
Hari ini Lidia berjalan-jalan di mall. Dia memang sengaja mengulur waktu agar tiba di rumah dia bisa langsung tidur. Lidia merasa suntuk sekali ketika di rumah hanya tinggal seorang diri. Fabian memang lembur kerja setiap hari bahkan tidak jarang dia menginap di kantor.
Di saat yang bersamaan Lidia bertemu dengan teman lamanya. "Karin ya?" tebak Lidia.
"Kamu Lidia?" tanya Karin balik. Lidia mengangguk.
"Ya ampun sudah berapa tahun kita tidak bertemu? Kamu makin cantik aja," puji Karin.
"Ah, kamu bisa saja. Kamu juga masih cantik. By the way kamu belanja sendirian?" tanya Lidia yang tidak melihat seorang pun yang mengikuti Karin.
"Iya, aku tinggal terpisah dengan keluargaku. Anakku ikut ayahnya setelah kami bercerai," ungkap Karin.
"Maaf aku tidak bermaksud menyinggungmu," kata Lidia yang merasa bersalah.
"Bagaimana kalau kita ngobrol setelah membayar belanjaan. Apa kamu ingin pulang cepat hari ini?" tanya Karin.
"Tidak, kalau begitu nanti kita cari kafe deket sini yang masih buka," ujar Lidia. Karin mengangguk setuju.
Usai membayar belanjaan mereka kedua wanita itu mencari tempat untuk mengobrol. "Ceritakan padaku bagaimana kehidupanmu yang sekarang? Apa kamu juga mengalami hal-hal sulit sepertiku?" tanya Karin.
Lidia tersenyum sinis. Apalagi kalau mengingat ketika suaminya menikah lagi. "Suamiku pernah menikahi sepupuku sendiri," ungkap Lidia. Ada gurat kesedihan di wajahnya.
Karin memegang tangan Lidia. "Apa masalahnya hingga dia rela menduakan kamu dengan saudaramu sendiri?" tanya Karin.
"Sebenarnya aku yang mengatur agar dia mau menikahi Jingga."
Mendengar Lidia menyebut nama Jingga Karin jadi terkejut. "Jingga? Kenapa namanya mirip sekali dengan nama istri Adli, anak suamiku."
"Adli? Jadi kamu pernah menikah dengan ayahnya?" tanya Lidia balik.
__ADS_1
Karin mengangguk. "Dia anak pertama suamiku. Aku dan suamiku punya satu anak laki-laki," jawab Karin. "Jadi Jingga itu sepupu kamu?" tanya Karin memastikan pendengarannya. Lidia mengangguk.
"Iya, selama ini aku dan keluargaku yang merawat dia," jawab Lidia.
"Kamu bilang tadi kamu yang mengatur agar suami kamu menikahi Jingga? Kenapa? Aku jadi tidak mengerti?" Karin meminta penjelasan pada teman lamanya itu.
"Aku menikah dengan suamiku sudah hampir tujuh tahu lamanya tapi belum juga dikaruniai seorang anak. Lalu aku meminta suamiku menikah lagi agar dia bisa memiliki keturunan. Aku jadi merasa bersalah padanya karena tidak bisa memberikan anak. Namun dia menolak. Oleh karena itu aku mengatur agar Mas Fabian menikahi Jingga karena suatu alasan."
"Alasan? Alasan apa?" sela Karin.
"Aku tahu kebiasaan suamiku yang sering pulang dalam keadaan mabuk. Aku sengaja meninggalkan Jingga sendirian di rumahku saat itu," jawab Lidia.
"Jadi dengan kata lain, suamimu menghamili Jingga?" tebak Karin. Lidia mengangguk.
"Lantas bagaimana suamimu bisa bercerai dengan Jingga?" tanya Karin penasaran. Dia terus mengorek informasi dari teman lamanya itu.
"Pantas saja dia bisa menikah dengan Adli."
"Lalu anakmu usia berapa?" tanya Karin.
"Anakku tak sempat dilahirkan karena janin yang ada di dalam perutku tidak berkembang saat itu. Suamiku menjadi kecewa. Belakangan aku tahu kalau dia mencari keberadaan anaknya. Dia akhir-akhir ini sering datang menemui Jingga di rumahnya," tuduh Lidia.
Padahal kenyataannya Fabian hanya datang beberapa kali saja. Itu pun bisa dihitung dengan jari karena Jingga melarang Fabian menemui anaknya terlalu sering dengan alasan Jingga punya kehidupan pribadi yang tidak bisa dicampuri oleh Fabian.
"Tapi aku mohon kamu jangan bilang ke siapapun kalau aku yang membuat hidup Jingga berantakan." Lidia memohon pada Karin.
"Tenang saja aku tidak begitu akrab dengannya. Aku juga kurang suka dengan dia," jawab Karin sambil tersenyum tipis.
Karin dan Lidia berpisah setelah satu jam lamanya mengobrol. Mereka juga sempat bertukar nomor handphone masing-masing.
__ADS_1
Di tempat lain, Fabian sangat merindukan putrinya. Dia melihat gambar Violet yang dia simpan di handphonenya. "Sekarang kamu lagi apa, Nak?" Fabian mengusap handphone yang menunjukkan wajah putri kecilnya itu.
Kalau saja Jingga tidak melarang dia bertemu maka dia pasti sudah bisa bermain dengan Violet. Fabian pun mencoba menghubungi nomor telepon Jingga. Dia berharap bisa menemui Violet sekali lagi.
Berulang kali Fabian menelepon tapi tak satupun panggilan Fabian yang diangkat. Dia jadi murka. "Apa dia sengaja menolak panggilanku?" gerutu Fabian.
"Ada apa, Bos?" tanya Imam, asisten sekaligus sahabatnya.
"Gue pengen ketemu anak gue tapi Jingga nggak ngizinin gue. Apa dia sengaja?"
"Coba lo pikir-pikir lagi apa yang dia ucapkan ketika terakhir kali bertemu?" tanya Imam.
"Dia tidak ingin privasinya diganggu," jawab Fabian.
"Ya wajarlah kalau soal itu. Dia pasti tidak enak sama suaminya. Makanya elo dilarang sering-sering datang ke rumah," jawab Imam dengan bijak.
"Terus gue harus bagaimana? Nggak mungkin kan gue ngajak Violet keluar? Secara dia masih butuh ibunya. Lagian kalau gue ajak keluar pasti Jingga nggak ngebolehin."
Imam menepuk bahu Fabian. "Ya lo sabar aja tunggu sampai dia besar baru bisa elo ajak keluar," ledek Imam.
"Sialan lo. Enak aja lo nggak ngerasain gimana kangennya gue sama anak."
"Ya itu resiko lo. Siapa suruh dulu menyia-nyiakan ibunya. Tanggung sendiri kalau pada akhirnya elo kehilangan mereka," jawab Imam menohok. Fabian baru tersadar kalau semua ini akibat ulahnya juga.
"Kalau saja aku bisa berlaku adil saat itu," ucap Fabian dengan penuh penyesalan.
...***...
...Perlu diingat, kita tidak bisa memutar waktu dan kembali ke masa lalu. Apa pun yang sudah dilakukan, kita harus menerima segala konsekuensinya....
__ADS_1