Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 22


__ADS_3

Daisy terpaksa harus menunggu Excel siap menyantap makan malamnya. Sebenarnya Daisy ingin muntah saat melihat makanan yang ada di depannya saat ini. Namun, karena tidak ingin membuat Excel marah, Daisy menahan gejolak dalam perutnya.


Ia bergidik ngeri saat melihat Excel makan dengan lahap menggunakan tangannya. Layaknya seorang yang sedang kelaparan yang sudah tiga hari tidak makan. Apalagi saat Excel bersendawa dengan sangat keras, membuat Daisy merasa geli.


"Kamu sudah selesai makan 'kan? Jadi sekarang aku permisi."


Daisy meninggalkan Excel yang sudah merasa kenyang malam ini tanpa ingin peduli lagi dengan Daisy.


"Mina, apakah Tuan-mu tidak makan selama tiga hari? Mengapa dia sangat terlihat rakus?"


Mina dan beberapa pelayan baru saja siap makan malam hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak Nona. Kami juga heran saat beliau meminta menu makanan yang lain daripada biasa. Kami juga harus mencari daun pisang. Beruntung saja komunitas kami banyak, kami meminta bantuan mereka," jelas Mina.


"Kalian punya komunitas?" Daisy mengernyit heran. Ternyata para pelayan juga punya komunitas juga.


"Iya kami punya komunitas serikat pelayan teladan."


Daisy tak ingin tau lebih banyak karena saat ini dia lapar tetapi dia tidak berselera untuk makan. Kata dokter ini adalah hal yang wajar tetapi tidak boleh sampai mengabaikan kesehatannya.


"Mina, bisakah kamu membelikan camilan ringan ke supermarket? Kamu tahukan aku tidak bisa keluar?"


"Bisa Nona. Sebentar aku ganti pakaian dulu."


Daisy berlalu menuju dapur. Dia membuka laci dimana ada susu khusus ibu hamil yang ia simpan di sana.


Saat ini Daisy belum ingin ada yang tahu jika dirinya sedang hamil. Kata dokter saat ini dia tidak boleh stres dan banyak pikiran karena bisa mempengaruhi janinnya.


Daisy hanya takut jika Excel tahu dia akan semakin membuatnya menderita. Meskipun Daisy tidak mencintai Excel, tetapi anak yang sedang berada di dalam rahimnya tidak berasal. Dia harus mempertahan nyawa tersebut.


*****


Hari-hari dilalui Daisy dengan baik-baik saja. Dia tidak pernah lagi mengerjakan tugas yang diberikan Excel. Bahkan saat ini dirinya jauh lebih bahagia meskipun harus tinggal di dalam tawanan Excel. Semua kebutuhannya saat ini telah dipenuhi oleh Excel. Tak lupa Excel juga memberikan black card untuk Daisy, tetapi itu tidak bisa Daisy gunakan sebab hingga saat ini Daisy tidak diijinkan untuk keluar rumah tanpa dirinya.


Untuk mengusir rasa jenuh yang berlebihan, diam-diam Daisy menyelinap keluar dari gerbang raksasa yang ada di depan rumah Excel. Daisy berhasil memperdaya kedua satpam keamanan dengan mengalihkan tugas mereka.

__ADS_1


Setelah berhasil keluar dari gerbang raksasa, Daisy segera menyetop taksi yang lewat. Maaf Excel, aku harus membuang penat. Aku bosan menjadi tawanan mu.


Excel yang berada di kantor tiba-tiba murka saat melihat rekaman cctv yang ada di rumahnya sedang memperhatikan Daisy yang mencoba kabur lagi. Ternyata tikus kecil itu tidak bosan untuk mencari masalah dengan dirinya. Seharusnya Excel bisa lebih kejam lagi terhadap Daisy, tetapi karena Excel sudah menandatangani surat perjanjian dengan Daisy saat itu maka dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kepada Daisy. Saat ini Excel malah terjebak sendiri dalam permainannya. Niat hati ingin menghancurkan Arathorn melalui putri semata wayangnya, namun ternyata dia sama sekali tidak peduli terhadap nasib putrinya, miris sekali.


Dengan berapi-api Excel segera menghubungi anak buahnya untuk segera menangkap Diasy saat ini juga. Tidak boleh ada kata gagal, begitulah pesan dari Excel


"Sherly, kamu handel kantor. Aku ada urusan!" perintah Excel.


"Apakah ada masalah darurat?"


"Tidak! Ini hanya masalah wanita tikus itu."


Excel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak tahu akan mencari kemana perginya Daisy karena tidak ada petunjuknya.


Sepanjang perjalanan Excel terus mengumpat karena kelalaiannya untuk memberikan alat pelacak kepada Daisy. Dia mengira Daisy tidak akan berbuat nekat untuk kabur lagi.


