
Excel mengabaikan panggilan telepon dari Sherly. Dia lebih memilih menyelesaikan permainannya saat ini, karena sangat nanggung. Excel mempercepat gerakan dan irama untuk bisa segera sampai ke puncak.
Saat Excel sudah berhasil mencapai puncak, dia segera menjatuhkan diri ke samping Daisy dengan nafas yang masih memburu.
"Excel, tadi siapa yang menelpon?" tanya Daisy.
"Siapa lagi kalau bukan Sherly," jawab Excel cepat.
Setelah menetralkan diri Excel segera menghubungi Sherly kembali. Dari seberang telepon sana, Sherly segera menjabarkan berita yang baru saja ia dapatkan.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama, setelah membersihkan diri Excel segera bergegas menuju kantor.
***
Di dalam sebuah ruangan, seorang laki-laki terlihat sangat murka, saat semua usahanya selalu gagal. Bukan hanya satu kali dua kali dia berusaha untuk menjatuhkan Excel, selalu gagal. Semua usahanya selalu digagalkan oleh seorang perempuan bernama Sherly ajudan setia yang dimiliki Excel.
Bagaimana mungkin hanya seorang wanita bisa menghancurkan semua rencana yang sudah ia susun dengan matang.
"Dasar kalian semua tidak berguna!" maki Felix dengan wajah merah padam.
Felix yang sudah sembuh akibat penganiayaan yang dilakukan oleh Excel, membuat dirinya memiliki ambisi untuk segera menghancurkan Excel secepatnya. Dendam yang terlalu dalam sudah tersiram pupuk kebencian sehingga Felix terus berusaha untuk mengincar Daisy. karena kelemahan Excel saat ada pada istrinya.
Percuma saja dia memperalat Arathorn, jika pada akhirnya lelaki tua bangka itu sudah tidak berguna lagi untuk dirinya.
"Aku tidak mau tahu bagaimana caranya kalian harus bisa menghancurkan Excel secepatnya!" minta Excel.
Empat orang yang memiliki nasib baik dan bisa meloloskan diri hanya bisa tertunduk saat mereka terkena amukan dari bos mereka.
Felix yang memang memiliki dendam sejak awal, merasa tidak terima atas kegagalannya selama ini untuk menghancurkan Excel.
"Lihat saja Excel, aku tidak akan menyerah sampai aku benar-benar bisa menghancurkan mu dan melihatmu bertekuk lutut di kakiku!"
****
Di waktu yang bersamaan, Excel melihat semua bukti-bukti yang telah dikumpulkan oleh Sherly. Excel tidak habis pikir dengan Felix yang tak menyerah dengan usahanya meskipun selalu gagal.
Jika akan tahu seperti ini, saat itu Excel tidak akan memberikan kesempatan bernafas lagi untuk Felix.
__ADS_1
"Apakah kamu yakin jika tidak ada tangan yang membantu Felix saat ini?" tanya Excel.
"Saya belum bisa memastikan, Tuan. Tetapi sepertinya ini hanya Tuan Handoko yang ada di belakangnya saat ini," jelas Sherly.
Excel mengangguk pelan, dia tidak heran jika Handoko juga ikut serta berada di belakang Felix, karena dia adalah ayah dari Felix sekaligus musuh terbesarnya.
Sepertinya Excel tidak bisa menganggap remeh sosok Felix. Sebelum tikus itu meluncurkan penyerangannya kembali, Felix harus bisa meluncurkan serangan lebih dahulu kepadanya.
"Aku tidak bisa membahas masalah ini di sini karena pekerjaan kantor masih numpuk. Kita bahas masalah ini nanti malam, oke?"
"Baik Tuan, saya akan mengatur semuanya."
Setelah kepergian Sherly, Excel memilih fokus kepada tumpukan map yang ada di depannya saat ini. Karena bukan hanya masalah Felix saja yang harus ia tangani, melainkan pekerjaan kantornya juga lebih utama.
Baginya, Felix adalah tikus kecil yang sedang bermain-main dengan singa yang sedang tidur. Hanya tinggal menunggu waktu saja, dia akan segera melihat kehancuran yang akan dialami oleh Felix karena sudah berani bermain dengan dirinya.
