Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Semut kecil


__ADS_3

Hari ini Jingga berbelanja kebutuhan sehari-hari di mall sendirian. Dia menitipkan Violet pada ayahnya. Jingga memutuskan tida mengajak Violet karena kondisi cuaca yang kurang bagus dan sering hujan. Jingga khawatir anaknya merasa kedinginan.


Brug


Jingga tak sengaja menabrak seseorang ketika dia berjalan mundur. "Maaf," ucap Jingga sedikit menyesal.


Laki-laki itu mematung ketika melihat Jingga. "Kamu Jingga bukan?" tanya Leo.


"Maaf, saya lupa. Bolehkah saya tahu Anda ini siapa?" tanya Jingga cukup hati-hati.


Leo mengulurkan tangan. "Aku Leo, kapten tim basket di sekolah yang sama denganmu dulu." Jingga membalas uluran tangan laki-laki itu dengan ragu.


"Apa kita seangkatan?" tanya Jingga dia benar-benar lupa dengan wajah itu.


"Tidak, aku dua tingkat di atas kamu," jawab Leo.


'Owh, seangkatan dengan Mas Adli kalau begitu,' gumam Jingga dalam hati.


"Kalau begitu saya duluan. Saya ingin meneruskan belanja," pamit Jingga. Namun, Leo agaknya tidak rela ketika Jingga pergi. Dia memegang tangan Jingga yang menempel di pegangan troli. Sayangnya Jingga menepis tangannya.


"Maaf," ucap Leo ketika menyadari bahwa Jingga merasa tidak nyaman. "Bagaimana kalau kita makan siang dulu?" ajak Leo.


"Saya ada urusan lain," tolak Jingga.


Leo berpikir sejenak. 'Jangan membuat dia takut. Kamu harus bersabar agar tidak kehilangan dia,' batin Leo.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa lagi. Aku berharap kita akan bertemu di kesempatan lain," ucap Leo dengan lembut. Jingga mengangguk hormat lalu pergi.


Sebagai seorang wanita yang beristri dia tidak mungkin memberikan kesempatan laki-laki lain untuk mendekatinya. Jingga tidak mau jika ada orang yang salah paham ketika melihat dirinya dan Leo.


Leo hanya bisa menatap punggung Jingga yang semakin menjauh. Tak lama kemudian Leo mendapatkan telepon dari Meisya. "Hallo, ada apa?"


"Kak katanya mau antar aku menemui Kak Adli?" rengek Meisya di sambungan telepon saat ini.


"Baiklah, setengah jam lagi kita ketemu di alamat yang aku kirim melalui pesan singkat. Aku tidak ada waktu buat menjemput kamu. Bawa mobil sendiri lalu kita ketemu di sana!"


"Oke. Aku akan meluncur setelah mendapat pesan darimu," jawab Meisya bersemangat.


Leo pun menuju ke parkiran mobil. Di saat yang bersamaan, hujan turun dengan deras siang itu. Leo melihat Jingga selesai membayar di kasir lalu dia berdiri di depan. Leo pun mendekat. "Kamu tidak bawa mobil?" tanya Leo. Jingga menggeleng.


"Aku naik taksi," jawab Jingga.

__ADS_1


"Aku bisa antar kamu pulang." Leo menawarkan tumpangan.


"Tidak, terima kasih. Aku sudah pesan taksi," tolak Jingga. Tak lama kemudian sebuah mobil taksi berhenti di depannya. Jingga merasa beruntung. Dia bisa menghindar dari Leo.


"Maaf, saya duluan," pamit Jingga dengan sopan. Leo dua kali dibuat kecewa tapi dia tidak akan menyerah hingga bisa mendapatkan hati Jingga.


Sejak dulu Leo naksir dengan Jingga. Sama seperti Adli. Tapi Adli tidak tahu kalau diam-diam Leo mengamati Jingga tiap kali gadis itu berada di perpustakaan. Leo yang tidak suka membaca buku tiba-tiba memasuki perpustakaan hanya untuk mengamati Jingga yang suka menghabiskan waktu di dalam sana.


Setelah kepergian Jingga, Leo mengirim pesan pada adiknya. Lalu dia pun meluncur ke kantor Adli. Leo mendapatkan alamat tersebut setelah bertukar kartu nama.


Setengah jam kemudian Leo tiba di depan kantor Adli. Saat itu dia melihat Meisya sudah sampai di sana lebih dulu. Leo pun menghampiri adiknya. "Kenapa lambat sekali jalannya?" protes Meisya. Dia memang selalu bersikap manja pada sang kakak.