Jika Excel tengah frustrasi untuk mencari keberadaan Daisy, maka berbeda dengan Daisy yang malah sedang bahagia berada disebuah mall. Setelah sekian lama di terkurung akhirnya hari ini dia bisa bebas menghirup aroma mall seperti dahulu sebelum menikah. Apalagi saat ini dia sudah mempunyai black card yang tidak akan habis untuk memborong isi dalam mall.


Sebuah notifikasi pengunaan kartu debit yang ia berikan kepada Daisy. Sudah di pastikan wanita itu sedang berada di mall. Ia pun segera menghubungi anak buahnya untuk menuju mall yang paling dekat dengan rumahnya.


"Ternyata hanya ke Mall, aku pikir kabur lagi."


Setelah puas berbelanja, Daisy ingin sekali mencicipi sea food yang ada di dalam mall. Selama ini Daisy tidak pernah tahu bagaimana rasanya seafood, karena dia sangat alergi dengan jenis makan laut. Tetapi kali ini dia nekat untuk mencicipinya, siapa tahu alergi itu sudah hilang karena sudah bertahun-tahun lama.


Tak ingin membuang waktunya, Daisy segera memesan makanan yang di inginkan. Mata membulat lebar saat pesanan sudah terhidang diatas meja. Dengan bersemangat Daisy melahab kepiting yang besar sesuai pada gambar iklannya.


Daisy mencoba untuk merasakan perubahan dalam dirinya apakah dia akan merasakan gatal-gatal atau tidak. Untuk beberapa saat Daisy tidak merasa apapun pada tubuhnya, ia yakin jika saat ini alergi itu sudah hilang. Selama ini Daisy menahan diri untuk tidak menyentuh makanan seafood ternyata alergi itu sudah hingga. Begitulah pemikiran Daisy saat ini.


Namun, baru setelah bagian yang ia habiskan tiba-tiba perutnya terasa sakit, semakin lama semakin sakit hingga ia mengeluarkan isi perutnya lagi. Daisy terjatuh dari tempat duduknya, tubuh mengejang di lantai membuat para pengunjung ketakutan.


Sang pemilik restoran merasa sangat ketakutan, ia takut jika Daisy keracunan di restoran miliknya.


"Tolong bantu wanita ini ke rumah sakit." Sang pemilik restoran terlihat sangat panik.

__ADS_1


Daisy sudah menjadi kerumunan orang-orang banyak. Karena tidak ada yang berani untuk mengangkat Daisy, sang pemilik restoran berlari keluar untuk mencari pertolongan. Dengan penuh kegusaran sang pemilik restoran menarik lengan Excel yang sedang mencari keberadaan Daisy.


"Tolong ... Tolong bantu aku. Ada wanita sedang kejang-kejang di restoran ku. Aku mohon, tolonglah aku." Tanpa ada persetujuan dari Excel tubuhnya sudah diseret paksa untuk masuk ke dalam restoran yang telah banyak orang berkerumunan.


"Tolong bantu wanita itu ke rumah sakit." Sang pemilik restoran menujuk ke arah Daisy membuat Excel terbelalak tak percaya melihat Daisy kejang-kejang di lantai.


"Daisy."


Excel tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Saat ini dia berlari sambil membopong tubuh Daisy ke luar dari mall. Tak terpungkiri wajah Excel sangat ketakutan saat melihat Daisy seperti ini, layaknya sedang sakarat maut seperti sinetron yang pernah ia tonton.


"Daisy, dengarkan aku. Kamu harus bertahan! Aku tau kamu wanita kuat."


Excel segera melajukan mobilnya untuk menuju rumah sakit. Hatinya sungguh tidak tenang melihat keadaan Daisy saat ini. Rasa iba kian mendalam sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


Setelah memarkirkan mobilnya, Excel segera berlari sambil membawa tubuh Daisy agar segera mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin.


Selama menunggu Daisy diperiksa oleh dokter, Excel sangat frustrasi. Dia takut jika Daisy akan mati. Excel segera menurunkan perintah kepada anak buahnya untuk menutup restoran yang menyebabkan Daisy kejang-kejang.


Pintu ruangan telah di buka, dengan segera Excel menghampiri dan menanyakan bagaimana keadaan Daisy. Apakah dia masih hidup atau sudah mati. Dokter hanya menggelengkan kepalanya saat mendapatkan pertanyaan seperti itu. Biasa seseorang akan menanyakan bagaimana keadaan pasien apakah dia baik-baik saja, ini malah di tanya apakah masih hidup atau sudah mati.


"Tenang Pak, pasien tidak apa-apa. Apakah pasien memiliki riwayat alergi makanan laut? Kami menemukan bahwa pasien mengalami alergi makanan laut tetapi kami sudah memberikan penawarannya. Namun, berhubung pasien sedang hamil kami tidak bisa memberikan dosis terlalu banyak," jelas sang dokter.


"Hamil ?" Mulut Excel membeo.


.


.


.


🌼 Bersambung 🌼


Hayo .. mana jejaknya. Othor udah Up, ya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2