
Justin mengantarkan Violet pulang ke rumahnya. "Terima kasih," ucap Violet ketika dia hendak turun.
"Sama-sama. Besok perlukah aku menjemputmu?" tanya Justin.
"Tidak, aku naik ojek saja. Lagi pula rumahmu tidak begitu jauh dari sini."
"Baiklah, mulai besok berhentilah berjualan. Aku ingin kamu menjaga Sabrina."
"Tapi, aku butuh uang untuk membiayai hidupku," jawab Violet.
"Anggap saja kamu bekerja padaku."
"Aku pikir-pikir dulu," jawab Violet lalu dia turun. Justin memukul setir mobilnya karena kesal. Ternyata tidak semudah itu membujuk gadis yang dia akui sebagai calon istri itu.
Keesokan harinya, Violet belanja ke pasar seperti biasa. Setelah berbelanja dia memasak sendiri semua dagangannya. Sekitar pukul sembilan pagi, dia buka warung. Pelanggan pertama yang datang adalah Maya.
"Mbak, beli rujaknya lagi dong. Saya ketagihan rujaknya, Mbak."
"Wah senang sekali kalau ada yang menyukai masakan buatan saya," balas Violet.
"Ngomong-ngomong sudah nama mbak siapa?" tanya Maya.
"Saya Putri," jawab Violet.
"Saya Maya. Saya tinggal tidak jauh dari sini," kata Maya memberi tahu. Violet mengangguk.
"Ini Mbak, sudah jadi rujaknya." Violet memberikan rujak yang telah dia bungkus pada Maya. Maya memberikan uang lima puluh ribu.
"Mbak, nggak ada receh? Hari ini belum ada pelanggan. Jadi saya belum ada uang," jawab Violet dengan jujur.
"Oh, ambil saja kembaliannya!"
"Eh, nggak boleh begitu, Mbak. Bagaimana kalau saya ganti saja dengan masakan yang lain?"
"Boleh," jawab Maya. Violet pun membungkus banyak makanan.
"Yakin, lima puluh ribu dapat segini banyak?" tanya Maya memastikan.
"Iya, Mbak," jawab Violet.
"Makasih banyak ya." Violet mengangguk menanggapi ucapan Maya.
__ADS_1
Maya pulang diantar supir. Sesampainya di rumah, rupanya Jingga sedang menunggunya. "Katanya mau diantar buat check up ke dokter? Kok pergi?" tanya Jingga.
"Iya, Mbak. Aku cari seger-segeran dulu." Maya mengangkat bungkusan plastik yang dia bawa.
"Apa itu?" tanya Jingga.
"Ini lauk pauk. Tadi aku belanja rujak tapi tidak ada kembalian jadi aku diberi itu sama penjualnya," jawab Maya.
"Wah, baik sekali penjualnya. Rasanya enak?" tanya Jingga. Sebaiknya nanti kakak cicipi. Sekarang antar aku ke dokter dulu. Oh iya, kalau mau makanan ini boleh kakak bawa pulang," ucap Maya.
Di tempat lain, Sabrina merengek seharian karena tidak bertemu dengan Violet. Tidak ada satu pun orang yang bisa menenangkan dia termasuk ayahnya sendiri. "Sabrina, jangan seperti ini!" perintah Justin dengan lembut.
"Mama mana, Pa? Kenapa dia pergi lagi?" tanya Sabrina.
"Mama pasti pulang. Kamu sabar dulu ya," bujuk Justin.
"Pokoknya aku mau mama sekarang!" Sabrina menangis tanpa bisa dihentikan. Justin yang notabene seorang bos dingin di tempat kerjanya nyatanya tidak bisa berbuat apa-apa jika menghadapi anaknya yang rewel. Meski begitu laki-laki itu tidak pernah memakai kekerasan dalam mendidik anaknya.
"Rian, jemput Putri!" perintah Justin pada sopir pribadinya.
"Baik, Pak."
Violet belum mengakhiri jualannya. Kebetulan dagangannya sangat sepi pembeli. "Kenapa hari ini sepi pembeli ya?" gumam Violet. Dia menghela nafas berkali-kali.
"Tapi daganganku belum habis," tolak Violet.
"Nona Sabrina menangis seharian. Dia mencari Anda." Violet menghela nafas berat.
Tak lama kemudian beberapa ibu-ibu berkerumun di depan rumah yang Violet tinggali. "Tuh, kaj saya bilang juga apa? Makanannya tuh mengandung pelet. Lihat aja yang datang orang-orang berduit."
