
Excel sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menunggu Daisy keluar dari kamar mandi. Sebenarnya malam ini Excel harus ke markas untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai penyerangan malam itu. Namun sayangnya saat bala pasukan Excel datang bos mereka sudah melarikan diri. Hingga sampai saat ini belum ada kabar dimana keberadaan bos mereka yang sudah berani menganiaya dirinya.
Saat pintu di buka, jantung Excel mendadak ingin lepas dari tempatnya, memikirkan bagaimana cara mengatakan kepada Daisy jika malam ini Excel ingin meminta surga dunia-nya.
"Kamu kenapa liatin aku seperti itu? apakah ada yang salah?" tanya Daisy saat dia sudah naik ke atas ranjang.
"Tidak! Tidak ada! Hanya saja tanganku sudah sembuh," ujar Excel.
Daisy menautkan alisnya. "Aku sudah tahu jika tanganmu sudah sembuh, lalu?"
Excel menggaruk kepalanya. Dia sudah melihat tutorial di Hutub tetapi dia tidak tahu bagaimana cara mengajak Daisy untuk bermain kesana. Apakah dia harus langsung saja pada intinya atau memberikan pemanasan lebih awal. Namun, dia terlalu gengsi untuk memulai dari mana.
"Syi ...."
Wajah Excel sudah mendekat ke wajah Daisy yang hendak merebahkan tubuhnya ke pembaringan. Saat gerakan Excel semakin mendekat Daisy hanya bisa memejamkan matanya. Tangan Excel sudah memegang tengkuk milik Daisy. Tak ada perlawanan, Daisy menerima sentuhan bibir untuk pertama kalinya dari lelaki yang ia rindukan. Begitu juga dengan Excel, meskipun untuk pertama kalinya namun Excel sudah lihat karena tutorial dari Hutub yang ia lihat sebelumnya. Larut akan ciu.man panas, tanpa sadar tangan Excel sudah membuka baju milik Daisy.
Terpampang jelas sebuah pemandangan langka yang bisa ia lihat dengan sempurna. Namun, Excel tidak fokus kepada benda tersebut melainkan kearah bekas luka yang masih membekas hingga saat ini.
Ia meraba bekas luka tersebut, lalu menatap Daisy dengan tatapan sulit diartikan.
"Jika waktu bisa di putar kembali, aku tidak akan membiarkan kamu yang harus menanggung semua ini. Kenapa kamu bodoh mau mengorbankan nyawamu untuk anak kecil seperti Alex?"
"Aku tidak tahu. Tetapi saat itu yang aku hanya ingin melindungi Alex yang malang. Aku tidak ingin melihat dia mati, karena saat itu aku sudah mencintainya dan tak ingin dia menderita," ucap Daisy pelan.
"Apakah kamu masih ingin mencintai bocah itu saat kamu mengetahui ternyata dia bukanlah lelaki yang baik dan kejam?"
"Aku akan terus mencintai dia, meskipun dia tidak mencintaiku," balas Daisy.
"Bodoh jika anak itu tidak mencintaimu, maka akulah yang akan mencintaimu hingga akhir hayatnya.".
__ADS_1
Malam yang sunyi menjadi saksi atas cinta keduanya malam ini. Berkat tutorial dari hutub, Excel bisa membuat Daisy me.rin.tih di bawah kungkungannya malam ini. Tubuh mereka di banjiri peluh, sebelum akhirnya Excel mengeluarkan cairan kecebong untuk menuju rahim, dimana sudah ada bibit kecebong yang sudah berkembang.
........
Daisy masih nyaman dalam dekapan Excel. Apalagi lengan kekarnya menjadi bantalan Daisy untuk tidur. Excel mengerjap saat dering ponsel mengganggu tidur tidaknya pagi ini.
Sebuah panggilan dari Sherly yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Excel segera mengangkat panggilan tersebut dengan suara pelan agar Istrinya tidak bangun.
Sebelum Excel memaki Sherly, ternyata Excel lebih shock saat mendengar penuturan dari Shaely.
"Baik, aku akan segera kesana! Pastikan semua berjalan dengan baik agar kita tidak salah langkah lagi," pesan Excel, sebelum mematik panggilan teleponnya.
Mendengar suara Excel, Daisy menggeliat sambil membenarkan lagi selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos tanpa apapun.
"Kamu mau pergi?" tanya Daisy.
"Iya. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
Tidak mungkin Excel akan menceritakan apa yang akan dia lakukan diluar sana. "Kenapa? masih mau lagi? nambah lagi ya?" Excel mengerling matanya untuk menggoda Daisy.
Daisy tersipu malu dengan wajah memerah saat Excel sudah melancarkan aksinya lagi. Menjelajahi setiap inci dari tubuh Daisy hingga berhenti diatas pusatnya.
Daisy sudah menggeliat saat setiap sentuhan yang Excel berikan berubah layaknya sengatan arus listrik yang sedang menjalar keseluruhan tubuhnya.
"Ex ... cel," rin.tih Daisy saat Excel sudah menenggelamkan Naga Tiongkok sampai kedalam hutan Amazon.
Excel memejamkan mata mengikuti gerak dan irama yang ia ciptakan pagi ini. Jika Excel tau rasanya akan senik.mat ini Excel tidak akan membobol paksa hutan Amazon malam itu. Semakin lama gerakan semakin cepat hingga Excel tidak bisa menahan lagi semburan Naga Tiongkok untuk membanjiri hutan Amazon.
****
__ADS_1
Sebelum berangkat Excel berpesan kepada Daisy agar tidak pergi kemana-mana karena di luar sedang tidak aman untuk dirinya. Excel takut jika akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Kamu ingat pesan aku ya. Jika menginginkan sesuatu suruh saja pelayan atau pengawal yang mencarikannya," pesan Excel.
"Iya, aku tahu," balas Daisy.
"Sayang, Daddy pergi sebentar. Jangan nakal ya! Dady akan segera pulang setelah urusan Daddy selesai." Satu ke.cu.pan mendarat di perut Daisy.
Mina dan beberapa orang pelayan merasa sangat terkejut atas apa yang baru saja mereka lihat. Sejak kapan Tuan mereka memperlakukan Nona mereka dengan manis. Apakah karena penyerangan malam itu kepala Tuan mereka mengalami gagar otak sehingga bisa memperlakukan Nona mereka dengan manis.
"Kamu hati-hati ya."
Sebelum pergi Excel juga menyempatkan diri untuk memeluk tubuh Daisy dengan erat. Rasanya memang berat, tetapi Excel harus segera menyelesaikan masalah ini.
.
.
.
🌹 Bersambung 🌹
Aku selalu rajin up, tapi kalian tak rajin berikan hadiah sebagai penghibur untuk ku 😔 mengsedihkan 😔😔
Oh iya, Selagi menunggu aku up lagi kalian bisa mampir dulu ke novel Author pemes yang gak asing lagi di jagad noveltoon, dijamin seru abis ceritanya. Mampir Ya!
Judul Novel : Jerat Cinta Sang Player
Author : Defri Yantihermawan17
__ADS_1