
Violet menyuapi Sabrina bubur buatannya. Justin merasa memiliki keluarga yang utuh ketika melihat interaksi wanita beda generasi itu. "Sabrina mulai sekarang panggil dia Mama Vio!" perintah Justin pada putrinya itu. Sabrina mengangguk setuju.
"Mama Vio," panggil Sabrina seraya memeluk Violet. Violet membalas pelukan Sabrina dengan hangat.
Setelah itu Sabrina mengajak Violet ke pinggir kolam renang. "Untuk apa kita ke sini?" tanya Violet pada Sabrina.
"Aku mau ajak Mama lihat bintang. Di sini bintangnya paling jelas."
Violet tidak menghiraukan ucapan Sabrina kepalanya pusing ketika melihat air dalam jumlah banyak. Dia memilliki trauma karena pernah hanyut terbawa aliran sungai.
Sabrina mengajak Violet berjalan di sekitar kolam renang tersebut. Tiba-tiba kaki Violet terpeleset karena tubuhnya tak seimbang. Vio jatuh ke kolam renang. Justin yang berada di balkon lantai atas langsung turun melewati tangga yang tembus dengan kolam renang. Dia menceburkan diri untuk menolong Violet.
Violet pingsan di dalam air. Justin menangkap tubuhnya lalu dia membawanya ke tepi kolam renang. Sabrina sangat ketakutan sehingga dia menangis. Namun, untuk saat ini prioritas Justin adalah menyelamatkan Violet. Justin pun memberikan nafas buatan untuk Violet.
Violet sadar setelah beberapa kali diberi nafas buatan oleh Justin. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Justin.
"Kepalaku pusing. Aku tidak bisa lihat kolam renang," kata Violet dengan jujur. Justin pun paham karena wanita itu sudah menceritakan tentang masa lalunya.
Para pelayan memberikan handuk kering pada Justin. Lalu dia menggendong tubuh Violet. Dia membawa gadis itu ke kamarnya. Justin memerintahkan pelayan untuk mengganti pakaian Violet. Sementara Justin sendiri berganti pakaian di kamar lain.
Setelah itu, Justin menemui anaknya yang sejak tadi menangis karena khawatir pada ibunya. Justin mengusap kepala Sabrina dengan lembut. "Biarkan mama beristirahat dulu." Justin memberikan pengertian pada putri kecilnya itu.
Dia menggendong Violet dan membaringkannya di atas kasur. Kemudian dia menaikkan selimut hingga ke bagian dadanya. "Sabrina juga harus istirahat karena kamu baru sembuh. Besok pagi kamu boleh menemui mama. Dia ada di kamar pap sekarang." Sabrina mengangguk patuh.
Justin keluar usai menutup pintu kamar Sabrina. Justin merokok di dalam ruang kerjanya. Dia memikirkan bagaimana cara menemukan keluarga Violet. Hingga tanpa sadar di menghabiskan banyak puntung rokok.
Keesokan harinya Violet terbangun. Badannya kini sudah lebih baik setelah tidur semalaman. Kini dia tidak lagi terkejut karena dia tahu di mana dia sekarang. Namun, dia tidak melihat pemilik kamar itu.
Violet menyibak selimut kemudian turun dari ranjang. Ada yang berbeda. Ah tidak, pakaiannya sudah diganti, tapi oleh siapa? Violet mencoba memutar ingatannya kembali tapi dia tidak bisa mengingatnya. "Apakah aku sudah tidak perawan?" tanya Vio pada dirinya sendiri. Dia pun meluruhkan bahunya.
__ADS_1
Vio mencari pakaiannya tapi tidak dia temukan. Dia masih mengenakan pakaian tidur yang pas dengan ukuran badannya. Violet pun keluar dan mencari keberadaan Justin.
"Mama sudah bangun?" tanya Sabrina yang sudah cantik dengannya pakaian seragam sekolahnya.
"Sayang, kamu mau berangkat sekolah ya?" tanya Violet seraya berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan anak kecil itu.
Sabrina mengangguk. "Ayo, Ma! Antar aku ke sekolah!" rengek Sabrina.
Sesaat kemudian Justin berjalan mendekat. "Violet," panggil Justin.
"Kembalikan bajuku!" ucap Violet setengah berbisik pada laki-laki tampan yang berdiri di hadapannya. Justin menahan tawa. Kemudian dia menoleh pada asisten rumah tangganya.
