Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Karin melahirkan


__ADS_3

Rizky dan anggita keluarga Talita menunggu operasi sampai selesai. Sekitar empat jam berada di ruang operasi, akhirnya dokter keluar kemudian melepas sarung tangannya.


Semua orang mendekat ke arah dokter. "Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Pak Azam.


"Di luar dugaan, operasinya berhasil dan berjalan lancar," jawab dokter itu. Rizky pun terduduk lemas karena saking leganya.


"Kapan kami boleh menjenguknya?" tanya Edward.


"Setelah pasien dipindahkan ke ruangan lain," jawab dokter tersebut.


Sesaat kemudian Edward mendapatkan pesan dari Karin. 'Aku tunggu di apartment kamu.'


Edward langsung berpamitan pada pamannya. "Terima kasih, Ed. Kamu telah menunggui operasi adikmu sampai selesai," ucap Pak Azam sebelum Edward pergi.


"Sama-sama, Om."


Rizky juga berpamitan setelah itu. "Saya akan menjenguk Talita lagi besok," ucap Rizky. Pak Azam mengangguk.


Edward mengendarai mobilnya menuju ke apartemen. Di sana Karin telah menunggu selama setengah jam lamanya. Karin tidak tahu nomor sandi unit apartemen Edward sehingga dia tidak bisa masuk dengan leluasa.


Ketika sampai di parkiran, Edward segera turun dari mobilnya. Dia tidak mau membuat Karin menunggu lama. Karin mengulas senyum pada sang kekasih. "Kamu bawa apa?" tanya Edward saat melihat Karin membawa sebuah paper bag berukuran besar.


"Bukankah hari ini adalah ulang tahunmu? Ayo kita rayakan bersama!" Edward mengangguk patuh. Dia membuka pintu apartemennya kemudian mengajak Karin masuk.


"Hati-hati," ucap laki-laki bertubuh tinggi besar itu. Karin tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari kekasihnya.

__ADS_1


"Kalau kamu manis gini aku jadi ingin itu," ucap Karin sambil membelai dada bidang Edward. Edward laki-laki normal yang ketika mendapatkan sentuhan di bagian kulitnya akan mudah ter*ngs*ng.


Edward menutup pintu unit apartemennya hanya dengan satu kaki. Kemudian dia memeluk pinggang Karin. Baginya wanita yang sedang hamil besar itu selalu bisa menggodanya. Edward mencium bibir Karin dengan lembut. Karin pun menjatuhkan barang yang dia bawa kemudian mengalungkan tangannya ke leher.


Tangan Edward yang terampil membuka pakaian Karin satu per satu. Mereka masih berjalan ke arah ranjang tanpa melepas pagutan satu sama lain. Kemudian Edward sengaja menjatuhkan diri lebih dulu agar posisi Karin bisa di atas.


Setelah melakukan pemanasan yang cukup lama. Edward mulai memasukkan miliknya. Namun, perut Karin tiba-tiba mulas saat Edward melakukan p*n*tr*si. "Kamu kenapa?" tanya Edward panik.


"Perutku kontraksi, sepertinya aku akan melahirkan," jawab Karin. Edward pun terkejut mendengar jawaban Karin. Cepat-cepat dia memakai pakaiannya setelah itu barulah membantu Karin memakai pakaian.


Edward memapah Karin hingga ke lantai bawah. "Ed, aku sudah tidak tahan. Anakku ingin keluar," ucap Karin sambil menangis.


"Kamu jangan becanda, Karin. Bersabarlah sedikit! Aku akan ngebut supaya cepat sampai di rumah sakit nanti," omel Edward. Dia belum pernah mengalami hal semacam ini.


Setelah berhasil masuk ke dalam mobil, Edward segera tancap gas menuju ke ruah sakit terdekat. Sesampainya di sana, Edward mendaftarkan Karin tapi dia berpura-pura sebagai suaminya. "Nama Anda siapa?" tanya perawat tersebut.


"Helmi," bohong Edward.


"Baik, silakan urus administrasinya dulu, baru dokter akan ambil tindakan," kata suster tersebut memberi tahu. Edward mengambil kartu ATM yang ada di tas Karin tapi ketika akan digunakan kartu tersebut ternyata diblokir oleh pihak Bank.


"Sial, kenapa di saat seperti ini? Kalau aku bayar pakai uangku pasti akan ketahuan." Edward pun berpikir cepat agar anak yang dikandung Karin terselamatkan.


Dia pun menelepon Helmi tapi menyuruh orang lain berbicara. "Hallo, dengan Pak Helmi?"


"Ya, saya sendiri," jawab Helmi ragu karena nomor tersebut tidak ada fi kontaknya.

__ADS_1


"Saya menolong istri Anda yang akan melahirkan saat di jalan tadi. Datanglah ke rumah sakit untuk mengurus administrasinya!" perintah orang tersebut.


"Baik, kirim alamat rumah sakitnya melalui pesan!" Helmi menutup telepon kemudian bergegas untuk menuju ke rumah sakit di mana Karin dirawat.


Edward memberikan uang ada orang suruhannya yang baru dia kenal itu. Setelah itu dia bersembunyi untuk memastikan apakah Helmi datang atau tidak. Selang beberapa saat Helmi terlihat memasuki rumah sakit. Edward pun merasa lega dan dia memilih meninggalkan Karin.


Anak Karin telah lahir sesaat kemudian. Mereka menolong Karin dan bayinya baru setelah itu memberi tahu keluarganya. "Saya Helmi suaminya Karin," ucap laki-laki yang memakai kemeja abu-abu itu.


"Kalau Anda Helmi, lalu siapa laki-laki tadi?" gumam perawat yang berada di bagian administrasi tersebut.


Helmi merasa curiga, tapi dia akan mengurusnya nanti setelah melihat anaknya. "Mas, anak kita lahir dengan selamat," ucap Karin ketika Helmi mendekatinya.


Sebenarnya dia merasa kecewa dengan Edward karena laki-laki itu pergi meninggalkannya di saat Karin sedang butuh dukungan. Namun, kalau dipikir-pikir lagi jika Edward tidak pergi maka perselingkuhannya dengan Edward akan ketahuan oleh suaminya. Karin pun memaafkan sikap Edward.


"Mas, akan kamu namai siapa bayi kita ini?" tanya Karin.


"Aku belum tahu," jawab Helmi cuek. Dia ragu apakah anak itu benar-benar darah dagingnya atau anak Karin dengan laki-laki lain.


Helmi berencana melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Karin. Dia harus membuktikan status anak itu. Jika benar Karin selingkuh maka Helmi tidak bisa memaafkannya. Dia akan langsung menceraikan Karin detik itu juga.


Apakah kecurigaan Helmi itu terbukti? Atau anak itu benar anaknya?


Tunggu episode berikutnya


Jangan lupa hadiahnya ya bar othor semangat nulis 🙏

__ADS_1


__ADS_2