"Jalannya macet," jawab Leo sekenanya.


"Ya sudah, ayo masuk! Aku udah dandan cantik begini," kata Meisya sambil memperlihatkan dandanannya.


"Cantik dari mana? Sejak kapan kamu pakai make up setebal ini?" ledek Leo. Tiba-tiba sekelebat bayangan Jingga melintas di pikirannya.


"Kak, ngapain kamu senyum-senyum?" tanya Meisya ketika berada di dalam lift.


"Kakak habis ketemu sama cewek cantik," jawab Leo.


"Oh ya? Apa dia teman kakak? Cantikan mana sama aku?" tanya Meisya dengan percaya diri.


"Aku hanya ingin berdandan supaya lebih terlihat dewasa di depan Kak Adli. Aku rasa dia tidak menyukaiku karena aku kurang dewasa."


"Terserah kamu," jawab Leo.


"Adli ada?" tanya Leo pada salah seorang pegawai Adli.


"Pak Adli ada di ruangannya?" jawab karyawan wanita itu.


Meisya yang sudah tidak sabar, menerobos ke ruangan Adli tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Adli yang sedang berkonsentrasi mengetik sesuatu di laptopnya jadi terganggu.


"Sorry, Bro. Dia merengek minta diajak ke sini," seru Leo.


Adli menutup laptopnya lalu berdiri. Meisya berlari ke arah Adli lalu memeluknya tiba-tiba. Adli ingin melepas pelukan Meisya tapi gadis itu tak mengizinkannya. "Kak Adli aku kangen."


"Meisya jangan seperti ini," ucap Adli. Adli melihat ke arah Leo agar bisa membawa pergi adiknya. Leo malah tertawa. Adli pun merasa kesal.


"Kak, aku merindukan kakak."

__ADS_1


"Meisya ini jam kerja. Aku masih banyak pekerjaan."


"Aku tidak akan menganggu. Aku akan menunggumu sampai jam pulang kerja nanti. Kak Adli kalau mau lanjut kerja lagi boleh."


Adli memejamkan mata. Bagaimana memberi pengertian pada gadis ini tapi tanpa menyakiti perasaannya. Adli sudah menganggap adik Leo itu seperti adiknya sendiri.


"Bagaimana kalau kamu pergi bersama Rizky? Aku akan menelepon dia untuk menemani kamu jalan-jalan. Jam segini dia sudah selesai bekerja."


"Memangnya Rizky kerja di mana?" tanya Leo.


"Dia seorang pengajar di sebuah sekolah dasar," jawab Adli.


"Benarkah? Kenapa dia tidak mengikuti jejakmu sebagai pebisnis?" tanya Leo.


"Aku tidak tahu. Bukankah setiap orang memiliki cita-cita yang berbeda?" jawab Adli.


"Tidak mau. Aku maunya pergi sama kakak." Meisya mendorong Adli hingga terduduk di kursinya lalu Meisya duduk di pangkuan Adli.


Tiba-tiba Helmi datang bersama Karin. Mereka melihat pose yang tak biasa itu. Karin cepat-cepat mengambil foto itu agar dia bisa memperlihatkannya pada Jingga. "Adli," bentak Helmi.


Adli merasa gugup. "Pa, ini nggak seperti yang papa lihat." Adli mencoba menjelaskan.


Mendengar kata papa Meisya datang menghampiri laki-laki yang dia klaim sebagai calon mertuanya itu. "Hallo, Om. Saya Meisya pacar Kak Adli," ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Helmi makin terkejut. Dia pun menatap tajam pada putra sulungnya itu. "Papa tidak pernah mengajari kamu menjadi lelaki breng*sek Adli." Helmi merasa kecewa.


"Pa, dia itu hanya asal bicara." Adli tidak tahu bagaimana cara meyakinkan ayahnya.


"Tidak, aku sangat menyukai Kak Adli. Apa salah jika kami berpacaran?" sela Meisya. Adli semakin kesal.


"Tutup mulut kamu!"


Leo tidak terima ketika adiknya dibentak. "Sopan sedikit pada adikku." Dia berjalan mendekat lalu mencengkeram kerah Adli.


Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?


...♥️♥️♥️...


Masih suasana lebaran, bagi yang masih merayakannya aku ucapkan selamat berkumpul dengan keluarga. Jangan lupa ikuti cerita ini setiap hari ya.


Subscribe dan jangan lupa kirimkan vote sebagai hadiah.

__ADS_1


Selamat menikmati liburan.


__ADS_2