Pelayan itu membawakan Violet pakaian baru. "Pakailah baju itu!" perintah Justin. Violet pun menerimanya.
"Sayang, aku siap-siap dulu ya." Violet belum terbiasa menyebut dirinya dengan kata 'mama'. Sabrina mengangguk paham.
Sembari menunggu Violet, Justin mengajak Sabrina sarapan bersama. Tak butuh waktu lama, Violet berjalan mendekat. Justin tiba-tiba tersedak ketika melihat tampilan Violet yang menyerupai mendiang istrinya.
"Mama cantik sekali," puji Sabrina. Justin berdehem untuk menetralkan kegugupannya. Violet tersenyum malu sambil membenarkan anak rambutnya ke belakang telinga.
Kemudian Justin meminta Violet makan bersama. Usai makan, mereka mengantarkan Sabrina ke sekolah. Anak kecil itu memperkenalkan Violet pada teman-temannya.
"Wah, Pak Justin punya pacar baru ya?" Salah seorang wanita yang sedang mengantar anaknya membicarakan Justin di belakang.
"Iya, ya. Mana cantik lagi calonnya."
Setelah Sabrina masuk ke dalam kelas, Justin mengajak Violet pergi. "Mau ikut ke kantor atau aku antar pulang?" tanya Justin.
"Aku ingin pulang ke kontrakanku," jawab Violet.
__ADS_1
"Untuk apa? Tinggallah di rumahku!" pinta Justin.
"Aku tidak bisa tinggal di rumahmu. Kita belum menikah," tolak Violet.
"Aku akan siapkan kamar terpisah," bujuk Justin. Violet menghela nafas.
"Baiklah, aku akan mengambil barang-barangku."
"Buang saja baju-bajumu! Aku akan membelikan baju baru untukmu," sela Justin. Violet mendengus kesal.
"Baiklah, baiklah. Aku hanya akan mengambil barang berhargaku yang tertinggal. Setidaknya aku juga perlu berpamitan pada pemilik kontrakan."
"Terserah kamu."
Lalu Justin menurunkan Violet di depan rumah kontrakannya. "Kamu bisa pergi. Aku akan pulang ke rumahmu dengan naik ojek jika urusanku sudah selesai," usir Violet.
"Baiklah, aku juga tidak bisa menunggu kamu. Aku ada pertemuan penting. Kabari saja Rian. Dia akan menjemputmu." Violet hanya berdehem menjawab pertanyaan Justin.
Ketika Justin pergi, seseorang memanggil Violet. Violet terkejut ketika melihat orang yang selama ini dia hindari. "Mau kabur ke mana lagi kamu?" teriak orang itu.
Violet berusaha kabur sayangnya karena dia memakai sepatu berhak tinggi sehingga jangkauannya tidak bisa bebas. Seseorang menarik tangannya dan membekap mulut Violet. Setelah itu, mereka memasukkan Violet ke dalam mobil.
Pada saat itu beberapa orang melihat kejadian tersebut tapi mereka tidak berani melawan. Justin menunggu kabar dari Violet sejak tadi tapi gadis itu tak juga menghubunginya. Justin mencoba menelepon nomor Violet, sayangnya sambungannya terputus.
"Berani-beraninya dia mematikan panggilanku." Justin pun menyambar jasnya lalu mendatangi rumah kontrakan Violet. Terlihat sepi.
"Ke mana dia?" gumam Justin. Ketika di hendak berjalan, dia menemukan ponsel Violet terjatuh di tanah. Justin memiliki perasaan tidak enak.
Justin melihat ke sekeliling daerah itu. Dia melihat CCTV terpasang tak jauh dari tempatnya berdiri. Justin pun meminta izin pada pemilik rumah untuk melihat rekaman terakhir di sekitar rumah Violet. Justin mengepalkan tangan ketika melihat sekelompok orang yang menculik calon istrinya itu.
__ADS_1
Dia pun segera memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Violet.
Sementara itu, ketika Sabrina pulang ke rumah dia mencari keberadaan Violet tapi dia tidak menemukannya. Sabrina kembali merengek. Asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Justin melapor pada tuannya itu. Justin pun dibuat bingung karena hanya Violet yang bisa menenangkan anaknya.