidak tenang.
"Sherly, katakan kepada mereka jika aku ingin mempercepat pertemuan ini!" perintah Excel.
"Baik Tuan, akan saya sampaikan kepada mereka."
*******
Daisy tak putus asa saat usahanya masih gagal. Dia terus berusaha agar mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. Saat ini Daisy sudah bisa membuat nasi goreng kesukaan Excel.
Hal yang paling membanggakan seumur hidup Daisy, bisa memasak dengan tangannya sendiri. Meskipun hanya nasi goreng, tetapi itu adalah karya pertama dengan sejuta perjuangan. Tidaklah mudah bagi seorang Daisy untuk membuat nasi goreng, apalagi dengan rasa yang sesuai dan pas di lidah. Sudah berulang kali Daisy mencoba dan terus mencoba, tetapi harus gagal berulang kali dan pada akhirnya dia berhasil menciptakan nasi goreng dengan takaran bumbu yang pas.
"Terima kasih atas pujian mu, Mina. Kalau begitu makanlah! aku akan pergi ke kamar dahulu." Terlihat dengan jelas aura kekecewaan kepada wajah Daisy.
Mina hanya melongo saat melihat Nona-nya berlalu begitu saja meninggalkan dirinya. Ia tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba berubah seperti itu. Padahal tadi dia sudah sangat semangat karena sudah bisa memasak nasi goreng dengan takaran bumbu yang pas dengan.
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Daisy di dalam kamar selain mengamati halaman luar dari atas balkon. Ingin rasanya dia menikmati udara luar seperti dahulu sebelum ia menikah dengan Excel.
Semua itu berubah begitu saja saat dirinya berada di dalam rumah ini. Bagaimana tidak meskipun saat ini Excel sudah menganggapnya sebagai seorang istri, tetapi tetap saja dia diperlakukan seperti seorang tawanan yang tidak diizinkan untuk keluar. Apakah di luar sana sangat mengerikan untuk dirinya saat ini?
Terkadang ingin sekali Daisy pergi dan menjauh dari Excel, tetapi hatinya terasa berat untuk meninggalkan Excel yang ternyata dia adalah sosok Alex, teman masa kecilnya yang sangat ia sayang.
__ADS_1
Saat Daisy sedang memperhatikan jalanan di seberang sana, tiba-tiba sebuah peluru menghantam dinding rumahnya, membuat dirinya sangat terkejut dan langsung memegangi dadanya.
"Astaga .... " pekik Daisy.
Beruntung saja peluru itu hanya mengenai dinding, bukan dirinya. Saat mendengar suara letusan senjata api, semua pelayan menghambur menuju kamar Daisy. mereka sangat takut jika terjadi sesuatu kepada Nona mereka. sedangkan kepala pelayan bergegas lari keluar untuk mengejar siapa pelakunya.
Bodyguard yang diperintahkan Excel untuk menjaga keamanan rumahnya ternyata mereka kecolongan. Entah siapa yang melakukan penembakan ini, mereka tidak tahu.
Beruntung saja Nona mereka tidak kenapa-kenapa. Jika sampai Nona mereka sampai terluka, maka bisa dipastikan tuan mereka akan sangat murka.
"Kalian bagaimana menjaga keamanan saja tidak becus! bagaimana jika terjadi sesuatu kepada Nona? Apakah kalian akan bertanggung jawab?" sentak pelayan kepada para penjaga keamanan yang telah kebobolan.
"Maafkan atas keteledoran kami kepala pelayan," sesal salah satu penjaga keamanan.
"Aku tidak mau tahu kalian harus waspada, jangan sampai hal ini terulang kembali!"
Di dalam kamar ada kamar, Daisy masih merasa syok atas kejadian yang baru saja terjadi. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan oleh Excel jika saat ini di memang ada seseorang sedang mengincar dirinya.
"Nona, anda tidak apa-apa kan?" Mina segera membawa Daisy untuk masuk ke dalam kamar dan memberikan segelas air putih agar Daisy merasa lebih tenang.
"Aku tidak apa-apa Mina, hanya sedikit shock saja," kata Daisy, dengan detak jantung yang masih memburu.
.
.
.
__ADS_1
☕ Bersambung ☕
Jangan lupa jejaknya 🙏