Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Hukuman


__ADS_3

Mode nulis cepat maaf kalau typo🙏


♥️♥️♥️♥️


"Andre, jangan sekarang!" tolak Lidia ketika Andre ingin mencium lehernya.


"Kenapa? Diva sedang di luar kota, anak-anak juga masih di sekolah. Ini kesempatan kita," bujuk Andre. Dia kembali mencium leher Lidia. Kali ini wanita itu pasrah saat suami adiknya itu menyentuhnya. Lidia meremang, dia mulai mende*sah ketika laki-laki itu menggigit telinganya.


Diva hari ini pulang ke rumah tanpa memberi tahu suaminya dulu. Dia ingin memberi kejutan karena hari ini adalah ulang tahun Andre. Kemaren ketika Diva menelepon Andre, laki-laki itu bilang kalau badannya tidak enak badan. Padahal Andre hanya malas ngobrol berlama-lama dengan istri sahnya.


Diva menebak Andre tidak berangkat kerja hari ini. Itu bisa dilihat dari mobilnya yang masih terparkir sempurna di garasi. Namun, saat dia menatap mobil Lidia ada di sana, dia curiga. Diva buru-buru mencari keberadaan suaminya.


Di saat yang sama asisten rumah tangga Diva sedang keluar, sehingga rumah tampak sepi sekali. Diva naik ke lantai atas menuju kamarnya. Ketika di sampai di depan pintu, dia mendengar suara perempuan dari dalam kamarnya.


Walau bukti sudah kuat, tapi Diva masih berpikir positif. Dia membuka engsel pintu perlahan sambil menguatkan hatinya. Waktu itu Andre tidak mengunci kamarnya karena dirasa aman. Namun, dugaannya tidak benar. Kini Diva memergoki suaminya sedang berada di atas Lidia.


Andre dan Lidia masih tidak menyadari kedatangan Diva. Diva mengambil vas bunga kemudian melemparnya ke lantai, barulah pasangan selingkuh itu mengehentikan perbuatannya. "Dasar jablay, setelah kamu dicerai suamimu, kamu bisa seenaknya menggoda suami orang, hah?" bentak Diva dengan emosi yang berapi-api.


Lidia menutup bagian tubuhnya yang terbuka dengan selimut. Dia menangis di atas ranjang yang masih di tempatinya. Andre panik ketika melihat istri sahnya pulang secara mendadak. Padahal Diva bilang kalau dia akan pulang dua hari lagi. Andre membenarkan bajunya kemudian menghampiri Diva.


"Sayang, tenanglah dulu!" bujuk Andre. Diva menepis tangan Andre ketika ingin menyentuhnya.


"Menjauhlah dariku! Aku jijik padamu," sarkas Diva. Dia menatap penuh kebencian pada Andre dan juga Lidia. Sementara Lidia tidak tahu bagaimana cara meminta maaf pada adik kandungnya itu. Dia terus saja menangis.


"Kamu pikir aku akan iba dengan air mata buayamu? Ternyata hobimu masih sama, menghancurkan hidup orang lain. Setelah kamu menghancurkan hidup sepupumu, sekarang adikmu lalu nanti siapa lagi, hah?"

__ADS_1


"Diva, kita bisa bicara baik-baik." Andre masih berusaha mengambil hati istrinya itu.


"Keluar kalian! Keluar!" Diva menangis sesenggukan. Dia bahkan terduduk di lantai karena saking kesalnya. Sial sekali memiliki kakak seperti Lidia. Diva merasa menyesal telah dilahirkan di keluarganya.


Andre mengajak Lidia keluar. Lidia tak tega melihat Diva, tapi untuk saat ini dia membiarkan adik kandungnya itu menyendiri agar lebih tenang.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Lidia.


"Sebaiknya kita keluar. Diva masih dalam keadaan emosi. Dia tidak akan mudah memaafkan kita." Lidia mengikuti langkah pacarnya itu.


Beberapa hari kemudian Diva melayangkan surat gugatan cerai pada suaminya. Surat itu dikirim ke kantor Andre karena sejak kejadian malam itu, Andre tidak pulang. Andre mengusap rambutnya ke belakang.


"Kamu pikir aku akan menyesal bercerai denganmu? Aku sudah punya mainan baru, jadi tidak masalah," gumam Andre seraya membuang surat panggilan dari pengadilan agama itu ke tempat sampah.


Di sisi lain, Lidia yang mengunjungi ibunya terkejut ketika ada Diva di sana. Rupanya hati itu adalah hari sialnya. Diva mengadu pada ibunya tentang perselingkuhan suami dan kakak kandungnya itu.


Lidia bersujud di pangkuan ibunya yang tengah duduk. "Ma, maafkan aku."


