Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Kode


__ADS_3

Hari ini Violet mengadakan pembukaan untuk restoran barunya. Semua orang diundang olehnya di acara tersebut. "Selamat ya sayang." Jingga memeluk Violet.


"Terima kasih, Ma."


Dari arah lain seseorang yang memakai jas lengkap berwarna abu-abu berjalan dengan gagah mendekat ke arah Violet. "Selamat." Danzel memberikan bunga yang dia sembunyikan di belakang punggungnya. Bunga itu berukuran cukup besar.


Violet menerima dengan senang hati. "Terima kasih."


Justin yang juga hadir di acara itu mengepalkan tangan karena merasa cemburu. Dia mengambil minuman lalu meneguknya hingga tandas.


Di hari pertama buka, restoran Violet cukup ramai. Banyak tamu yang berdatangan termasuk tamu yang tidak diduga. Violet berbalik badan ketika melihat Karla. 'Untuk apa kamu takut? Kamu bukan Violet yang dulu. Banyak orang-orang yang mendukungmu saat ini,' gumam Vio menyemangati dirinya sendiri.


Vio pun berbalik badan dan seolah tidak mengenal Karla. Karla terkejut ketika melihat Violet. Tapi dia tidak bisa gegabah. Dia tidak bisa menangkapnya begitu saja saat ini.


Karla pun mengedarkan pandangan ke arah lain. Dia tersenyum ketika melihat Justin. Karla pun berjalan mendekat ke arah mejanya. Rian yang saat itu melihat Karla memberikan kode pada Justin. Justin pun seketika berdiri untuk menghindarinya.


"Kenapa kamu pergi Tuan Justin?" tanya Karla. Justin seketika menghentikan langkahnya.


"Aku tidak ada urusan denganmu di tempat umum seperti ini," jawab Justin. Ketika keduanya berbicara, Vio sempat memperhatikan. Dia curiga Justin mengenal Karla.


"Oh iya, aku lupa memberi tahumu. Sonya hamil saat ini. Dia menolak menggugurkan kandungannya."


Justin terdiam. "Untuk apa memberi tahuku sesuatu yang tidak penting?"


Karla tersenyum. "Itu anak Anda, Tuan." Justin langsung melirik tajam ke arah Karla.

__ADS_1


"Jangan bicara omong kosong!" Justin agak cemas karena seingatnya dia tidak memakai pengaman saat berhubungan badan dengan wanita bayarannya itu.


"Kalau Anda tidak percaya datanglah dan buktikan sendiri. Sebaiknya Anda segera membawa wanita itu. Aku tidak menampung orang sok suci yang melindungi bayi dalam kandungannya."


Justin merasa risau. Bagaimana kalau benar wanita itu mengandung anaknya? 'Tidak, ini tidak boleh terjadi,' pikir Justin.


"Apa ada masalah, Pak?" tanya Rian.


"Dia mengancamku," adunya.


"Apa perlu kita bereskan wanita itu?" Rian melirik ke arah Karla.


Justin pun menatapnya. Dia mengerutkan kening ketika melihat Karla menghampiri Violet. "Kamu beruntung dipungut oleh keluarga kaya," ledek Karla dengan berbisik ke telinga Vio.


Vio tersenyum miring. "Bukankah seharusnya kamu tidak bisa meremehkanku lagi mulai sekarang? Aku bisa menggunakan kekuasaan orang tuaku untuk menghancurkan bisnismu itu dalam waktu semalam," ancam Vio. Dia tidak mau kalah dari Karla yang selalu menghantuinya.


"Berhenti menggangguku. Aku akan melupakan semua perbuatan jahatmu padaku asal kamu tidak lagi mencampuri urusanku."


Karla tersenyum smirk. "Baik, tidak masalah. Tapi kamu harus ganti rugi."


Vio tersenyum meledek. "Aku tidak akan memberikan sepeser pun uang untukmu karena bukan aku yang menerima uangmu," ucap Vio dengan nada dingin.


Karla yang tersulut emosi hampir saja menampar Vio kalau saja tangannya tidak ditahan oleh Danzel. "Bukankah sudah kuperingatkan padamu waktu itu? Apa perlu aku ingatkan?" Danzel melirik ke arah security. Karla pun menghempaskan tangan Danzel. Dia tidak mau membuat masalah dan berakhir di jeruji besi. Karla memilih pergi. Sekilas dia melirik ke arah Justin. Namun, laki-laki itu membuang muka.


"Apa Justin mengenalnya?" gumam Danzel ketika melihat sekilas interaksi Karla dan kakaknya itu.

__ADS_1


"Apa kakakmu sering ke klub malam? Mami Karla memiliki klub malam yang menjajakan para wanita di tempat itu," ucap Violet.


"Aku tidak pernah tahu tentang kehidupan kakakku karena aku tinggal di luar negeri. Apakah mungkin dia ke sana karena selama ini membutuhkan pelampiasan hasratnya?" gumam Danzel terang-terangan di depan Vio.


"Jangan tanya padaku," jawab Violet sewot.


"Vio, apakah dulu kamu sama sekali tidak pernah berhubungan badan dengan Justin?" Vio langsung menatap tajam pada Danzel.


Dia pun memiliki ide untuk menggodanya. "Apa kamu mau lihat sendiri apakah aku masih perawan atau bukan?"


Danzel tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia menarik pinggang Vio. "Apa boleh?" goda Danzel. Vio pun gelagapan. Niatnya menggoda Danzel malah berakhir buruk.


Violet berusaha melepaskan diri. "Aku akan berteriak," ancam Vio pada Danzel.


"Berteriak lah! Lebih baik kita segera dinikahkan. Aku tidak sabar ingin membuktikan apakah kamu masih perawan atau tidak?" bisik Danzel di telinga Violet sambil meniupnya pelan. Darah Violet langsung berdesir.


"Jangan macam-macam!"


Danzel melepas pegangan tangannya ketika melihat Adli. Vio yang tidak siap mendadak jatuh ke lantai. "Sialan!"


Danzel terkekeh melihat tingkah Vio. "Vio ngapain kamu duduk di lantai?" tanya Adli.


"Owh, aku sedang mencari cincinku yang jatuh, Pa." Violet beralasan.


"Sudahlah jangan cari lagi nanti pasti kamu dapat gantinya." Adli mengira cincin yang hilang itu adalah pemberian Justin. Adli ingin Vio melupakan Justin dan berpindah ke lain hati. Dia ingin putrinya mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya karena Adli telah menyelidiki kebiasaan Justin yang keluar masuk klub malam.

__ADS_1


"Apa boleh aku yang membelikan dia cincin Om?" Adli pun tersenyum mendengar pertanyaan Danzel.


__ADS_2