Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Perdebatan


__ADS_3


Fabian



Lidia



Jingga



Adli


...****...


Jingga melahirkan anak perempuan. Anaknya lahir prematur karena belum saatnya lahir. Jadi sementara ini bayi Jingga akan dirawat di ruang inkubator.


Erik menemui Jingga setelah dipindahkan ke ruang perawatan pasien. Mata Jingga berkaca-kaca ketika melihat ayah mertuanya. Erik pun paham akan kesedihan menantunya itu. "Anak kamu terlahir selamat. Nanti papa antar kamu menemui dia jika kamu sudah mendingan. Sekarang istirahatlah!" kata Papa Erik pada Jingga.


Tak lama kemudian Fabian memasukkan ruangan Jingga. Tapi ekspresi wajah Fabian terlalu biasa. Sesaat kemudian Lidia masuk menghampiri Jingga. "Selamat ya Jingga. Kamu sudah melahirkan anak kamu dengan selamat," ucap Lidia berbasa-basi.


"Selamat juga atas kehamilan kakak," balas Jingga. Lidia terkejut padahal dia belum memberitahu Jingga. Lidia pun melirik Fabian. Dia menduga suaminya itulah yang telah memberi tahu Jingga.


"Iya, terima kasih Jingga," jawab Lidia. Erik sudah tidak heran karena Fabian telah memberi tahu padanya jika istri pertama putranya itu hamil.


"Mas, kenapa kamu diam saja?" tanya Jingga. Wanita itu kecewa berat di saat mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu Fabian baru datang keesokan harinya.


"Apa kamu takut yang terucap di mulutmu justru kata Talak jika kamu berbicara?" sindir Jingga.


Fabian menatap tajam istri keduanya. "Itukah yang kamu inginkan?" tanya Fabian balik.


Jingga tersenyum sinis sembari menahan perih bekas operasi di perutnya. "Lucu, bukankah itu tujuan kalian, setelah aku melahirkan kalian akan mengambil anakku. Sayangnya kak Lidia justru hamil. Jadi lepaskan aku dan biarkan aku membawa anakku," ucap Jingga. Dia menahan tangis agar tidak terlihat lemah di mata Fabian dan Lidia.


"Hah, kamu pikir aku tidak menyesal telah menghamili kamu? Kalau aku bisa memutar waktu mungkin aku tidak akan mengkhianati Lidia," ucap Fabian membela diri.

__ADS_1


Jingga tertawa lantang. "Seharusnya aku yang bicara seperti itu. Andai saja kamu tidak merenggut kesucianku maka masa depanku tidak akan hancur di tangan laki-laki sepertimu, Mas."


"Cukup!" Erik menengahi perdebatan antara Jingga dan Fabian. "Kalian ini bisa tidak bicarakan nanti ketika di rumah?"


"Tidak, Pa. Aku ingin kejelasan," sahut Jingga.


"Jingga, status kamu sudah jelas. Kamu istri sahnya Fabian," jawab Erik dengan lembut. Dia berusaha mengontrol diri.


"Aku tidak mau selamanya dicap sebagai pelakor, Pa." Sungguh Jingga meluapkan kekesalannya saat ini. Dia menangis sesenggukan. Erik meminta Fabian dan Lidia keluar agar tidak menggangu Jingga yang sedang dalam masa pemulihan.


"Fabian, papa kecewa sama kamu. Tidak bisakah kamu bersikap lembut pada istrimu?" tanya Erik.


"Papa tidak lihat siapa yang mulai duluan?" Fabian balik menyalahkan Jingga.


"Semua salah kamu, Fab. Semua salah kamu. Apa yang dikatakan Jingga benar. Andai saja kamu tidak breng*sek jadi lelaki maka tidak akan ada kejadian seperti ini."


"Pa." Lidia mencoba menenangkan ayah mertuanya. Tapi Erik memberikan kode agar Lidia tidak ikut campur.


"Kenapa kamu tidak mengakui Jingga sebagai istrimu. Papa kecewa saat dia sedang mengalami musibah kamu justru tidak ada bersamanya."


"Kamu tidak bisa membedakan mana yang harus diprioritaskan, Fab. Kamu tidak berubah sama sekali. Tetap susah diatur." Erik merasa kecewa berat. Setelah itu dia melenggang pergi meninggalkan anak dan menantunya.


