
Danzel mencari tahu tentang Violet. Dia menemukan cara agar dia bisa lebih dekat dengan calon istri kakaknya itu. Danzel menawarkan diri untuk mengatur pembangunan restoran untuk Violet. Dia pun mendatangi Ruli.
"Saya suka konsepnya, tapi wajah Anda seperti familiar."
"Mungkin Anda mengenal kakak saya. Namanya Justin Melviano."
"Pantas saja, nama belakang kalian juga sama. Justin tidak pernah bilang kalau dia punya adik laki-laki."
"Selama ini saya tinggal di luar negeri."
"Ow, kebetulan sekali. Kenapa kamu tidak mengikuti kakakmu untuk membangun bisnis bersama?" tanya Ruli.
"Setiap orang punya keinginan yang berbeda bukan? Jadi saya tidak mau memaksakan diri untuk mengikuti orang lain. Saya ingin berdiri dengan usaha saya sendiri." Ruli merasa bangga mendengar jawaban Danzel.
"Saya suka prinsip kamu. Baiklah, soal interior saya serahkan pada kamu. Saya percaya kamu akan membuat restoran itu disukai Violet dan para pengunjungnya.
Usai pertemuan itu, Danzel kembali ke rumah Justin. Dia mengemasi barang-barangnya. "Kamu mau pergi ke mana?" tanya Justin.
"Aku akan pindah. Jangan sampai nenek mengetahui kepulanganku. Aku malas jika ditanya kapan nikah," ucap Danzel. Justin malah tertawa.
Setelah itu Justin mencari apartemen. Dia menemukan apartemen yang lokasinya tidak jauh dari restoran yang akan dibangun untuk Violet. "Begini lebih baik." Danzel bisa melihat tanah kosong yang kelak akan dijadikan restoran mewah untuk wanita yang dia sukai.
Sementara itu Justin merasa risau karena sudah beberapa hari tidak menghubungi Violet. Dia pun mengalah dan mengajak Sabrina ke rumah orang tua Violet. "Vio sedang tidak ada di rumah."
"Ke mana dia, Tante?" tanya Justin pada Jingga.
__ADS_1
"Cyan mengajaknya melihat pertandingan renang antar SMA yang di pusatkan di sekolah Cyan dan Albiru," jawab Jingga.
"Hah? Apa kalian tidak tahu kalau Violet trauma jika melihat air?" tanya Justin. Jingga langsung memegang dadanya karena khawatir.
"Tante akan hubungi Cyan." Jingga mengambil ponselnya. Namun, ketika dia mencoba menghubungi anaknya, ponselnya tidak diangkat.
"Bagaimana ini Cyan tidak bisa dihubungi?" Jingga benar-benar khawatir dengan Violet.
"Tante, titip Sabrina biar aku yang akan menyusul Violet. Beri tahu di mana alamat sekolah Cyan!" Jingga mengangguk paham.
Sementara itu, Cyan sedang menggandeng tangan kakaknya saat melewati banyaknya penonton di gedung sekolahnya. "Kak tunggu di sini ya!" Aku beli minum dulu." Violet mengangguk.
Tak lama kemudian Biru datang. "Kak," panggil Biru. Ini pertama kali dia memanggil Vio dengan sebutan kakak. Violet pun menoleh.
"Ayo ikut aku! Di sini kamu tidak akan kelihatan." Violet ingin menolak tapi Albiru langsung menarik tangannya dan mengajak Violet berpindah tempat.
"Aku ingin pindah," ucap Violet. Albiru menahannya. Violet mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Cyan. Albiru melihat kegelisahan Violet tai dia tidak tahu kalau Vio memiliki trauma pada air.
"Tolong rekam aku saat pertandingan." Pemuda itu memberikan ponselnya kepada Violet. Violet mengerti jika adiknya itu ingin moment pertandingannya diabadikan. Mau tak mau Violet pun menuruti perintah Albiru. Pemuda itu tersenyum miring.
Ketika Albiru mulai melakukan pertandingan Violet pun merekam adiknya hingga selesai. Namun, ketika dia sedang melihat hasil rekamannya, seseorang menyenggol dia hingga Vio terjatuh ke dalam kolam.
Kemudian seseorang melepas jas yang dia kenakan lalu menceburkan diri ke dalam kolam renang. Sementara Cyan yang melihat kakaknya terjatuh menjadi panik.
Di saat yang bersamaan Justin juga melihat Violet terjatuh ke dalam kolam. Namun, dia urung menolongnya karena seseorang lebih dulu menolong Violet.
__ADS_1
"Tolong jangan berkerumun!" teriak Cyan agar tidak menghalangi jalan Danzel. Ya, saat itu Danzel diundang ke sekolah Cyan dan Albiru karena neneknya adalah donatur di sekolah tersebut. Danzel menggantikan neneknya menghadiri undangan dari pihak sekolah karena neneknya tidak berminat menghadiri acara seperti itu. Kemudian dia menyuruh Danzel datang untuk menghargai undangan tersebut. Entah kenapa Danzel langsung setuju saat itu.
Danzel membaringkan Violet di tepi kolam. Dia pingsan. Danzel memompa perutnya agar air yang ada di dalam perutnya keluar. Tak juga sadar Danzel memberikan nafas buatan beberapa kali untuk Violet. Violet pun bisa bernafas dengan lancar kembali.
Di sisi lain Justin yang melihat tindakan adiknya itu sedang menahan marah. Walau Danzel hanya berusaha menolong Violet, tapi tindakannya mencium calon istrinya itu tidak bisa diterima oleh Justin.
Cyan merasa lega karena kakaknya bisa diselamatkan. "Terima kasih, Kak Danzel. Lagi-lagi kamu menolong kakakku," ucap Cyan dengan tulus. Danzel mengangguk.
"Sebaiknya kita bawa Violet pulang," usul Danzel. Dia menggendong Violet yang masih setengah sadar. Kemudian Cyan mengikutinya. Karena tadi dia berangkat menggunakan motor, Cyan menitipkan motornya pada temannya. Dia ikut ke mobil Danzel.
Sementara Albiru menemui orang yang menyenggol kakaknya hingga terjatuh ke dalam kolam. "Ingat jangan sampai ada yang tahu!" Orang itu mengangguk paham. Dia adalah OB yang bekerja di sekolahnya. Laki-laki itu mengangguk pelan.
***
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah Violet dia uring-uringan.
Setibanya di rumah Vio, rupanya mobil Danzel lebih dulu berada di sana. Justin menyembunyikan kemarahannya.
Justin bergabung dengan yang lainnya untuk melihat keadaan Violet. "Mas," panggil Vio.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Justin. Vio mengerutkan keningnya. Dia bertanya-tanya dalam hati apakah Justin juga berada di sana saat dia tercebur ke kolam.
Justin menatap tidak suka pada Danzel. Danzel pun memberikan tempat untuk Justin. Vio menatap kepergian orang yang telah menolongnya. "Vio," panggil Justin ketika dia menyadari Violet menatap ke arah Danzel.
"Nak Justin bisakah memberikan waktu untuk Violet agar beristirahat. Mari!" ajak Jingga menengahi situasi yang agak canggung.
__ADS_1
Justin berpamitan pada Violet. "Aku pulang dulu bersama Sabrina." Justin tak mau kalah dengan adiknya dia pun mencium kening calon istrinya itu.
Setelah itu giliran Sabrina yang berpamitan. "Mama cepat sembuh ya. Nanti kita tinggal bareng-bareng bertiga." Violet mengangguk tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.