"Dia pikir dia siapa, berani sekali dia bermain denganku? Anak sama bapak sama aja, sama-sama bodoh!" maki Excel.
Saat sedang fokus, tiba-tiba saja Excel menginginkan martabak bangka yang ada di ujung jalan sana. Karena dia sedang sibuk, maka sasarannya adalah Sherly.
"Apakah anda yakin, Tuan?" tanya Sherly ragu.
Excel menatap Sherly dengan tatapan tajam.
"kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Tidak ada Tuan. Saya hanya ingin memastikannya saja."
"Sudah sana pergi! dan ingat jangan lama-lama, keburu nanti aku sudah tidak menginginkannya lagi!" usir Excel.
Sherly segera berlalu dengan perasaan yang sangat kesal. Ini adalah pekerjaan yang sangat tidak Sherly sukai karena ujung-ujungnya dia hanya dikerjain saja. Pasti nanti setelah Sherly berhasil mendapatkan martabak itu, Excel sudah tidak menginginkannya lagi.
Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Excel, Sherly ke lokasinya sekarang juga. nasib sial dialami oleh Sherly, karena ternyata kang jualan martabak sedang tidak berjualan.
"Ah, sial. Pakai acara tidak jualan lagi," rutuk Sherly.
Sherly memutar isi kepalanya, antara ingin pulang dengan tangan kosong atau sedikit memakan waktu tetapi pulang dengan membawakan pesanan bosnya. Tanpa pikir panjang, Sherly memilih mencari tukang jualan martabak yang sering ia jumpai di pinggir jalan. Jika biasanya tukang martabak akan berderet di pinggir jalan, tetapi mengapa saat ini tak ada satupun yang nongol. Apakah ini awal petunjuk dari Tuhan agar Sherly menghentikan pencahariannya?
__ADS_1
Bukan Sherly kalau pulang dengan tangan kosong. Sherly terus berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh bosnya, Bagaimanapun caranya.
Sherly terpaksa harus mencari martabak itu di dekat mall terbesar dengan jarak yang lumayan jauh dari kantornya. Sherly mendapatkan tempat itu dari sosial medianya dan mengenai rasa, tidak diragukan lagi.
"Semoga saja mood Tuan Excel sedang baik dan tidak memprotes ku nanti," batin Sherly.
Senyum Sherly kembali terukir setelah beberapa saat yang lalu dia merasakan kekecewaannya. Sebuah tulisan MARTABAK BANGKA di depan gerobak, membuat Sherly semakin bersemangat untuk mendekati gerobak itu. Namun, dia tidak memperhatikan jalanan dengan baik, hingga akhirnya dia menabrak mobil seseorang yang sedang terparkir di depannya.
"Sial! pakai acara nabrak mobil orang segala," umpat Sherly.
Sherly segera turun dari mobil untuk memastikan keadaan mobilnya saat ini. Namun, tiba-tiba datang seorang lelaki menuju ke mobil yang tertabrak oleh Sherly.
Lelaki itu terkejut, mengapa bisa mobil yang sudah terparkir rapi bisa tertabrak oleh mobil lainnya? Apakah yang mengemudikannya sedang belajar menyetir?
"Ada apa ini?"
Suara lelaki itu mengagetkan Sherly saat ini yang sedang mengecek keadaan kedua mobil yang sama-sama penyot.
"Kamu!"
Sherly dan lelaki itu sama sama serentak mengucapkan kata kamu, karena mereka masih saling mengingat dengan jelas siapa sosok yang mereka temui saat ini.
"Maaf, aku tidak sengaja karena aku sedang buru-buru," kata Sherly.
"Buru-buru sih boleh, tapi lihat-lihat dulu dong! masa iya mobil diam kamu tabrak?"
"Kan aku bilang tadi nggak sengaja, gimana sih?" lewat Sherly.
Keduanya tidak mempersalahkan kerusakan mobil, tapi malah mempermasalahkan ketidaksengajaan yang dilakukan oleh Sherly.
.
.
🌼 BERSAMBUNG 🌼
HAYO ADA YANG TAHU SIAPA DIA?
__ADS_1