Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Pergi


__ADS_3

Cyan mengetahui kelakuan Biru ketika dia bertanya langsung pada Justin. Saat itu dia tidak percaya kalau Justin memukul Albiru tanpa sebab. Justin pun memperlihatkan pada Cyan video saat Albiru membayar OB untuk mendorong Violet dengan sengaja. Cyan sangat kecewa mendapatkan kenyataan saudaranya sendiri yang mencelakakan kakaknya.


Cyan pun mengajak Albiru ke atap gedung sekolah. "Ngaku! Kamu kan yang bikin Kak Violet tercebur ke kolam renang?" Cyan sedang mengintrogasi saudara kembarnya.


Albiru menghapus darah segar yang keluar dari ujung bibirnya. "Kalau iya memangnya kenapa?" tanyanya dengan senyum smirk.


Cyan mengepalkan tangannya karena menahan emosi. Dia tidak menyangka kalau saudaranya itu tega berbuat demikian. "Dasar sinting! Kamu pikir kamu bisa menyingkirkan Kak Violet dari keluarga kita?" sindir Cyan.


"Kamu sudah tahu kalau aku tidak menyukainya dari awal."


"Tapi tindakanmu itu sangat keterlaluan. Kamu bahkan bisa menghilangkan nyawanya. Kamu tidak tahu kalau dia itu tidak bisa berenang, hah?" bentak Cyan.


Albiru tidak terima dia dibentak-bentak oleh Cyan. Albiru membalas pukulan ke wajah Cyan hingga Cyan mundur selangkah. "Sekarang kita satu sama," ucap Albiru setelah memukul Cyan. Cyan yang masih emosi pun membalas pukulan saudaranya. Mereka berkelahi hingga guru memergoki keduanya. Cyan dan Biru digelandang ke kantor guru.


Pihak sekolah memanggil orang tua mereka. Saat itu, Adli yang mendatangi undangan dari pihak sekolah secara langsung.


"Jadi begini, Pak. Saya memergoki mereka saling adu pukul satu sama lain di rooftop sekolah ini," terang guru itu yang sedang menjelaskan alasan memanggil Adli. Adli sempat tidak percaya pasalnya meski mereka tidak dekat walau bersaudara tapi keduanya tidak pernah bertengkar sama sekali.


Adli menoleh pada keduanya. "Benarkah apa yang guru kalian katakan Cyan, Biru?" tanya Adli pada putra kembarnya itu.


Cyan menunduk karena merasa bersalah sedangkan Biru memalingkan wajahnya karena merasa dirinya sebagai korban dalam pertikaian itu.


Cyan beranikan diri untuk menjelaskan apa yang terjadi. "Aku memukul Biru karena dia yang telah mencelakai Kak Vio," tunjuk Cyan pada Biru. Biru menepis telunjuk Cyan.


"Jangan sembarang menuduh!" elak Albiru.


Tidak mau melihat pertikaian yang menjadi urusan keluarga, Pak Wawan menyarakan agar urusan tersebut diselesaikan di rumah saja. Adli pun mengajak Cyan dan Albiru pulang. "Cyan jelaskan pada papa kenapa kamu menuduh Biru yang mencelakai Violet?" tanya Adli menginterogasi anaknya.


"Aku mendatangi Mas Justin. Awalnya aku ingin dia meminta maaf secara baik-baik agar dia tidak putus dengan Kak Vio. Kak Vio dan Mas Justin bertengkar setelah Mas Justin memukul dia," tunjuk Cyan dengan geram ke arah Biru. Cyan dan Albiru saling menatap tajam seperti ada kilatan petir di antara keduanya.

__ADS_1


"Cyan, lanjutkan ucapanmu!" pinta Adli.


"Tapi setelah aku tahu alasan Mas Justin memukul Biru, aku pun marah padanya. Dia dengan sengaja membayar seseorang untuk mendorong Kak Violet ke dalam kolam," terang Cyan dengan nada berapi-api.


"Apa kamu punya bukti?" tanya Biru yang tidak terima dirinya disalahkan.


Cyan enggan menatap Biru. Dia menghadap ke arah orang tuanya. "Mas Justin memperlihatkan rekaman CCTV yang berhasil dia dapat padaku, Pa."


"Zaman sekarang semua bisa dimodifikasi. Mungkin saja itu editan," sanggah Albiru. Sikapnya sungguh angkuh padahal sudah ketahuan belangnya.


