
Beralih ke kisah Fabian yang mendapat pembantu baru. Sejak ada Melati, Mama Wanda jadi terurus. Melati merawat beliau dengan sabar. Tidak seperti Lidia yang kasar dan tidak sabaran, Melati selalu mengajak Mama Wanda berbicara.
Fabian sedang sibuk mengurus surat perceraiannya dengan Lidia. Dia mantap bercerai setelah berpikir cukup lama. Fabian merasa pernikahannya tidak terselamatkan. Dari pada saling menyakiti satu sama lain, Fabian memilih berpisah.
"Pak, mau ke mana?" tanya Melati.
"Bukan urusan kamu," jawab Fabian dengan ketus.
"Pak, boleh nitip nggak?"
"Kamu tidak sopan sama majikan," bentak Fabian.
"Saya hanya nitip buah buat nyonya. Beliau jarang makan buah. Di kulkas tidak ada buah. Nyonya kan butuh asupan gizi yang cukup."
"Ck, oke, oke. Tapi tunggu nanti sore." Melati tersenyum senang.
Fabian menggerutu sepanjang jalan karena perintah Melati. "Dia kan bisa beki sendiri, tapi nanti mama nggak ada yang jagain. Ah, bisa-bisanya aku mau diperintah sama dia."
Fabian datang ke pengadilan mengajukan surat gugatan cerai. Dia datang bersama pengacaranya. "Pak, kalau berkas sudah masuk ke pengadilan tidak akan bisa dicabut."
"Iya, aku yakin. Atur saja jadwal sidangnya."
Usai ke pengadilan, Fabian membeli pesanan Melati. Setelah itu dia pulang ke rumah untuk mengantarkan buahnya. Ketika dia baru masuk ke dalam rumahnya, dia melihat ibunya muntah. Fabian mengira kalau Melati meracuni ibunya. Dia pun mendorong Melati padahal gadis itu sedang menolong Wanda.
"Apa yang kamu berikan pada mama?" bentak Fabian.
"Saya hanya menyuapi beliau dengan nasi," jawab Melati dengan jujur.
"Lalu kenapa bisa muntah sebanyak ini?" tanya Fabian.
"Saya tidak tahu, Pak. Sebaiknya panggil saja dokter," saran Melati. Fabian pun menelepon ayahnya.
Sementara menunggu Erik, Fabian mengangkat Wanda ke atas ranjang. "Bersihkan muntahannya!" perintah Fabian pada Melati. Melati cepat-cepat keluar. Dia tak menghiraukan kakinya yang bengkak karena terkilir setelah didorong oleh Fabian.
Melati membersihkan kamar majikannya dengan telaten. Tak lama kemudian Erik datang. "Melati, di mana Wanda?" tanya Erik.
__ADS_1
"Ada di kamarnya, Pak," jawab Melati. Erik pun menuju ke kamar mantan istrinya itu.
"Apa yang dia makan sampai muntah begini?" tanya Erik pada Fabian. Fabian menggedikkan bahu.
"Tanya saja pada dia," tunjuk Fabian pada Melati.
"Saya menyuapi beliau nasi dan ikan saja," jawab Melati dengan jujur.
"Pantas saja. Wanda tidak suka makan ikan. Dia jijik jika melihat ikan. Jadi tidak masalah tidak ada penyakit yang serius." Sesaat kemudian Erik mendekat ke arah Melati. "Apa kamu betah tinggal di sini?" tanya Erik pada gadis itu. Melati mengangguk sambil menunduk.
"Jika Fabian menyiksa kamu di sini adukan padaku," ucap Erik. Melati mendongak, dia merasa senang mendapatkan dukungan.
"Melati, buatkan minuman untuk kami," perintah Fabian.
Erik melihat kaki Melati yang pincang ketika berjalan. "Melati, kaki kamu kenapa?" tanya Erik.
"Hanya tidak sengaja tersandung, Pak. Tidak apa-apa nanti dioles sama balsem juga sembuh," bohongnya.
Fabian merasa bersalah mungkin karena dia sadar Melati terluka akibat dia mendorongnya terlalu keras. Fabian mengeluarkan uang dua lembar berwarna merah. "Belilah salep untuk mengobati lukamu!" perintah Fabian. Melati mendorong tangan Fabian.
"Ambil, Melati!" perintah Erik pada gadis itu.
