Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Adli bersaudara


__ADS_3

Saat ini Adli sedang memikirkan Jingga. Sudah lama semenjak dia menjenguk Jingga di rumah sakit, dia tak lagi menemui Jingga. Adli sadar diri kalau dirinya bukanlah siapa-siapa bagi Jingga.


Adli pun mencari tahu dengan bertanya pada tetangga yang tinggal di dekat rumah Wanda. Tapi informasi yang dia saat sangat mengejutkan ketika mereka bilang kalau wanita yang ditampung oleh pemilik rumah sudah lama tidak kelihatan.


Adli pun pulang ke rumah. Tiba-tiba Mario mendekati kakaknya. "Bang, punya nomornya Kak Jingga nggak? Kenapa dia tidak mengajar aku lagi?" tanya Mario.


"Abang sudah cari tahu katanya Kak Jingga sudah pindah, Dek. Tapi Abang tidak tahu di mana dia pindah," jawab Adli. Bahu Mario seketika meluruh.


"Abang sudah cari di mana kak Jingga pergi?" tanya Mario.


"Abang sudah bertanya pada tetangganya tapi mereka tidak tahu ke mana Kak Jingga pergi," jawab Adli.


Sesaat kemudian Rizky tiba di rumah. "Pada bahas apa sih?" tanya Rizky.


"Kak Jingga pindah," jawab Mario. Rizky mengerutkan kening.


Dari mana kamu tahu?" tanya Rizky pada Mario.


"Abang yang kasih tahu," jawab Mario atas pertanyaan Rizky.


Rizky menoleh pada Adli. "Jadi Abang sudah tahu kalau Jingga pergi?" tanya Rizky pada kakaknya..


"Kebetulan aku lewat rumah yang terakhir ditinggali Jingga. Lalu aku pun bertanya pada tetangga sekitar rumah itu," jawab Adli.


Semua orang merindukan Jingga. Jingga kini tak lagi bersedih dengan perceraiannya. Dia bekerja keras untuk merawat Violet.


Tiga bulan berlalu bayi itu kini semakin hari semakin gemuk. "Hai, Dek Vio," sapa murid les privat Jingga.


Setiap hari dia mengajar les di rumahnya. Sehari bisa dua orang yang dia ajar dengan bayaran yang lumayan tinggi. Sebab hidup di kota besar rata-rata penghasilan orang tua mereka di atas rata-rata. Jingga pun mematok tarif yang sama ketika dia dulu mengajar Mario.


"Kak Nanda, sudah siap belajar hari ini?" tanya Jingga.


"Siap, Bu. Oh iya, kemaren aku dapat seratus di nilai ulangan harian matematika." Nanda menunjukkan nilainya pada Jingga.

__ADS_1


"Wah, hebat sekali," puji Jingga. Dia merasa bangga karena anak-anak yang dia ajari mendapatkan nilai bagus di sekolahnya.


"Kata mami besok libur dulu, Bu. Soalnya minggu depan kelas enam ada ujian jadi kelas 1-5 belajar di rumah," terang Nanda.


"Iya, Nanda."


Jingga jadi teringat Mario. Dia merindukan mantan muridnya itu. "Bu Jingga kenapa melamun?" tanya Nanda.


"Ibu ingat murid ibu yang sedang duduk di kelas enam," jawab Jingga.


"Sekolahnya di mana, Bu? Mungkin aku kenal," ujar Nanda.


Jingga tersenyum. "Dia tidak tinggal di kota ini."


Di kota yang pernah Jingga tinggali, sepasang suami istri sedang berada di ruangan dokter sedang memeriksakan kandungan sang istri.


"Bagaimana, Dok? Bayi saya sehat 'kan?" tanya Lidia.


"Di usia kandungan Anda yang menginjak lima bulan seharusnya perut Anda sudah membesar. Tapi karena berat janin kurang jadi Anda tidak kelihatan seperti mengandung. Banyak konsumsi makanan bergizi supaya janin Nyonya bisa berkembang dengan baik. Jika hingga usia tujuh bulan nanti berat badannya tidak juga bertambah maka dia bisa lahir prematur. Resiko terbesar adalah meninggal setelah dilahirkan," terang dokter itu panjang lebar.


