
Hari ini Fabian mendatangi rumah Wanda atas permintaan Lidia untuk menemui Jingga. Ketika Wanda mendengar suara bel rumahnya berbunyi dia membukakan pintu.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Wanda. Dia kesal pada putranya sendiri. Meski dia adalah ayah bayi yang telah dilahirkan Jingga tapi dari awal bayi itu keluar rumah sakit, tak sedikitpun niat Fabian menemui anaknya.
"Ma, kok gitu sih responnya. Aku datang ke sini baik-baik."
"Kalau kamu orang baik kamu nggak akan mengabaikan anak dan istrimu," balas Wanda.
"Aku ke sini ingin melihat anakku." Fabian menerobos masuk. Dia mencari keberadaan Jingga dan anaknya.
Saat itu Jingga sedang memberikan ASI. Fabian pun mematung di ambang pintu ketika melihat dada Jingga terekspos sempurna. Dia menelan ludahnya kasar melihat bagian dada Jingga yang begitu putih.
"Kenapa berhenti?" tanya Wanda. Dia bukannya tidak tahu kalau Fabian sedang memperhatikan buah dada Jingga. Tapi, dia sengaja meledeknya.
Fabian pun terkesiap. Dia kemudian masuk ke dalam kamar itu. Jingga yang menyadari suaminya datang lalu mengubah posisinya. "Apa Mas sudah lupa cara bersopan santun?" cibir Jingga.
"Apa aku tidak boleh menemui anakku?" tanya Fabian. Jingga langsung memicingkan mata.
"Aku kira kamu tidak mengakuinya," ledek Jingga.
"Aku hanya ingin melihatnya sekali." Ucapan Fabian sungguh terlalu. Dia seolah tidak ingin menemui anaknya lagi. Jingga jadi menahan tangis.
Walau begitu dia memberikan Violet pada ayahnya. Ini pertama kalinya Fabian menggendong bayi. Meskipun dia sudah mendapatkan dua orang keponakan dari adiknya, April. Tapi Fabian belum pernah menggendongnya.
Fabian berkaca-kaca ketika melihat bayi mungil yang sedang tertidur itu. Anaknya begitu cantik. Fabian merasa terharu ketika tangannya menyentuh kulit bayinya yang begitu halus.
Akan tetapi sesaat kemudian dia tersadar dan mengembalikan anak itu pada Jingga. "Aku tidak bisa lama-lama." Fabian segera memberikan anak itu pada ibunya.
"Keterlaluan kamu, Fab," tegur Wanda. Dia menahan langkah Fabian.
__ADS_1
"Kamu benar-benar membuat mama kecewa. Bisa-bisanya kamu datang seperti tamu kemudian pergi. Mereka itu anak istri kamu."
"Lantas?"
"Lantas katamu?" tanya Wanda balik.
Plak
"Kamu pantas mendapatkan tamparan dari mama. Agar kamu sadar tanggung jawabmu sebagai seorang suami sekaligus ayah. Sebenarnya apa yang membuat kamu berubah seperti ini, Fab?" tanya Wanda dengan nada kecewa.
Suatu hari Fabian bertemu dengan Axel. Dia mengarang cerita kalau sebelum Fabian menikahi Jingga, dia telah lama mengenal wanita itu. Saat itu Fabian merasa dibohongi. Dia sangat kecewa.
Axel juga mengaku kalau dirinya pernah berhubungan badan dengan Jingga. Sejak saat itulah Fabian mengira anak yang dikandung Jingga itu bukanlah anaknya. Tapi karena desakan dari orang-orang di sekitarnya. Fabian yang awalnya membenci Jingga berubah menjadi peduli walau dalam konteks terpaksa.
Hingga saat ini pun dia tidak bisa terima kalau anak itu adalah anaknya karena hasutan Axel. Ya, Axel sengaja mengarang cerita agar rumah tangga Fabian jadi berantakan.
"Pulanglah, Mas. Jangan kembali ke sini. Kalau perlu ceraikan aku!" Ucapan Jingga yang spontan itu membuat Fabian berbalik badan dan menghampiri Jingga.
"Aku talak kamu mulai hari ini. Kita bukan suami istri lagi, paham?"
Jingga berusaha tegar. "Aku terima dengan perceraian ini."
Setelah Fabian pergi Jingga meluapkan kekesalannya. Dia menangis sepanjang hari. Ketika Erik datang mengunjungi menantu dan cucunya di rumah mantan istrinya. Dia melihat Jingga sedang menangis di bangku taman bagian samping rumah.
"Ada apa Jingga?" tanya Erik yang mencari tahu.
"Aku sudah menjadi orang lain, Pa. Aku bukan menantu papa lagi," kata Jingga.
Erik tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Jingga. "Jelaskan pada papa!"
__ADS_1
"Mas Fabian menceraikan aku," jawabnya lirih. Erik merasa sedih tapi dia tidak berhak ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Baginya itu lebih baik dari pada Jingga selalu tersakiti.
Erik menghela nafas. Yang dia takutkan ternyata terjadi. "Jangan bersedih. Meski kamu bukan menantu papa lagi tapi papa akan menganggap kamu seperti anak papa sendiri. Jadi mintalah sesuatu jika kamu membutuhkan papa. Papa akan selalu ada buat kamu." Jingga mengangguk pelan. Ucapan Erik yang lembut dan bijaksana membuat Jingga luluh.
Tak lama kemudian Wanda memberikan Violet pada Jingga. "Sepertinya dia mencari kamu," kata Wanda. Jingga mengambil alih gendongan anaknya dari tangan mantan mertuanya itu. Kemudian dia menimang anaknya. ..
"Manja banget sih Dek. Maunya digendong mama terus," ucap Jingga sambil melihat anaknya yang anteng ketika berada di tangannya.
"Bolehkah aku menggendong cucuku?" tanya Erik. Jingga memberikan anaknya pada Erik.
Dia melihat sendu ke wajah bayi itu. Orang tuanya baru saja bercerai, tapi dia yakin hak asuh akan jatuh ke tangan Jingga karena bayi itu masih membutuhkan ibunya.
"Jingga, mulailah kehidupan baru. Bercerai dari anak papa bukan berarti kehidupan kamu berhenti. Justru kamu tidak perlu merasa tersakiti lagi. Papa sedih melihat kamu menangis seperti ini. Mulai besok papa ingin kamu kembali ceria."
"Iya, Pa," jawab Wanda.
"Kami selalu mendukung kamu Jingga." Wanda memeluk Jingga erat.
Di tempat lain Fabian meminta Imam mengurus surat perceraiannya dengan Jingga. "Apa Bos? Bercerai?" tanya Imam memastikan pendengarannya masih bagus atau tidak.
"Iya, cerai."
"Sama Lidia?" tanya Imam. Fabian langsung menatap Imam dengan tatapan elang. "Bukan. Aku bercerai dari Jingga. Tulis saja dia yang minta," ucap Fabian dengan enteng.
Imam merasa kecewa dengan sikap sahabatnya. "Yakin ya? Elo lagi nggak sedang mabok kan?" Ledek Imam. Fabian melempar pulpen yang dia pegang. Imam pun mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Fabian.
"Aku kira kamu menyukai Jingga. Ternyata kamu lebih menyukai wanita ular seperti Lidia."
Pada waktu beberapa saat lalu. Imam menemukan sebuah Flashdisk. Dia penasaran siapa yang menjadi pemilik flashdisk tersebut. Jadi dia membuka isinya. Tak disangka Imam melihat rekaman CCTV yang berisikan Fabian tengah menggagahi Jingga delapan bulan yang lalu.
__ADS_1