
Setelah sampai di rumah sakit, Excel segera mendapatkan perawatan dari tim medis. Daisy tidak bisa membendung rasa kekhawatirannya terhadap Excel, saat dia mengetahui bahwa luka tusukan di perut Excel belum sembuh total.
Daisy semakin tidak habis pikir, mengapa hal seperti ini Excel tidak menceritakan kepada dirinya?
"Nona, anda harus tenang." Suara Sherly menggema di telinga Daisy.
Daisy yang baru saja mengetahui Sherly datang, dia segera menodong pertanyaan kepadanya. Mengapa Excel bisa sampai tertusuk dan bisa-bisanya Sherly juga menyembunyikan hal ini dari dirinya.
"Katakan kepadaku apa yang sebenarnya sudah terjadi!" Daisy sedikit meninggikan nadanya, dia merasa sangat kecewa kepada Sherly karena telah menyembunyikan, jika Excel sedang terluka. Namun Sherly hanya terdiam, dia tidak bisa menjelaskan apapun kepada Daisy saat ini.
"Maaf .... "
Daisy segera memotong ucapan Sherly. "Ya aku tahu ... kamu pasti tidak akan menceritakannya kepadaku tanpa seizin dari Excel kan? aku sadar siapa aku, meskipun aku adalah istrinya, tetapi Excel lebih memberikan kepercayaan itu kepadamu ketimbang aku. Seakan aku lupa, jika kamu adalah segalanya untuk Excel. Kamu bisa segalanya, kamu bisa semuanya bahkan kamu lebih hebat daripada aku. Kamu bisa melindungi Excel, tetapi aku tidak bisa." Daisy yang terbawa emosi tanpa terasa dia menitikkan air matanya. Dia benar-benar merasa kecewa kepada Sherly. Selama satu minggu lebih dia berada di rumahnya, tetapi sama sekali dia tidak menceritakan apapun tentang Excel, meskipun dia mengetahuinya.
Sherly mengambil nafas dalam-dalam. Dia tahu jika saat ini Daisy sedang terbawa suasana hatinya saja yang sedang kecewa.
"Nona, anda tidak boleh berbicara seperti itu. Anda harus tenang. Maaf saya memang tidak bisa menceritakan kejadian ini kepada Alanda tanpa seizin dari Tuan Excel. Sekali lagi maafkan saya, Nona," ucap Sherly sambil tertunduk.
Daisy berjalan untuk menjauh dari Sherly. Saat ini hatinya memang sedang kecewa tetapi saat melihat Excel sedang ditangani oleh tim medis dia semakin terisak. Apakah Excel benar-benar tidak menganggap dirinya sebagai seorang istri? Seharusnya Excel berterus terang saja, tidak perlu ada yang disembunyikan. Jika sudah seperti ini Daisy merasa seperti tidak dianggap oleh Excel.
Saat ini pikiran Daisy benar-benar sedang kacau. Setiap hari dia selalu menepis perasaannya yang merasa cemburu atas kedekatan Excel dengan Sherly. Terkadang Sherly merasa iri atas kedekatan mereka, Daisy benar-benar takut jika pada akhirnya Excel lebih memilih Sherly ketimbang dirinya. Dadanya masih sesak untuk memikirkan masalah ini. Tanpa permisi Daisy meninggalkan ruang Excel dan memilih pergi ke toilet. Daisy lupa jika pagi ini dia belum sarapan, perutnya sudah bergejolak. Rasa mual terasa pusing bertemu menjadi satu.
...~~~...
Excel yang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, dia menanyakan dimana keberadaan Daisy saat ini. Sherly menggeleng, dia tidak tahu kemana perginya Daisy, karena dia tadi tidak menanyakan hal itu kepada Daisy.
"Kenapa kamu biarkan Daisy berkeliaran sendiri? jika terjadi sesuatu kepada dirinya bagaimana? bukankah kamu sudah tahu jika di luar tidak aman untuknya?" tanya Excel dengan-pelan.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan, Nona Daisy sempat marah karena mengetahui jika saya telah menyembunyikan luka Tuan kepada Nona Daisy. Nona Daisy merasa sangat kecewa," jelas Sherly.
