
Sejak mengetahui istrinya hamil, Adli over protektif. "Sayang kamu ingin makan apa? Biar aku belikan," kata Adli.
"Nggak usah, kita jemput Violet yuk sudah dua hari dia di rumah Mama Wanda," ajak Jingga. Dia kangen pada putrinya itu. Adli mengangguk setuju.
Sesampainya di sana, Adli dan Jingga langsung masuk ke dalam. Dia terkejut ketika pagi-pagi Fabian sudah berada di sana. Tapi dia datang seorang diri. Lidia tidak ikut bersamanya.
"Vio, kita pulang yuk!" ajak Jingga. Violet tak mau beranjak dari pangkuan Fabian.
Mama Wanda yang menyadari langsung mengurai ketegangan. "Jingga, Adli apa kalian sudah sarapan? Mama baru saja beli makanan. Ayo kita makan dulu!" ajak Mama Wanda.
"Nggak, Ma. Kami sudah makan di rumah. Kami ingin menjemput Violet," kata Adli.
"Bagaimana kalau beri waktu dia sebentar lagi. Kalau dipaksa takutnya nangis," kata Mama Wanda. Adli dan Jingga pun menunggu.
Tapi setelah satu jam, Adli tidak sabar. "Yang, kita pulang sekarang yuk!" ajak Adli pada Jingga. Jingga mengangguk.
"Vio, kita pulang ya!" ajak Jingga pada anaknya. Violet menggeleng.
"Kalau kita beli mainan mau?" tanya Jingga yang masih berusaha membujuk anak sulungnya itu. Lagi-lagi Violet menggeleng.
__ADS_1
"Beli es krim yuk sama papa." Giliran Adli yang membujuk anak itu.
"Nggak mau," jawab Violet. Fabian mengulas senyum tipis.
Jingga dan Adli menghela nafas. "Vio maunya apa? Nanti bunda belikan," ucap Jingga frustasi.
"Vio mau adek," jawab anak kecil itu. Kini giliran Adli yang mengulas senyum.
"Vio mau adek?" tanya Adli. Violet mengangguk.
"Di dalam perut bunda ada dua adek bayi. Vio mau lihat?" tanya Adli. Violet langsung lepas dari pangkuan Fabian.
"Iya, Ma. Baru jalan lima minggu," jawab Jingga. Di saat semua orang bahagia Fabian malah murung. Dia pun berdiri.
"Ma, aku pulang dulu,"pamit Fabian pada ibunya. Setelah itu dia beralih pada anaknya. "Vio lain kali kita main lagi, ya." Fabian mengacak rambut anak semata wayangnya itu. Kemudian dia berdiri.
"Selamat buat kalian," ucapnya pada Jingga dan Adli lalu pergi. Ada gurat kekecewaan di wajah Fabian yang terlihat jelas. Tapi Jingga tidak peduli. Urusan hidup Fabian tidak lagi menjadi tanggung jawabnya.
"Bunda, bunda lihat adek," rengek Violet.
__ADS_1
"Boleh, tapi kita pulang dulu ya. Adeknya malu kalau dia dilihat di sini," jawab Jingga membujuk Violet sekali lagi agar mau pulang. Violet berlari ke mobil ayah sambungnya.
"Ma, kami pamit dulu ya." Jingga menyalami tangan wanita yang pernah menjadi ibu mertuanya itu. Mama Wanda mengangguk.
"Hati-hati. Jaga kandungan kamu baik-baik," pesan Mama Wanda pada mantan menantunya itu. Kini giliran Adli yang bersalaman. Meski bukan kerabat Wanda tapi Adli sangat sopan dan menghormati orang yang dihormati oleh istrinya itu.
"Pamit, Ma," ucap Adli. Mama Wanda mengangguk.
Setelah semua masuk ke mobil, Adli segera membawa anak dan istrinya pulang. "Adeknya di sini ya?" Violet ingat kalau Adli sempat bilang adeknya ada di dalam perut bundanya.
Jingga tersenyum. "Iya, dia masih kecil. Nanti kalau sudah besar dua-duanya akan lahir. Vio mau adik cewek atau cowok?" tanya Jingga.
"Cewek apa?" Rupanya anak kecil itu belum mengerti perbedaan laki-laki dan perempuan.
"Kalau cewek kaya bunda sama Vio, cantik. Kalau cowok kaya papa, ganteng." Jingga menjelaskan dengan caranya sendiri agar bisa dipahami Violet.
"Apa aja." Jawaban Violet mengundang gelak tawa kedua orang tuanya saat di mobil.
"Papa, Vio doain bunda supaya bisa lahiran selamat ya," ucap Jingga pada suami dan anaknya.
__ADS_1
"Aamiin," jawab Adli dan Violet serempak