Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 29


__ADS_3

Excel tetap tidak ingin keluar dari kamar Daisy sebelum Daisy mengatakan kata iya. Namun, sampai kapan pun Daisy tak akan pernah mengatakan kata iya karena dia tidak akan meninggalkan anaknya kelak jika sudah lahir.


Daisy memijat kepalanya yang terasa pusing. Mungkin karena ia tidak makan malam dan tidak meminum vitamin yang diberikan oleh dokter. Dia juga masih kesal dengan Excel yang tak kunjung keluar dari kamarnya.


"Excel pergi, ini sudah tengah malam aku ingin istirahat," usir Daisy.


"Tidak! Aku tidak ingin keluar sebelum kamu mengatakan kata iya."


Daisy hanya bisa membuang kasar nafasnya. Berseteru dengan Excel tak akan ada habisnya Daisy pun memilih untuk menarik selimutnya, melanjutkan tidur yang sudah terganggu akibat perdebatannya dengan Excel.


Kesal karena diacuhkan, Excel ikut merebahkan tubuhnya di ranjang milik Daisy. "Geser!" perintahnya.


Daisy terkejut saat tubuh Excel sudah berbaring di kasurnya dengan detak jantung yang taj beraturan lagi. Keduanya hanya bisa sama-sama membisu meskipun belum bisa memejamkan mata. Keduanya masih saling mencari solusi untuk masalah yang sedang dihadapi.


Excel baru ingat bahwa Daisy tadi sempat memanggil nama Alex. Sebenarnya Excel sangat penasaran dengan nama tersebut. Jika memang Daisy mempunyai hubungan dengan Alex, makan Excel tak akan pernah untuk melepaskan Alex.


"Dai, Panggil Excel.


"Aku tahu kamu belum tidur. Siapa Alex? Apakah dia kekasihmu?"


Saat itu juga jantung Daisy bergerumuh lebih kuat. Dia berharap jika Excel tidak mendengarkan irama detak jantungnya saat ini.


"Apakah kamu akan membunuhnya juga?"


"Belum tahu juga, tergantung siapa dia. Jika dia kekasihmu dan merebut mu, kemungkinan dia tidak akan selamat."


Untuk sejenak waktu, Daisy belum bisa membuka suara. Dia sebenarnya enggan untuk menceritakan siapa Alex. Baginya dia hanyalah bagian dari masa kecil. Mustahil jika dia bisa menemukannya sekarang, apalagi setelah pengobatannya di luar negeri yang memakan waktu lama. Mungkin saja Alex saat ini sudah mempunyai keluarga sendiri. Dada Daisy kini menjadi terasa sesak.


"Apakah kamu ingin tahu. Baiklah akan aku katakan siapa Alex. Mungkin setelah ini kamu akan mencari bahkan bisa jadi kamu juga akan menghabisinya." Daisy menjeda ucapan untuk sejak. Bayang-bayang masa kecilnya melintas lagi dalam pikirannya.


"Dia adalah pahlawanku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa untuk melupakan dia, meskipun aku tidak tahu keberadaannya saat ini. Dia orang yang selalu melindungi ku saat itu," lanjut Daisy.


"Sayang sekali kamu tidak tahu keberadaan dia. Jika dia ada disini pasti dia akan bahagia jika melihatmu telah menikah denganku, bukan begitu?"


"Dia pasti akan bahagia jika melihat aku bahagia. Tetapi dia mungkin akan bersedih jika melihatku sedih. Jika aku bisa mengulang kembali ke masa anak-anak, aku tidak akan pernah mau untuk pergi meninggalkan dia. Kami berdua sama-sama sangat kesepian dan dialah satu-satunya teman yang aku miliki. Sudahlah Excel kamu tak akan paham karena kamu tak punya hati. Sekarang kamu sudah tahu siapa Alex, bisakah kamu pergi dari kamar ini? Aku ingin sendiri."


Excel masih terdiam. Tiba-tiba kenangan masa kecil hadir, dimana saat Daisy terkena tembakan peluru yang hampir saja merenggut nyawanya. Andai saja Sysi bukan dari keluarga yang berada, mungkin nyawanya saat itu tidak bisa tertolong lagi.


"Menyedihkan sekali ceritamu ya?"


"Kenapa? Iba? Aku tak butuh rasa iba darimu."

__ADS_1


"Bukan begitu, aku hanya penasaran dengan sosok Alex sang pahlawanmu. Aku akan memberikan penawaran denganmu. Aku akan mencari Alex-mu, tetapi setelah melahirkan anak itu kamu harus pergi karena saat itu aku juga akan menikah wanita pujaanku, bagaimana?" tawar Excel.


