
Hari ini Helmi diperbolehkan pulang. Rizky membantu ayahnya berkemas. Dia tidak lagi membicarakan soal pernikahan pada Helmi. Rizky takut penyakit jantung ayahnya akan kumat.
Setibanya di rumah, Karin menyambut kedatangan suaminya. "Mas, akhirnya kamu pulang juga," kata Karin. Helmi cuek tak menanggapi istrinya sama sekali.
Selama 3 hari dua malam Helmi dirawat, Karin sama sekali tidak menjenguknya. Dia sibuk menghabiskan waktu bersama Edward.
"Untuk apa kamu pura-pura peduli padaku? Bukankah kamu sedang bersenang-senang selama aku terbaring di rumah sakit?" tuduh Helmi.
"Mas, aku tidak menunggui kamu karena kamu tahu sendiri kan kondisiku sedang hamil besar. Bukankah tidak bagus kalau aku berlama-lama di rumah sakit?" tanya Karin. Dia memberikan alasan yang masuk akal agar suaminya percaya.
Helmi malas berdebat. Dia memilih pergi ke kamarnya untu beristirahat. Sementara Rizky pergi menemui abangnya.
"Bagaimana sekarang, Bang? Ayah Talita mendesak aku untuk menikahi anaknya, sedangkan kondisi papa masih dalam masa pemulihan." Rizky meminta solusi pada Adli.
"Mintalah orang tua calon tunanganmu itu untuk bersabar hingga kondisi papa membaik. Baru setelah itu perkenalkan pada papa secara langsung."
"Bagaimana kalau kamu ajak dia ke sini dulu?" usul Jingga yang menyela pembicaraan antara suami dan adik iparnya itu. Rizky mengangguk setuju.
Lain waktu, Rizky mendatangi rumah Talita. "Akhirnya kamu datang juga. Talita ada di dalam,hari ini kondisinya kurang baik. Kamu bisa menengoknya sendiri," ucap Pak Azam, ayah Talita.
Pak Azam mengantar Rizky hingga ke depan kamar Talita. Ketika dia masuk, Talita meringkuk di bawah selimut. "Aku kira kamu berbohong," gumam Adli.
__ADS_1
Talita membuka selimutnya kemudian berusaha bangkit. "Berbaring saja kalau masih pusing!" perintah Rizky.
"Aku hanya demam sedikit tidak masalah," ucap Talita.
Rizky duduk di kursi yang tersedia di kamar Talita. "Aku ingin bicara padamu." Rizky menata degup jantungnya yang berdebar sangat kencang. "Aku bersedia menikahi kamu."
Talita sangat bahagia ketika mendengar kalimat itu langsung dari mulut Rizky. "Aku sangat senang. Terima kasih banyak," ucap Talita dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi tidak dalam waktu dekat karena papaku baru saja keluar dari rumah sakit. Tunggu hingga dia sembuh terlebih dulu," sambung Rizky.
"Tentu saja, aku tidak keberatan. Mulai sekarang kita pacaran bukan?" tanya Talita memastikan. Rizky mengangguk pasrah.
"Baiklah, aku hanya ingin menyampaikan hal itu padamu." Rizky berdiri dari tempat yang dia duduki. Talita mengangguk.
Rizky berpamitan pada orang tua Talita. Kemudian dia pulang ke rumah. Ketika berada di jalan dia melihat toko buah segar yang buka. Rizky pun mampir ke toko buah itu.
"Kira-kira Jingga suka yang mana, ya?" gumam Rizky yang memikirkan istri kakaknya itu.
"Pak, buah yang bagus untuk wanita hamil yang mana?" tanya Rizky pada penjual buah itu.
"Kebanyakan suka yang rasanya masam, Den," jawabnya.
__ADS_1
"Baiklah, beli mangga saja pak dua kilo."
"Sama apa lagi, Den? Masa buat istrinya cuma beli satu macam saja?"
"Tambah durian aja," jawab Rizky.
"Sebaiknya istrinya tidak boleh makan makanan yang mengandung gas. Nanti perutnya kembung, Den." Rizky pun menurut penjual buah itu.
Usai membayar Rizky membawa pulang buah itu. "Wah, buahnya buat aku ya?" tanya Karin saat menyerobot keranjang buah itu.
"Bukan, ini bukan buat kamu." Rizky berkata tegas.
"Dih, pelit!" cibir Karin. Rizky melihat buah-buahan yang dia beli.
"Bagaimana menyampaikan buah ini pada Jingga?" gumam Rizky. Sesaat kemudian Mario mendekat.
"Bagi buahnya!" Dia menyerobot satu buah mangga dari meja. Rizky tak memarahainya. "Ambil saja!"
Dia justru meminta Mario menghabiskan buah yang dia beli. Rizky tak mau abangnya salah paham padanya.
...***...
__ADS_1
VOTE nya ditambahin dong!