Mendengar penuturan Sherly, Excel menarik tubuhnya untuk bangkit dari ranjang rumah sakit. Namun, dengan sikap Sherly mencegahnya. "Anda mau ke mana? anda tidak boleh banyak bergerak karena luka anda belum sambung sepenuhnya."
"Aku ingin mencari Daisy. Harusnya kamu jaga dia agar dia tidak pergi! Harusnya kamu juga tahu apa yang harus kamu lakukan di saat seperti ini. Dia tidak boleh berkeliaran bebas diluar. Jika terjadi sesuatu kepada dirinya bagaimana? Dia sedang mengandung anakku." Excel merasa sedikit emosi saat mendengar Daisy meninggalkan rumah sakit dan tidak ada pengawal yang menjaga dirinya. Meskipun Felix masih berada di tangannya, bukan berarti Daisy bisa bebas berkeliaran di luar.
"Cari dia bawa ke sini!" perintah Excel dengan wajah memerah.
"Baik akan saya cari, tetapi anda harus tenang dahulu."
...~~~...
Perasaan Daisy sudah sedikit membaik setelah dia membasuh muka. dia membuang kasar nafasnya dan melupakan rasa kecewanya.
"Tenang Daisy, kamu hanya tertawa suasana hati saja. Sekarang kamu harus kembali." Daisy meyakinkan hatinya sendiri untuk membuang dahulu egonya. Saat ini dia harus menemani Excel. Dia juga harus membuktikan bahwa dia bisa berguna untuk Excel, meskipun dia tidak sehebat Sherly.
"Kamu dari mana? kamu gak papa kan?" tanya Excel dengan kekhawatiran.
Sambil menyunggingkan senyumnya, menggeleng pelan. "Aku hanya dari toilet," jawab Daisy singkat.
Excel membuang kasar nafasnya, dia menyuruh Daisy untuk lebih mendekati. Saat melihat perubahan dari sifat Daisy, mendadak hati Excel merasa sakit. Dia memang bersalah tidak berterus terang kepada Daisy, tetapi Excel melakukan itu semua karena dia tidak mau membuat Daisy mengkhawatirkannya. Excel takut jika Daisy sampai terlalu mengkhawatirkannya dan akan berpengaruh pada baby twins-nya.
"Sini!" Excel memberi isyarat agar daya duduk di atas keranjangnya.
"Maaf jika aku tidak berterus terang kepadamu. Bukan aku tidak mau menceritakan tentang luka ini, aku hanya ingin kamu tidak terlalu mengkhawatirkan ku. Sayang, tolong mengertilah!"
Daisy menatap bola mata Excel yang sulit diartikan. Dia hanya bisa menggigit bibirnya saja. Jika tadi dia merasa sangat kecewa tetapi saat melihat wajah Excel mendadak perasaan itu hilang seketika.
__ADS_1
"Sayang, tolong mengertilah!" ulang Excel.
Daisy tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya mengangguk pelan.
"Terimakasih ya," ucap Excel sambil memeluk tubuh Daisy.
Daisy yang sudah jatuh cinta terlalu dalam kepada Excel tidak bisa marah kepada terlalu lama.
Jika keduanya sudah saling berbaikan berbeda dengan Sherly yang saat ini sedang berada di jalanan untuk mencari keberadaan Daisy.
"Kemana perginya wanita itu? Tuhan mengapa hidupku terlihat sangat menyedihkan seperti ini? Aku lagi ... aku lagi ... dan aku lagi," gerutu Sherly.
Akhirnya Sherly memutuskan untuk berhenti sejenak di pinggir jalan. Tanpa sengaja matanya melihat sebuah warung bakso yang pernah ia singgahi bersama dengan Kaisar tempo hari. Bibirnya menarik kedua simpul garis bibirnya. Tiba-tiba ingatannya tertuju pada seorang Kaisar yang menyebalkan.
"Dasar Kaisar yang selalu menghantui pikiranku!" gerutu Sherly.
Dia pun memutuskan untuk masuk warung itu karena merasa sangat penasaran. Saat sudah tiba di dalam, tanpa sengaja matanya menangkap sosok Kaisar yang memang sedang ada di dalam.
Astaga ... Tuhan apakah ini mimpi atau halusinasi ku saja? mengapa aku bisa melihat Kaisar di sini?
.
.
.
🌼 BERSAMBUNG 🌼
__ADS_1