"Tolong konsumsi vitamin yang saya resepkan dengan rutin agar kandungan Anda baik-baik saja." Lidia mengangguk. Fabian mengerti perasaan Lidia. Dia mengusap bahu istrinya beberapa kali untuk menguatkan.


Usai pemeriksaan Lidia dan Fabian keluar dari ruangan kemudian berjalan ke ruang obat. Usai menebus obat-obatan yang diresepkan oleh dokter, mereka pulang ke rumah.


"Sudah, kamu jangan terlalu memikirkan ucapan dokter. Bisa saja dia salah periksa. Lain kali kita ke dokter spesialis kandungan yang lebih bagus," kata Fabian.


Lidia tak menanggapi. Dia mengusap perutnya beberapa kali. "Apa ini karma karena telah menyia-nyiakan Jingga?" cetus Lidia.


Fabian tiba-tiba mengerem mendadak. "Jangan pikir yang aneh-aneh. Kamu sedang hamil. Fokus saja pada kehamilan kamu. Banyak pikiran akan membuat kamu sakit."


Fabian mengusap kepala istrinya dengan sayang. "Kita cari makan. Kita beli banyak makanan agar kamu dan bayi kita sehat," usul Fabian. Lidia mengangguk setuju.


Fabian ingin membuat suasana hati Lidia kembali ceria. Dia tidak ingin perkembangan bayi dalam kandungan Lidia menjadi terhambat hanya karena Lidia stress.

__ADS_1


Sesampainya di sebuah restoran mahal yang ada di kota itu, Fabian mengajak masuk Lidia. Tanpa diduga mereka bertemu dengan Adli bersaudara. Adli tahu Fabian telah mencampakkan Jingga. Dia menatap tidak suka pada laki-laki yang sedang menggandeng istrinya itu.


Begitu juga dengan Rizky. Gara-gara Fabian, Jingga hilang entah ke mana. Rizky mengepalkan tangan rasanya dia ingin menonjok wajah Fabian.


"Bagaimana kalau kita pindah tempat saja," ucap Fabian.


Adli pun berdiri daei tempat duduknya. "Apa Anda merasa keberatan dengan keberadaan kami di sini?" sindir Adli dengan suara yang lantang.


Fabian menoleh. "Anda salah sangka. Saya berniat mencari tempat makan malam yang romantis untuk istri saya. Ketika kami masuk saya rasa tempat ini kurang sesuai," jawab Fabian beralasan.


"Restoran mewah mana lagi yang lebih mahal dari restoran ini?" ledek Adli. Dia sedikit angkuh dan memamerkan kebiasaannya makan di tempat-tempat mahal.


"Hanya restoran seperti ini, saya pun bisa mendirikan jauh yang lebih bagus dari ini." Fabian tak mau kalah.


"Rupanya selain Anda orang yang tidak tahu diri, Anda juga sangat sombong," ledek Adli.


"Jaga bicara kamu!" bentak Fabian tak terima.


"Mas, jangan ladeni mereka!" Lidia melerai agar tidak terjadi pertengkaran.


"Anda. Di mana perasaan Anda sebagai seorang wanita? Apa yang akan Anda lakukan jika berada di posisi Jingga? Karena kalian kami kehilangan orang sebaik Jingga," tutur Adli.


Fabian tersenyum sinis. "Jadi kamu merindukannya? Seberapa jauh kalian berhubungan?"


Bug


Rizky yang tak tahan dengan sikap Fabian menonjok wajah laki-laki itu dari samping. Fabian pun jatuh menimpa kursi. Lidia menjerit ketakutan.


Rizky ingin menghabisi Fabian tapi Adli melarangnya. "Laki-laki seperti dia tidak pantas untuk hidup," seru Rizky dengan emosi yabg berapi-api. Dadanya sampai naik turun karena saking kesalnya.


"Kamu jangan bertindak bodoh. Kamu bisa dituntut," bisik Adli dengan nada yang penuh penekanan.


"Ada apa ini?" tanya security yang datang mendekat. Lidia membantu suaminya untuk bangun.

__ADS_1


"Nyonya tolong bawa pergi suami Anda. Saya tidak bisa menjamin emosi adik saya mereda saat ini," ucap Adli memberi peringatan.


Lidia mengajak suaminya untuk pergi. Dia tidak ingin wajah suaminya makin babak belur. Fabian menepis tangan Lidia. Dia ingin berjalan sendiri.


__ADS_2