"Fab, di mana asisten rumah tangga kamu? Kenapa menyuruh Melati melakukan pekerjaan yang bukan tugasnya?" tanya Erik.
"Dia mengundurkan diri beberapa hari yang lalu. Kalau bukan dia siapa lagi yang akan mengerjakan pekerjaan rumah, Pa?" Fabian balik tanya.
"Carilah orang lain, bukankah banyak orang yang memerlukan pekerjaan. Jangan menyiksa Melati. Dia sudah kewalahan mengurus Wanda malah kamu tambahi pekerjaan seenak kamu," omel Erik pada putra sulungnya.
"Kenapa papa begitu peduli pada dia?" tanya Fabian.
"Dia itu anak yatim piatu, Fab. Hidupnya menderita. Sudah sepantasnya kita membantu dia," jawab Erik.
"Terserah papa."
"Pokonya besok kamu harus cari asisten rumah tangga yang baru!" perintah Erik pada Fabian.
__ADS_1
Erik pulang setelah meminum teh buatan Melati. Kemudian Fabian menyuruh Melati duduk. "Kamu sudah beli salepnya?" tanya Fabian.
Mas Fabian ngadi-ngadi ya, dari tadi Melati ada di rumah bikinin teh, mana sempat dia keluar.
Fabian mengangkat kaki Melati. "Pak, jangan!" Melati merasa tidak enak.
Fabian melihat kaki Melati memar dan sedikit bengkak. "Kompres saja pakai air hangat lebih dulu. Aku akan pergi belikan obat."
"Tunggu, Pak!"
"Apa lagi?" tanya Fabian. Melati mengembalikan uang dua ratus ribu itu pada Fabian.
"Ini uang untuk beli salep tadi yang bapak berikan pada saya."
Fabian menghela nafas. "Ambil saja! Hitung-hitung untuk bonus kamu bekerja di sini," balas Fabian.
Sesaat kemudian Fabian pergi ke apotek terdekat. Baru saja dia keluar tak jauh dari rumahnya, Fabian melihat Lidia satu mobil dengan seorang laki-laki secara sekilas. "Dasar wanita tidak tahu diuntung!" umpat Fabian.
Walaupun begitu dia tidak penasaran dengan siapa istrinya itu pergi. Fabian lebih memilih membelikan salep memar untuk Melati ketimbang mengikuti Lidia.
Sesampainya di rumah, Fabian tidak mendengar suara Melati meski telah dipanggil beberapa kali. Rupanya gadis itu tertidur di sofa panjang depan televisi. Fabian menutup bagian pahanya yang tak sengaja tersingkap. Laki-laki itu mengambil selimut dari dalam kamarnya. Dia membiarkan Melati tidur.
"Kasian juga dia," ucapnya merasa iba usai menyelimuti tubuh Melati. Fabian melihat wajah damai gadis itu, ada perasaan yang berbeda ketika dia melihatnya secara terus-menerus.
"Ah, come on, Fab. Elo bukan laki-laki breng*sek! Jangan sampai terulang kejadian di masa lalu."Bayangan tentang perbuatannya yang merenggut mahkota Jingga secara paksa tiba-tiba melintas di pikirannya.
Dia memilih pergi dan masuk ke dalam kamar. Berhadapan dengan Melati sangat berbahaya. Dia tidak boleh merusak gadis itu.
Keesokan harinya, Melati yang mendengar adzan subuh berkumandang dari masjid oun terbangun. "Ya ampun, aku ketiduran," ucap Melati saat menyadari kelalaiannya.
Dia terkejut ketika badannya terselimuti selimut bulu yang begitu lembut. "Punya siapa ya?" Seingatnya Melati tak mengambil selimut dari kamar.
Pandanaran mata Melati mengarah ke jam besar yang tertempel di dinding. "Hah, jam enam?" Melati buru-buru berdiri. Ternyata kakinya sudah membaik.
Dia menengok Wanda di kamarnya. Melati terkejut ketika majikannya itu bangun lebih dulu. "Maafkan saya, Pak. Saya ketiduran," ucap Melati dengan menunduk.
__ADS_1
Fabian berdiri. "Sudah tidak apa-apa. Kamu lanjutkan pekerjaan kamu. Aku akan berangkat ke kantor. Tolong jaga ibuku!" perintah Fabian dengan lembut. Melati pun ternganga dibuatnya. Padahal Fabian selalu membentaknya selama ini. Lalu apa yang membuat dia berubah 180°?