Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Tersanjung


__ADS_3

Fabian pergi ke bar. Dia kembali pada kebiasaannya dulu. "Kenapa lagi lo, Bro?" tanya Axel. Laki-laki itu selalu ada di bar tiap malam. Axel berpura-pura baik di depan Fabian.


"Jingga nikah lagi," jawab Fabian terang-terangan. Axel tersenyum sinis.


"Bukannya elo udah cerai dari dia?" tanya Axel.


"Tapi gue masih cinta sama dia," jawab Fabian sambil menangis. Laki-laki itu mulai mabuk. "Gue be*go udah menyia-nyiakan dia. Padahal cuma Jingga yang bisa bikin anak buat gue."


Axel menepuk bahu Fabian. "Sabar, Bro. Lo kan bisa cari wanita lain yang bisa mengandung anak lo. Cewek-cewek di sini masih baru, lo bisa cari yang sesuai keinginan lo," bisik Axel.


Fabian meraih kerah baju Axel kemudian memukulnya. "Breng*sek lo! Gue nggak mau punya anak dari wanita ja*lang di sini," bentak Fabian pada temannya itu.


Axel yang terjatuh berusaha bangkit. Dia membalas pukulan Fabian lebih dari sekali. Axel yang tidak mabuk memiliki kekuatan yang lebih untuk menumbangkan Fabian. Fabian jatuh tergeletak dan bersimbah darah. Axel pergi setelah puas memukuli laki-laki itu.


Fabian dibawa ke rumah sakit. Kemudian Lidia dihubungi oleh pihak rumah sakit karena orang yang membawanya itu tidak mengenal Fabian. Lidia yang mendapatkan kabar suaminya berada di rumah sakit mendadak panik. Dia segera meluncur dari rumah.


Sesampainya di rumah sakit, Lidia bertanya pada perawat yang bertugas di bagian resepsionis. "Pasien atas nama Fabian ada di ruangan mana?" tanya Lidia.


"Sudah di pindahkan ke ruang Anggrek nomor sembilan," jawab perawat tersebut. Lidia pun menyusul suaminya ke sana. Setelah menemukan ruangan yang dimaksud, dia masuk. Lidia terkejut ketika melihat suaminya diperban di bagian wajahnya.


"Mas," panggil Lidia dengan lirih. Dia menangisi keadaan Fabian.


"Kenapa kamu bisa jadi seperti ini sih, Mas? Apa yang terjadi sama kamu?" ucap Lidia meskipun dia tahu Fabian sedang tidak sadar.


Wanita itu menunggui suaminya semalaman. Ketika Fabian sadar dia melihat Lidia sedang tidur dalam keadaan duduk.

__ADS_1


"Lidia," panggil Fabian.


Lidia pun membuka mata. "Mas, kamu sudah sadar. Bagaimana keadaan kamu?" tanya Lidia cemas.


"Masih sedikit pusing," jawab Fabian.


"Apa perlu aku memanggil dokter?" tanya Lidia pada suaminya.


"Tidak. Apa semalam kamu yang mengantar aku ke rumah sakit?" tanya Fabian. Dia tidak ingat karena dia pingsan setelah dipukuli Axel.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lidia.


"Aku berkelahi dengan Axel," jawab Fabian.


"Saat itu aku dalam keadaan mabuk jadi aku tidak ingat apa yang aku katakan padanya," jawab Fabian berbohong. Meski dia mabuk tapi dia masih ingat sepenggal kejadian yang menyebabkan dia berkelahi.


"Ya sudah, apa kamu lapar? Aku suapi ya?" Fabian menggeleng. "Aku haus bisakah kamu ambilkan minum?" Lidia mengangguk. "Akan aku ambilkan, Mas."


Di tempat lain, sepasang pengantin baru baru terbangun ketika semalaman mereka menghabiskan waktu bersama. Jingga yang bukan perawan lagi tentu sudah mengerti tugas seorang istri pada suaminya.


Adli senang ketika Jingga tidak menolak saat dia diajak berhubungan badan dengannya. Adli merasa segar di pagi hari ketika semalam berolahraga di atas ranjang.


"Selamat pagi," sapa Adli ketika melihat Jingga yang masih berada di pelukannya.


"Selamat pagi, Mas," jawab Jingga dengan tersenyum.

__ADS_1


"Akan aku siapkan air hangat untukmu," ucap Jingga. Namun, ketika dia hendak berdiri, dia merasakan sakit di bagian pangkal pahanya.


"Kesulitan? Perlu aku bantu?" tanya Adli.


"Tidak, Mas. Aku hanya belum terbiasa," jawab Jingga. Ini adalah kali kedua Jingga melakukan hubungan badan dengan seorang laki-laki. Pertama kali dia melakukan hubungan badan dengan kesan yang buruk dengan mantan suaminya itu. Sedangkan selama menjadi istri Fabian, laki-laki itu tidak pernah menyentuhnya.


Adli yang perhatian akhirnya mengangkat tubuh Jingga dan membawanya ke kamar mandi. "Mas," ucap Jingga yang terkejut.


Adli tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya. "Kita mandi bareng," putus Adli. Jingga menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Setelah itu mereka melakukan ritual mandi bersama.


Sementara itu, Violet merengek semenjak bangun tidur tak mendapati ibunya. Semalam Jingga meninggalkan anaknya bersama pengasuh. Ya, Adli menyewa pengasuh baru untuk membantu Jingga mengurus Violet.


Adli dan Jingga yang mendengar tangisan Violet akhirnya mengakhiri ritual mandi mereka. Jingga bergegas ganti baju kemudian menghampiri Violet. "Sayang, maafkan bunda ya." Jingga jadi merasa bersalah pada putrinya.


Sesaat kemudian Jingga menyusui anaknya. Semalam baby sitter yang menjaga Violet memberi ASI yang disimpan di dalam kulkas. Jingga menyetok banyak ASI setelah meminum susu dan obat pelancar ASI yang diberikan oleh Adli.


Awalnya ASI Jingga kurang lancar kemudian dia menyambung susu formula tapi Adli ingin Violet mendapatkan gizi terbaik. Adli pun bertanya-tanya dan mencari referensi untuk menambah produksi ASI jingga. Meski usianya sudah tujuh bulan, rupanya Jingga masih bisa memproduksi ASI yang melimpah.


Jingga berterima kasih pada suaminya yang begitu perhatian. Jingga merasa harus membalas budi suaminya itu sehingga Jingga berjanji akan jadi istri yang penurut.


Usai menyusui Violet, Jingga menyiapkan sarapan untuk suaminya. Ini kali pertama Adli dilayani oleh sang istri. "Terima kasih, Mas. Kamu sangat pengertian. Kamu membayar jasa asisten rumah tangga dan baby sitter untuk membantu pekerjaan aku," ucap Jingga dengan tulus. Jujur saja perlakuan Adli sangatlah berbeda dengan perlakuan mantan suaminya dulu. Jingga merasa tersanjung.


"Sama-sama sayang. Aku hanya ingin membuat kamu bahagia. Kamu wanitaku bukan pembantuku. Jadi sudah sepantasnya aku memanjakan istriku," jawab Adli. Jingga merasa terharu pada ucapan Adli. Seandainya saja dari dulu dia menikah dengan Adli maka dia tidak mungkin melalui penderitaan yang panjang.


'Aku akan belajar mencintai kamu, Mas.'

__ADS_1


__ADS_2