Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Tinggal di rumah kakek


__ADS_3

Helmi yang sedang memberi makan ikan piaraanya terkejut ketika Mario membawa pulang cucunya. "Assalamualaikum, Kek," sapa Violet sambil mencium tangan renta itu.


"Lho kenapa kamu ajak Vio ke sini?" tanya Helmi pada Mario.


"Dia akan tinggal bersama kita mulai sekarang," jawab Mario. Helmi makin kaget.


"Vio jelaskan pada Kakek! Apa maksud ucapan pamanmu?" tanya Helmi pada Violet.


"Aku keluar dari rumah, Kek," jawab Vio sambil menunduk.


"Ayo kita duduk dulu!" ajak Helmi pada cucunya.


"Ceritakan pada Kakek kenapa kamu keluar dari rumah?" tanya Helmi.


Violet menghela nafas. "Dia enggan bercerita, Pa," sela Mario. Helmi menoleh pada putra bungsunya itu.


"Kenapa Vio?" tanya Helmi.


"Aku hanya merasa tidak pantas berada di tengah-tengah kebahagiaan keluarga mama."


"Apa maksud ucapanmu? Apa Adli yang bicara seperti itu padamu?" Violet menggeleng.


"Kakek, apapun alasannya bisakah tidak menanyakan ini lagi? Bolehkah aku tinggal di sini merawat kakek saja?" tanya Vio sambil memohon.


"Tentu saja boleh. Nanti akan aku perintahkan ART untuk menyiapkan kamarmu," jawab Helmi yang sama sekali tidak merasa keberatan.


"Terima kasih banyak, Kek," ucap Violet.


Setelah itu Helmi masuk ke dalam kamarnya. Dia menghubungi Adli. "Violet ada di rumahku. Sebenarnya ap ayang sedang terjadi?" tanya Helmi pada putra sulungnya melalui panggilan telepon.


Ada perasaan lega di hati Adli. "Albiru tidak menyukai Violet. Dia mengancam keluar dari rumah tapi Violet yang mengalah. Aku jadi merasa bersalah padanya," jawab Adli.


"Biarkan Vio tinggal di sini sementara waktu. Aku tidak akan membiarkannya terlunta-lunta di jalan lagi," ucap Helmi memutuskan.


"Baik, Pa. Terima kasih sudah menjaga Vio. Aku akan ke sana besok." Setelah itu Adli mengakhiri panggilan teleponnya.


Adli menyampaikan kabar jika Vio baik-baik saja. "Malam ini, Vio akan tinggal di rumah papa."


"Bagaimana bisa dia tinggal di sana?" tanya Jingga. Sedari tadi hatinya cemas memikirkan Violet.


"Aku tidak tahu. Besok kita ke sana menjenguknya," ucap Adli. Jingga menurut pada suaminya.


Keesokan harinya, Vio sudah berada di dapur. Dia sengaja memasak sarapan untuk kakek dan pamannya. "Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Mario sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aku memasak sarapan untuk kalian," jawab Violet.


"Oh ya? Apa yang kamu masak?" tanya Mario antusias.


"Aku masak telor dadar, cah kangkung, ikan goreng dan sambal."


"Selengkap itu? Kenapa menu makan siang dijadikan menu sarapan?" ledek Mario.


"Orang Indonesia tidak makan kalau belum makan nasi," jawab Violet sambil terkekeh.


Setelah itu Helmi turun. "Vio, apa kamu mau ikut kakek keluar?" tanya Helmi. Violet menggeleng.


"Tidak, aku akan memasak makan siang untuk kalian," jawab Vio.


Mario terkekeh. "Kami tidak akan pulang pada siang hari," jawabnya.


"Lantas kapan kalian pulang?" tanya Violet. Dia memang tidak tahu jadwal kerja kakek dan pamannya.


"Kami akan pulang malam," jawab Helmi.


"Baiklah, akan aku tunggu saat malam hari. Aku akan memasak sesuatu yang spesial untuk kalian," jawab Vio bersemangat. Dia sangat bersyukur diterima di rumah kakeknya. Maka dia harus membalas kebaikan mereka.


"Terserah kamu saja," jawab Mario. Setelah itu mereka menikmati makanan yang dibuat Violet. "Sangat lezat. Makanan ini membuat aku tidak bisa berhenti makan," puji Mario.


"Sungguh, kamu pandai sekali mamasak. Andai saj aku bisa dapat calon istri seperti kamu."