"Iya, bu ibu. Semalam saya lihat dia juga diantar pakai mobil yang berbeda."
Mereka menggunjing di depan Violet. Violet tidak heran kalau dagangannya hari ini sepi. Rupanya ibu-ibu itu yang melarang pembelinya mampir. Violet membungkus beberapa lauk dan nasi untuk ibu-ibu itu kemudian memberikannya nasi yang dia bungkus.
"Bu, saya mau kasih nasi bungkus ini sama ibu-ibu."
Salah seorang di antara mereka menyenggol bungkusan yang dipegang Violet hingga terjatuh. "Tidak perlu. Kami bukan pengemis. Membayar rumah ini saja saya sanggup untuk apa saya menerima nasi bungkus dari kamu," ucapnya dengan angkuh.
Tanpa Violet sadari Rian merekam kejadian itu dan mengirim rekamannya pada Justin.
Violet kembali ke warungnya lalu membungkus semua dagangannya yang tidak laku. "Aku akan ikut denganmu, tapi bagikan semua ini untuk karyawan yang bekerja di rumah Pak Justin," ucap Violet dengan pasrah. Daripada dibuang lebih baik diberikan pada orang yang mau memakannya, pikir Violet.
__ADS_1
"Baik, Nona."
Violet bersiap-siap berangkat ke rumah Justin. Dia pun mengunci pintu sebelum pergi dari rumahnya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil yang disopiri oleh Rian.
Sepanjang jalan menuju ke rumah Justin, Violet hanya memandang keluar. Di manapun dia tinggal selalu saja ada yang sirik seperti itu. Violet menyandarkan kepalanya hingga tanpa dia sadari dia tertidur.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di di kediaman Justin. Ketika Rian menoleh ke belakang, dia melihat Violet tertidur. Rian pun melapor pada Justin. "Mana Putri?" tanya Justin.
"Dia tertidur, Pak. Hari ini tetangga sekitar rumahnya banyak membicarakannya, Pak. Dagangannya yang tidak laku juga dibawa ke sini. Dia meminta saya membagikan makanan itu pada pelayan yang bekerja di rumah ini," lapor Rian.
Justin pun keluar untuk melihatnya. Dia bisa paham kalau wanita yang dinantikan Sabrina itu merasa lelah hari ini. Tanpa bersuara, Justin mengangkat tubuh Violet. Namun, baru saja keluar dari mobil, Violet terbangun. "Apa-apaan ini?" Violet turun dengan paksa.
"Aku hanya tidak ingin membangunkan kamu," jawab Justin. Vio merasa malu.
"Aku sudah bangun. Di mana Sabrina?" tanya Vio.
"Ada di dalam rumah, sejak bangun tidur dia terus menanyakan dirimu," jawab Justin.
"Tuan, Nona Sabrina demam," lapor salah seorang pelayan yang bekerja di rumah Justin.
Justin dan Violet segera masuk dan melihat kondisinya. Violet merasa bersalah ketika melihat keadaan Sabrina. "Apa dia selalu seperti ini?" tanya Violet.
"Tidak pernah," jawab Justin. Violet terkejut.
'Apakah anak ini benar-benar merindukan ibunya? Aku merasa kasian padanya. Ah, mama aku juga rindu padamu.'
Tiba-tiba saja Violet meneteskan air mata. "Kenapa menangis? Aku sudah menghubungi dokter keluarga, kamu tidak perlu khawatir."
"Aku merasa bersalah. Apa karena dia mencariku hari ini dia jadi demam seperti ini?" tanya Violet.
"Mungkin apa yang ada di pikiranmu itu sama denganku. Tiba-tiba Justin duduk di tepi ranjang. Putri, menikahlah denganku dan tinggallah di sini untuk menjaga Sabrina. Dia adalah hartaku yang paling berharga," ucap Justin dengan wajah serius. Jantung Violet berdebar cukup kencang saat Justin secara terang-terangan melamarnya.
"Tapi kamu tidak tahu asal-usulku."
"Kalau begitu terangkan padaku siapa dirimu yang sebenarnya!" desak Justin.
"Aku pun sedang mencari keberadaan keluargaku. Aku masih punya ayah kandung tapi aku tidak tahu bagaimana cara menemukannya. Kita tidak bisa menikah tanpa restu dari orang tuaku."
Justin terkejut mendengar pengakuan wanita yang baru saja dia lamar. "Ceritakan padaku tentang kisah hidupmu!"
...***...
__ADS_1
Gimana ceritanya makin seru nggak? Like, komen jangan ketinggalan