Cyan menggelengkan kepala. "Memang Mas Justin punya waktu untuk menjebak laki-laki macam kamu? Motifnya apa? Kalian sebelumnya tidak pernah berurusan satu sama lain bukan? Masuk akal?" sindir Cyan. Albiru dibuat kicep.


"Biru, papa kecewa sama kamu. Kenapa kamu melakukan hal itu pada Violet?" tanya Adli.


"Melakukan apa, Pa?" tanya Vio yang baru tiba di rumah.


"Biru menyuruh orang untuk mendorongmu ke kolam renang," jawab Adli dengan suara yang sendu. Dia sedih melihat putranya tega mencelakai kakaknya sendiri.


"Cih, memaafkan? Aku nggak butuh maaf dari kamu," sela Albiru.


Vio menghembuskan nafasnya berat. "Kalau boleh aku tahu apa yang membuat dirimu membenciku?" tanya Violet pada adiknya itu.


"Kamu hanya orang asing yang tiba-tiba datang ke rumah ini. Kenapa semua orang memperlakukan dirimu dengan spesial? Padahal kamu hanya orang lain yang berpura-pura menjadi anak mama yang hilang," tuduh Albiru.


"Biru, teganya kamu memfitnah kakakmu sendiri," ucap Jingga dengan nada kecewa sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Pokoknya selama dia tinggal di sini aku akan keluar dari rumah ini." Albiru mengambil keputusan dengan cara emosi. Dia masuk dan mengemasi barang-barangnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Jingga. Dia menahan tas besar yang dibawa putranya. "Jangan nekad! Kamu mau tinggal di mana?" tanya Jingga baik-baik.

__ADS_1


"Jangan! Kamu jangan pergi!" sela Violet. "Biar aku saja yang pergi," lanjutnya. Vio berpamitan pada orang tuanya. Jingga menangis sesenggukan. Setelah berpisah belasan tahun, mereka hanya bisa berkumpul dalam waktu yang singkat.


"Tidak, tidak ada yang boleh pergi dari rumah ini," kata Jingga di sela-sela tangisannya. Jingga mengusap pipi Violet dengan lembut.


"Ma, bagiku bertemu lagi dengan mama sudah cukup membuatku bahagia walau waktunya hanya sebentar. Setidaknya rasa rinduku telah terobati selama bertahun-tahun," ucap Vio. Adli dan Cyan sama sedihnya mendengar penuturan Violet.


"Kak jangan pergi. Kalau kakak pergi aku juga pergi," ucap Cyan. Vio tersenyum.


"Kalau kamu pergi siapa yang jagain mama?" balas Violet.


"Vio, jangan pergi! Papa tidak ingin melihat mamamu sedih lagi. Tinggallah di sini!" bujuk Adli.


Violet memegang kedua telapak tangan ayah sambungnya itu. "Tidak apa-apa, Pa. Aku sudah terbiasa hidup sendiri. Anggap saja aku pindah rumah. Kalian bisa mengunjungi aku kapan saja," ucapnya dengan bijak. Violet sengaja mengalah dia tidak mau keluarga ibunya yang sudah bahagia tiba-tiba hancur hanya karena kehadiran dirinya.


Vio menarik nafas panjang agar dirinya tidak meneteskan air mata. "Vio," panggil Jingga sambil menangis.


Vio keluar dari rumah itu dengan langkah berat. Dia belum tahu ke mana dia akan pergi. Setelah keluar dari rumah itu dia menghubungi Danzel. "Bisakah kamu menolongku?" pintanya melalui sambungan telepon.


Danzel menangkap nada sendu ketika Vio berbicara. "Kamu ada di mana sekarang? Aku akan menjemputmu."


"Akan aku tunggu di taman. Datanglah secepatnya!" jawab Violet.


"Baik, jangan pergi sebelum aku datang!" perintah Danzel pada gadis pujaan hatinya itu. Setelah itu keduanya saling menutup telepon.


"Eh, kok aku malah hubungin dia sih." Vio baru sadar kalau tidak seharusnya dia menghubungi Danzel di saat hubungannya dengan Justin sedang panas.


Ketika dia duduk sendirian di bangku taman, seorang wanita yang berpakaian sek*si mendekatinya. "Long time no see, Violet."


Jantung Vio berdegup kencang ketika melihat wanita yang berdiri di hadapannya itu sambil menghisap rokok yang ada di jarinya.

__ADS_1


Siapakah dia?


__ADS_2