Helmi tersedak ketika dia mendengar ucapan Mario. Dia menatap tajam pada Mario agar putra bungsunya itu tidak kelewat batas.


"Om Mario kenapa sampai sekarang om belum punya pacar? Apa om terlalu pilih-pilih?" tanya Violet penasaran.


"Bukannya dia pilih-pilih Vio. Tapi memang tidak ada yang dipilih," ledek Helmi.


"Papa," protes Mario.


"Lho memang betul kan? Papa tidak pernah melihatmu jalna dengan seorang wanita. Kamu masih normal bukan?" sindir Helmi.


"Apa aku perlu buktikan dengan menghamili anak orang dulu baru papa percaya?" tantang Mario.


"Hish, Om Mario jorok sekali ngomong gitu di depan makanan. Selesaikan dulu makannya. Nanti kalian telat," tegur Violet. Helmi terkekeh puas setelah meledek putranya.


Usai sarapan, Helmi dan Mario pamit pada Violet. Setelah itu Violet masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian Adli dan Jingga datang bertamu. "Vio," panggil Jingga.


"Mama," ucap Vio dengan lirih sambil berkaca-kaca. Jingga memeluk Violet dengan erat.

__ADS_1


"Maafkan mama karena tidak bisa membelamu," ucap Jingga merasa bersalah.


"Vio, tinggallah di sini sementara waktu. Papa memang tidak bisa pastikan sampai kapan, tapi setidaknya kami akan membujuk Albiru agar dia bisa menerimamu," ucap Adli.


Violet tersenyum menanggapi ucapan ayahnya. "Oh iya, restauran yang papa janjikna padamu sudah hampir jadi. Nanti papa akan hubungi Danzel untuk langkah selanjutnya." Violet mengangguk.


"Ma, Pa, duduklah dulu akan aku buatkan minum untuk kalian," pinta Vio.


"Tidak usah, Sayang. Duduklah bersama kami!" pinta Jingga.


"Vio, setelah restauran jadi kamu yang mengatur semuanya. Papa percayakan restauran itu padamu. Jadi mulai sekarang jangan bermalas-malasan."


"Baik, Pa. Aku akan bekerja semaksimal mungkin. Bagaimana dengan karyawan, Pa. Di mana aku bisa mencari karyawan yang kompeten dalam bidang memasak?" tanya Violet.


"Papa akan bantu mencarikanmu karyawan. Setelah semuanya siap kamu bisa mulai membuka restauran impianmu."


"Terima kasih banyak, Pa. Papa banyak membantu," ucap Violet merasa tidak enak.


"Itu bukan apa-apa. Sebagai ayah aku belum pernah memberikan sesuatu padamu. Anggaplah sebagai hadiah hari ulang tahunmu yang tidak pernah kurayakan," jawab Adli. Jingga menatap haru suaminya. Dia beruntung suami keduanya itu sungguh pengertian. Dia tidak pernah menyesal menikah dengan Adli.


Adli melihat jam yang melingkar di tangannya. "Kami harus pergi. Ada acara penting yang harus kami hadiri."


"Baik, Pa."


Jingga pun memeluk putrinya sebentar. "Kamu baik-baik ya di sini. Kalau butuh bantuan mama jangan sungkan!" Violet mengangguk paham.


Setelah kepergian orang tuanya, Violet tidak tahu ingin melakukan apa. Kemudian dia melihat ART membawa tas belanja. "Bi, mau belanja ya?" tanya Vio. ART itu mengangguk.


"Biar saya saja. Berikan uang dan daftar belanjaannya!" perintah Violet.


"Tapi nggak apa-apa nih Non?" tanya ART itu.


"Tidak apa-apa. Saya tidak ada kegiatan. Lebih baik saya pergi belanja." Violet dengan senang hati pergi ke mall yang tak jauh dari rumah kakeknya itu.


Ketika dia sedang memilih kentang, dia tak sengaja menabrak nenek tua. "Maafkan saya. Saya tidak sengaja," ucap Violet.


"Vio," panggil wanita itu. Walau sudah belasan tahun tidak bertemu, dia masih mengenali cucunya yang hilang. Violet memiliki tanda lahir di bahu kirinya. Tanda itulah yang dilihat wanita yang rambutnya mulai memutih itu.


"Mama," panggil seseorang dengan nada berat.


Siapakah nenek tua dan laki-laki yang memanggilnya itu?


Jangan lupa subscribe ya yang belum subscribe supaya dapat notifikasi pemberitahuan updatenya. Makasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2