Dari kejauhan tampak Adli, Mario dan Rizky berjalan menuju ke ruangan Jingga. Fabian mengepalkan tangan. "Untuk apa laki-laki itu datang ke sini." Fabian cemburu karena Adli memegang bunga besar di tangannya.


Ketika tiga orang kakak beradik itu berpapasan dengan Fabian, mereka sama sekali tidak menyapa. Tangan Fabian mencengkeram kerah baju Adli. Namun, Rizky berusaha melepas cengkeraman tangan Fabian. "Jangan berlaku kasar."


Rizky juga tidak menyukai Fabian dari awal. Selain dia adalah laki-laki yang membuat mimpinya untuk bersanding dengan Jingga gagal, Fabian juga tidak pernah bersikap ramah. Ketika di sekolah dia menghormati Fabian sebagai saudara April sebagai pemilik sekolah. Namun, di sini dia tidak bisa bersikap baik lagi pada Fabian.


Adli telah menceritakan perihal yang dialami Jingga pada Rizky dan Mario. Mereka pun sepakat untuk menjenguk Jingga di rumah sakit.


"Lepaskan tangan kamu!" bentak Fabian pada Rizky.


"Seharusnya Anda yang harus melepaskan tangan Anda dari kemeja kakak saya," balas Rizky. Fabian pun melonggarkan cengkeraman tangannya.


"Kami hanya ingin menjenguk Kak Jingga," seru Mario. Dia juga marah ketika laki-laki yang ternyata suami Jingga itu menghalangi dia dan kakaknya untuk menemui Jingga.


"Tolong jangan membuat keributan di rumah sakit," sela perawat yang lewat.

__ADS_1


Fabian pun terpaksa membiarkan ketiga pemuda itu untuk masuk ke ruangan istri keduanya. Sementara itu Lidia mengajak Fabian untuk melihat anaknya yang telah lahir. Namun, Fabian menolak.


"Mas, dia juga anak kamu," seru Lidia mengingatkan.


"Besok saja. Aku harus kembali ke kantor. Imam sudah memberi tahu diriku untuk siap-siap meeting dengan klien," elak Fabian. Lidia pun tidak bisa memaksa suaminya.


"Jingga," panggil Adli. Wanita itu ingin bangun tapi Adli melarangnya.


"Jangan memaksakan diri. Ini bunga untukmu." Adli memberikan sebuah bunga warna pink berukuran besar.


"Terima kasih banyak." Jingga menerima bunga pemberian lelaki tampan itu.


"Kak, mana anak kakak?" tanya Mario antusias.


"Dia di ruangan lain," jawab Jingga sambil tersenyum. "Oh ya Kak Adli aku sudah dengar dari Mas Aksa kalau kakak yang telah menyelamatkan aku dari musibah kebakaran itu."


Adli tersenyum bangga. "Tidak masalah Jingga. Aku kebetulan lewat depan rumah kamu," jawab Adli berbohong. Padahal dia sengaja datang ke rumah Jingga waktu itu.


Rizky dan Mario yang mendengar jawaban Adli menjadi muak. Mereka hanya bisa mencibir diam-diam. 'Awas saja, Bang. Aku tidak akan mengalah padamu setelah status Jingga resmi menjanda,' batin Rizky.


Cukup lama ketiga orang itu berada di ruangan Jingga. Tak lama kemudian dokter mengunjungi Jingga. "Apa kabar kamu Jingga?" tanya David. Dialah yang menangani Jingga dengan tangannya sendiri.


"Baik, Om."


Lalu David melirik ketiga pemuda itu."Rupanya fans kamu banyak juga ya Jingga." Jingga pun paham dan tidak mau menyebabkan kesalahpahaman.


"Kenalkan ini ayah mertua Mbak April," kata Jingga memberi tahu ketiga lelaki yang datang membesuk dirinya.


Rizky tentu langsung paham karena hanya dia yang mengenal April. "Saya Rizky, saya teman kerja Jingga."


Setelah itu Mario memperkenalkan diri. "Saya Mario, murid Bu Jingga."


Lalu David melirik ke arah Adli. Pemuda itu dengan percaya diri mengulurkan tangan. "Saya Adli, kakak Mario." David keluar usai memeriksa keadaan Jingga.


"Terima kasih kalian bersedia mengunjungi aku," kata Jingga.


"Kami semua peduli sama kamu Jingga," kata Adli. Dia memegang tangan Jingga tapi Jingga melepasnya karena merasa tidak enak. Rizky dan Mario terkekeh melihat penolakan Jingga pada Mario.

__ADS_1


__ADS_2