"Mimpi!" balas Daisy.


Hingga hampir fajar tiba, Daisy belum bisa tertidur meskipun Excel sudah pulas dalam alam bawah sadarnya. Jantungnya berdetak lebih kencang hingga membuat rasa nyeri.


Namun, samar-samar Daisy mendengar mulut Excel memanggil nama Sysi. Sama sepertinya tadi, sepertinya Excel sedang bermimpi buruk hingga keringat jagung bercucuran.


"Sysi ... "


Jantung Daisy berdetak tidak karuan lagi. Sedari tadi dia mencoba untuk menetralkan detak jantungnya, kini tiba-tiba harus berdetak lebih kencang lagi.


Excel terus merancau memanggil nama Sysi. Daisy menelan kasar ludahnya, mengapa Excel memanggil namanya? Atau hanya sebuah kebetulan saja?


"Excel kamu mimpi apa sih?"


Excel menggenggam erat tangan Daisy, kemudian tak ada suara lagi. Dia telah kembali tertidur, tetapi tidak dengan Daisy yang masih berpikir keras tentang nama yang disebut oleh Excel.


Excel menggeliat karena merasakan seperti ada yang mengganjal di atas tubuhnya ditambah lagi dia ingin ke kamar mandi. Perlahan dia membuka mata, sebuah tangan sudah melingkar di perutnya.


Ingin rasanya Excel menepis tangan tersebut, tetapi ia melihat wajah damai dari Daisy. Entah mengapa jika dia melihat wajah Daisy lebih dekat rasanya begitu nyaman.


Mata Daisy bertemu dengan mata Excel. "Kenapa?" tanya Daisy segera.


Excel tersenyum sinis. "Bagaimana tidurmu? Pasti nyenyak kan? Apalagi bisa memelukku sepanjang malam. Kamu menang besar ya bisa curi-curi kesempatan."


Daisy segera menarik tangannya dan menjauhkan dirinya dari Excel.


Saat dia hendak beranjak, tiba-tiba dadanya terasa sangat nyeri hingga di mengeluh.


"Aww ... "


Excel yang juga hendak bangkit melihat Daisy jika dia sedang menahan rasa sakit.


"Kenapa?"


Daisy tidak menjawab dia hanya memegangi dadanya yang terasa nyeri.


"Daisy jangan bercanda kamu kenapa? panik Excel.


Setengah jam Excel berusaha sabar menunggu dokter untuk memeriksa keadaan Daisy. Bahkan dia juga mengundur jadwal meeting pagi ini demi untuk menemani Daisy yang ia suruh berbaring saja.

__ADS_1


Setelah dokter tiba, Excel dengan tidak sabar meminta untuk segera memeriksa Daisy. Excel pun tak beranjak dari samping Daisy. Kali ini dia benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan Daisy.


Saat dokter memeriksa bagian yang sakit, mata Excel hanya melirik saja, beruntung saja dokter itu perempuan, jika laki-laki mungkin Excel akan segera mengusirnya.


"Bagaimana keadaan, Dok?" tanya Excel segera.


"Sudah berapa lama Nona tidak mengkonsumsi obatnya?"


"Maksud dokter?"


"Seperti uka tembak yang hampir mengenai jantung, mengharuskan Nona harus tetap rutin untuk mengkonsumsi obatnya, jika tidak pasti akan seperti ini, sesak dan nyeri. Apakah anda tidak tahu riwayat penyakit Nona? Nanti saya kasih resepnya silahkan di tebus di apotek," jelas


Tubuh Excel membeku mendengar penjelasan dari dokter. Bagaimana tidak, Excel sama sekali tidak tahu menahu jika Daisy ternyata mempunyai luka tembak sama persis seperti milik Sysi. "Alex ..." guman Excel.


Setelah dokter pergi Excel segera menghampiri Daisy yang masih memegangi dadanya.


"Sysi ... "


Daisy segera menatap Excel yang sudah berada di depannya yang sulit diartikan.


"Ada apa?" tanya Daisy.


.


.


.


.


🌹 Bersambung 🌹


Aku datang lagi. Mana absen kalian 🔨🔨


Selagi menunggu aku up lagi mampir dulu ke novel temen aku. Mampir ya !!


Judul Novel : Dokter Misterius VS Mafia Kejam


Author : Anisyah S


__ADS_1


__ADS_2