
"Mas, katanya anak papa sudah lahir?" tanya Jingga. "Apa kita tidak sebaiknya menjenguk adikmu?"
"Aku tidak yakin kalau dia anak papa." Adli malah menjawab lain. Jingga mengerutkan keningnya.
"Maksud Mas Adli apa?"
"Karin selingkuh dengan pria lain," ungkap Adli.
"Kita tidak bisa menuduh orang sembarangan, Mas."
"Kamu benar. Semoga kelakuan Karin cepat terbongkar."
Di tempat lain, Lidia datang menjenguk Karin yang kemarin melahirkan. "Ya ampun, kamu repot-repot bawa buah tangan segala. Aku jadi tidak enak," kata Karin.
"Aku langsung ke sini saat melihat storymu di media sosial. Selamat ya, Karin," ucap Lidia.
"Terima kasih, Lidia. Aku harap kamu juga cepat mendapatkan momongan." Entah kenapa ucapan Karin menyakiti hati Lidia. Pasalnya setelah mengalami keguguran itu, dia belum juga hamil. Lidia hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Karin.
Tak lama kemudian Adli dan Jingga datang untuk menjenguk anak sang ayah. Namun, pada saat itu Helmi tidak berada di sana. Sialnya, mereka malah bertemu dengan Lidia. Jingga ingin sekali putar balik tapi dia menunggu suaminya.
"Kami ke sini untuk mengucapkan selamat," ucap Adli dengan nada datar. Setelah itu dia meletakkan buah yang dia bawa.
__ADS_1
"Kamu kira aku akan tersanjung?" cibir Karin.
Adli mengepalkan tangannya. "Aku hanya menghormati ayahku. Aku sama sekali tidak memandang kamu," balasnya dengan sinis lalu mengajak Jingga keluar.
Sesaat kemudian Adli dan Jingga bertemu dengan Helmi. "Papa dari mana?" tanya Adli.
"Ada sesuatu yang harus papa lakukan," jawan laki-laki paruh baya itu. Adli mengerutkan keningnya.
"Apa papa butuh bantuan?" tanya Adli.
Helmi menggeleng. "Apa kalian sudah masuk?" tanya Helmi. Jingga mengangguk.
"Adli sebaiknya ajak Jingga pulang dulu setelah itu temui Papa. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu," ucap Helmi. Adli mengangguk paham.
***
Lidia merasa sikap Jingga terhadap dirinya semakin dingin. Dia jadi merasa bersalah. Apalagi sang ibu terus menanyakan kabar Jingga. Lidia mengatakan jika Jingga sudah melupakan mereka agar sang ibu tak lagi menanyakan soal Jingga lagi.
Wanita itu pun berinisiatif untuk menemui Jingga dan memintanya untuk datang ke rumah. Lidia mendatangi rumah Jingga keesokan harinya.
Suara bel yang berbunyi di depan rumah Jingga membuat wanita itu menghentikan aktivitas masaknya. Tak lupa dia mematikan kompor.
__ADS_1
Jingga terkejut ketika dia melihat tamu yang datang adalah kakak sepupunya. "Boleh aku masuk?" tanya Lidia. Jingga tak menjawab tapi dia membuka pintu lebih lebar agar Lidia bisa masuk ke dalam rumahnya.
"Katakan ada apa kau kemari?" tanya Jingga. Nada bicaranya terkesan kalau mereka bukan saudara atau teman dekat. Melainkan seperti orang asing.
Lidia menghela napas. "Ibuku menanyakan kamu. Datanglah menjenguknya walau sebentar saja."
"Apa kau sedang memohon?" sindir Jingga. Lidia menahan diri agar tidak tersinggung.
"Aku tahu kau membenciku. Namun, jangan lupa jasa yang telah keluargaku lakukan untukmu." Ucapan Lidia membuat Jingga lemah.
Bagaimana pun Lidia dan keluarganya memang orang yang paling berjasa untuk Jingga. Akan tetapi, luka yang ditorehkan Lidia lebih dalam dari rasa balas budi yang dipendam oleh Jingga.
Jingga ingat betul bagaimana Fabian memperlakukannya secara tidak adil karena sang sepupu yang cemburu. Padahal dialah yang merencanakan semua kejadian waktu itu.
Akankah Jingga menuruti permintaan Lidia?
***
Buat yang belum kasih rate bintang lima ditunggu ya ulasannya. Klik titik tiga kanan atas lalu klik subscribe juga ya
Dukungan kalian penyemangatku ♥️
__ADS_1