Mamanya menepis tangan Lidia. "Jangan pegang-pegang mama! Mama jijik lihat kelakuan kamu."


Lidia beralih ke Diva. "Diva tolong maafkan aku! Diva memalingkan wajah. Dia menolak permintaan maaf Lidia. Lidia tak bisa berbuat apa-apa untuk membujuk adik dan juga ibunya itu. Lidia tidak tahu lagi harus tinggal di mana. Meski Andre mengajak dia tinggal bersama tapi dia merasa tidak etis kalau orang lain tahu.


Setiap kesalahan pasti akan ada konsekuensinya tergantung seberapa besar kesalahan yang kamu perbuat. Semakin besar kesalahan kamu maka sakin besar pula hukuman yang akan kamu terima.


***

__ADS_1


Meninggalkan kisah Lidia, kita beralih ke Karin yang divonis dengan hukuman seumur hidup. Selain dua kesalahan yang diperbuat, yaitu menganiaya Jingga hingga masuk rumah sakit, merencanakan kecelakaan Wanda dan Violet, satu lagi adalah membuang bayi yang telah dilahirkannya.


Saat itu Helmi curiga karena Karin tidak pernah membawa bayinya. Dia pun bertanya pada wanita itu, Karin mengakui kesalahannya dengan sadar kalau dia meninggalkan anak itu begitu saja. Hati nuraninya sebagai seorang ibu sudah terhapus. Helmi sangat menyayangkan hal itu.


Walau bukan anak kandungnya, tapi demi rasa kemanusiaan Helmi pun menuntut sikap Karin yang tega membuang anak kandungnya sendiri. Dia juga menyeret nama Edward atas dasar pemerasan dan pelaku yang bersekongkol dengan Karin untuk melancarkan semua rencananya.


Edward saat ini menjadi buronan polisi. Dia bersembunyi di apartemen Axel. "Bang, ini makanan buat lo" Axel meletakkan sebungkus nasi di meja.


"Nggak ada yang ngikutin lo 'kan?" Edward benar-benar parno. Dia ketakutan sepanjang hari. Bayangan mendekam di balik jeruji besi selalu melintas di pikirannya. Bahkan matanya tidak bisa terpejam karena dia selalu waspada kalau-kalau polisi akan menyergapnya.


Axel menatap iba pada sepupunya itu. Namun, yang dilakukan Edward sungguh berlebihan. Dia bahkan selalu mengunci diri di kamar usai menyantap makanannya. Axel pikir Edward sudah setengah gila karena ketakutan.


Malam itu, Imam yang tak lain adalah sahabat Axel, membawa makanan ke apartemennya. "Gue baru pulang dari meeting. Nih gue bawakan makanan seafood buat lo." Imam menerobos masuk.


Dia memang diperintahkan oleh Fabian untuk mengawasi apartemen Axel. Dia menduga Edward bersembunyi di sana. Fabian sudah lama ingin memenjarakan Edward karena dulu dia adalah seorang pebinor. Gara-gara dia orang tuanya bercerai. Namun, belakangan dia mencampakkan ibunya karena sudah tidak cantik lagi.


Imam curiga saat melihat sepatu yang bukan milik Axel. Imam hafal sepatu apa saja yang Axel punya sehingga dia curiga ada orang lain yang tinggal di apartemen itu.


"Xel, sekali-kali lo buatin gue minum kek." Imam pura-pura mengeluh.


Axel tidak curiga sama sekali. Dia pun menuruti perintah Imam. Di sisi lain Imam mengirim pesan singkat Fabian agar menggerebek Edward di unit apartemen Axel.


Setelah Axel kembali, Imam mengukur waktu setengah jam. Setelah mendapatkan pesan dari Fabian kalau mereka sudah sampai, dia berpamitan. "Gue balik ya. Bini gue pasti ngomel kalau pulang larut tiap hari," kata Imam.


Ketika Axel membukakan pintu untuk Imam. Fabian sudah menunggu di depan pintu. Dia menerobos masuk dan mencari keberadaan Edward dengan brutal. "Apa-apaan lo?" bentak Axel tak terima saat apartemennya diobrak-abrik.

__ADS_1


Fabian tak mengindahkan ucapan Axel. Dia masih mencari Edward. Ketika dia mengetahui ada satu pintu yang terkunci, Fabian mendobrak pintu itu. Setelah berhasil ternyata Edward tidak ada di dalam kamar.


Fabian melihat jendela yang terbuka. Rupanya Edward terjatuh dari lantai tiga belas saat berusaha menyelamatkan diri. Dia ma*ti seketika. Axel melihat ke bawah. Tubuhnya melorot ketika melihat sepupunya ma*ti secara tragis.


__ADS_2