
Keesokan harinya ketika jadwal Jingga kontrol ke dokter bersama sang suami, mereka tak menyangka akan bertemu dengan Rizky di rumah sakit. "Lho kamu ngapain di sini?" tanya Jingga pada adik iparnya.
"Ada teman yang kecelakaan," jawab Rizky singkat. Dia bingung harus mulai cerita dari mana.
"Temen apa demen?" ledek Adli ketika melihat pasien yang di dalam kamar yang ditunggui Rizky adalah seorang perempuan.
"Teman yang mana? Kalau teman kerja bukannya aku juga kenal?" tanya Jingga.
Rizky menghela nafas. "Sebenarnya aku menemukan korban kecelakaan di jalan. Aku tidak bisa menghubungi keluarganya karena dia tidak membawa ponsel. Sementara pihak rumah sakit tidak mau menolong jika tidak ada orang yang bertanggung jawab," ucap Rizky dengan wajah sendu.
Adli menepuk bahu Rizky. "Nanti aku ke sini lagi. Aku mau nganter Jingga cek up dulu."
Tak lama kemudian sepasang suami istri menghampiri ruangan Talita. "Apa anak saya di dalam?" tanya laki-laki bertubuh besar itu.
"Anda...?
"Saya orang tua Talita. Nama saya Azam." Dia memperkenalkan diri pada Rizky.
Rizky menyambut uluran tangan Pak Azam. "Saya Rizky."
"Saya mendengar kabar kalau dia kecelakaan. Mobilnya ditemukan di jalan dalam keadaan menabrak pembatas jalan. Lalu kami memperoleh informasi kalau dia dilarikan ke rumah sakit terdekat," terang laki-laki itu.
"Saya tidak tahu nama gadis itu karena saya tidak mengenalnya. Tapi Anda bisa lihat ke dalam apakah benar dia anak Anda," sambut Rizky. Pak Azam mengangguk setuju. Rizky menunggu di luar.
"Papa," panggil Talita sambil memeluk ayahnya. Sedangkan wanita yang di samping Pak Azam hanya diam.
"Papa khawatir sekali padamu," ucap Pak Azam.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Siapa yang membawaku ke sini?" tanya Talita.
"Papa tidak kenal pemuda itu. Katanya dia juga tidak mengenal kamu. Biar papa panggil." Talita mengangguk setuju.
Pak Azam menyuruh sang istri memanggil pemuda itu. Wanita yang merupakan ibu sambung itu menuruti perintah suaminya. "Masuk!" perintah Maudy.
"Tunggu! Apa benar gadis itu anak Anda? Kalau iya saya langsung pulang karena dia sudah punya wali yang bertanggung jawab atas dirinya," pamit Rizky. Namun, sebelum dia pergi Maudy melarangnya.
"Suamiku ingin berterima kasih padamu," kata Maudy.
Sementara itu Pak Azam yang lama menunggu akhirnya keluar untuk menemui kedua orang itu. "Kenapa tidak masuk?" tanya Pak Azam.
Rizky dan Maudy menoleh ke sumber suara. Rizky yang tidak enak hati akhirnya terpaksa masuk ke dalam ruangan Talita. "Eh." Talita terkejut.
"Talita bilang terima kasih pada Nak Rizky," perintah ayahnya.
"Pa, aku boleh bilang terima kasih dengan cara lain nggak?" tanya Talita.
"Aku mau jadi istrinya," jawab Talita. Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut mendengar ucapan Talita. Tapi, Pak Azam tidak heran dengan permintaan putrinya itu.
"Nak Rizky, bisakah kamu penuhi permintaan Talita?" tanya Pak Azam.
"Saya...saya..."
"Saya mohon, nak!" Pak Azam kelihatan bersungguh-sungguh.
"Pak, ini tidak benar. Saya hanya menolong putri Anda yang mengalami kecelakaan di jalan. Tapi bukan berarti dia harus menyerahkan hidupnya pada saya," tolak Rizky.
__ADS_1
"Anggap saja kamu mengabulkan permintaan terakhir orang yang mau mati," seru Talita dengan nada lantang. Rizky mengerutkan keningnya.
"Maaf, saya tidak bisa," tolak Rizky sekali lagi. Baginya menunggui anak orang semalaman sudah membuat badannya lelah apalagi kalau memikirkan dirinya yang tiba-tiba diajak menikah oleh anak gadis orang. Tidak hanya raganya yang lelah tapi pikirannya juga.
Pak Azam menghela nafas. "Talita jangan memaksanya lagi," ucap Pak Azam dengan lembut. Dia memang sangat menyayangi anak semata wayangnya itu.
Talita bangkit lalu mencopot jarum infus yang menancap di tangannya. Kemudian dia mencium Rizky secara tiba-tiba. Rizky melonjak kaget.
Pak Azam pun demikian. Baru pertama kali dia melihat putrinya menyukai laki-laki secara terang-terangan. Talita sampai mengabaikan tangannya yang mengeluarkan banyak darah dari bekas tusukan jarum infus.
Setelah mencium bibir Rizky, Talita pingsan. Badannya lemas karena darah yang keluar begitu banyak hingga menetes ke lantai. Sang ayah segera memanggil perawat agar cepat-cepat menangani putrinya.
Rizky yang menangkap tubuh Talita memindahkan gadis itu ke atas ranjang rumah sakit. Kemudian perawat segera mengobati lukanya.
Rizky melihat raut muka Pak Azam tang begitu khawatir. Dia merasa bersalah telah menolak gadis yang dia tolong. Rizky memejamkan mata sambil menghela nafas. Dia berpikir secepat mungkin untuk mengambil keputusan.
'Apa Tuhan mengirimkan jodohku dengan cara seperti ini?' gumam Rizky sambil melamun.
"Nak Rizky, Nak Rizky," panggil Pak Azam. Suara laki-laki itu membuyarkan lamunan Rizky.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Pak Azam. Rizky mengangguk setuju. Mereka berdua pun keluar ruangan. Sementara Maudy masih berada di ruangan tersebut. Dia membiarkan suaminya berbicara serius pada Rizky.
Pak Azam tiba-tiba menggenggam tangan Rizky. "Tolong kabulkan permintaan terakhir putriku," ucapnya sambil terisak. Rizky menjadi bingung.
"Apa Anda sekongkol dengannya untuk membodohi saya?" tuduh Rizky. Pak Azam menggeleng.
"Talita menderita kanker stadium akhir."
__ADS_1
Apakah Rizky akan mengabulkan permintaan ayah Talita? Baca kelanjutannya besok.
Jangan lupa komennya yang banyak jangan jadi pembaca pasif ya.