
Axel memanggil seorang wanita panggilan yang paling cantik untuk menemani Fabian malam ini. "Buat dia menghamili kamu!" Axel memberikan sejumlah uang yang cukup banyak pada wanita itu.
"Serem juga permintaan lo," ujar Erika pada Axel.
"Elo nggak mau kan selamanya jadi wanita penghibur. Ini saatnya elo bisa menghirup kebebasan. Jadi kalau elo hamil anak dia maka gue pastikan elo akan jadi ratu. Dia orang kaya jadi jangan takut kekurangan uang," bujuk Axel.
Erika pun memikirkan tawaran Axel. Lagipula tidak ada salahnya mendekati laki-laki tampan itu. Erika berjalan kemudian duduk di dekat Fabian. Dia pura-pura menabrak Fabian padahal sudah jelas-jelas Fabian dalam posisi duduk.
"Maaf, kepalaku pusing aku jadi tidak seimbang ketika berjalan," bohong Erika untuk mendapatkan simpati Fabian.
Fabian yang tengah mabuk tidak menghiraukan ucapan Erika. Matanya menyipit untuk memperjelas pandangannya. "Jingga, Jingga." Fabian memeluk Erika dengan sangat posesif.
Erika tidak mengenal wanita yang bernama Jingga itu. Tapi ini bisa dijadikan kesempatan untuk membuat Fabian bisa tidur dengannya.
"Mas, aku merindukanmu." Erika mulai berakting seolah-olah dia menjadi Jingga.
"Maafkan aku. Aku sudah mendapatkan hukuman. Kandungan Lidia harus digugurkan. Aku jadi tidak bisa punya anak," racau Fabian.
"Mas tidak usah khawatir. Kita bisa membuat anak sebanyak yang kamu mau," jawab Erika.
Fabian melepas pelukannya. "Sungguh?" tanya Fabian. Dia benar-benar hilang akal.
Erika mengangguk. Lalu Erika pun menyambar tasnya kemudian mengajak Fabian ke sebuah hotel. "Ini akan jadi malam panas yang tidak akan terlupakan untukmu Mas," gumam Erika seraya membuka satu per satu kancing baju Fabian.
Di tempat lain, Lidia yang mengharap suaminya kembali nyatanya tidak juga datang. "Sebenarnya ke mana suami kamu?" tanya Ibunda Lidia.
"Akku tidak tahu, Ma," jawab Lidia.
"Biar aku coba hubungi April atau Om Erik. Barangkali Kak Fabian sedang bersama mereka," seru Diva, adik Lidia.
Diva menelepon Erik dan April secara bergantian tapi mereka bilang, Fabian tidak bersama mereka. "Apa dia bersama Tante Wanda?" teba Diva.
__ADS_1
Tak lama kemudian sakit perut Lidia semakin menjadi. Ibunda Lidia memanggil dokter. "Kita harus keluarkan janinnya."
Ibunda Lidia menyetujui saran dokter tanpa meminta izin dari Fabian karena dalam keadaan mendesak. "Semoga kakakmu baik-baik saja," ucap Ibunda Lidia sambil memeluk Diva.
"Kita berdoa sama-sama, Ma." Diva membalas pelukan ibunya agar dia lebih tenang.
Keesokan harinya, Fabian bangun di tempat yang tak semestinya. Kepalanya masih sedikit pusing. Sesaat kemudian dia mulai menguasai diri. Dia melihat ke badannya sendiri ternyata dia tidak memakai sehelai benang pun. Tak lama kemudian, keluar seorang wanita yang tidak dia kenali. Wanita itu hanya mengenakan handuk yang dililitkan ke badannya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Erika.
"Siapa kamu?" tanya Fabian.
"Kamu tidak ingat? Semalam kita menghabiskan waktu yang panjang dengan kenikmatan," jawab Erika.
"Bohong! Kamu pasti menggodaku?" tuduh Fabian.
Erika tersenyum sinis. "Aku merekam semua yang kita lakukan di sini." Erika menunjukkan video yang ada di handphonenya. Fabian melotot tak percaya. Dia menjambak rambutnya sendiri karena kesal.
"Aku bukan wanita seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya ingin kamu bertanggung jawab setelah merebut kesucianku." Lagi-lagi Erika berbohong.
Fabian tak menghiraukan ucapan Erika. Dia bangun dengan melilitkan selimut di tubuhnya lalu Fabian bergegas mandi. Dia ingat Lidia masih terbaring di rumah sakit.
Selesai mandi, Fabian mencari bajunya. Erika memberikan baju baru untuk Fabian. "Pakailah baju ini. Bajumu sudah sobek karena tragedi semalam," ucap Erika sambil tersenyum.
Tapi menurut Fabian itu tidak terdengar lucu. Dia terpaksa menerima baju yang diberikan oleh Erika. Setelah itu dia pergi begitu saja. Sayangnya Erika yang licik telah menukar handphone miliknya dengan milik Fabian.
"Aku akan datang untuk mengambil handphoneku," gumam Erika sambil menatap punggung Fabian yang semakin menjauh.
Laki-laki itu pergi ke rumah sakit dengan menggunakan taksi. Dia lupa menaruh mobilnya. Kemungkinan masih tertinggal di bar. Tak butuh waktu lama Fabian tiba di rumah sakit tempat istrinya dirawat.
Ketika Fabian akan masuk, ibu mertuanya melarang. "Dari mana saja kamu jam segini bari kelihatan?" tanya Ibunda Lidia. Dia tentu saja marah ketika anaknya tidak dipedulikan oleh suaminya itu.
__ADS_1
"Ma, aku ingin menemui istriku," kata Fabian setengah memohon.
"Lidia sedang beristirahat sebaiknya kamu jangan mengganggunya," ucap ibu mertuanya dengan ketus.
"Aku mohon, Ma. Maafkan aku karena semalam aku ketiduran."
"Mama jadi tahu bagaimana perasaan Jingga saat kamu mengabaikannya. Walau mama bukan ibu kandung Jingga, mama merasa sakit hati ketika kamu mencampakkan gadis malang itu."
Fabian tidak bisa bersabar lagi. "Mama menyalahkan aku? Padahal aku mengutamakan Lidia dibanding Jingga. Aku setia padanya walau dia menyuruhku menikahi Jingga. Ini balasan mama atas kebaikan menantumu ini?" tanya Fabian dengan nada yang meninggi.
"Cukup, Kak. Masuklah ke dalam!" Diva melerai pertengkaran antara ibu dan kakak iparnya.
Diva memeluk ibunya supaya berhenti bersedih. "Mama menyesal telah merelakan Lidia untuk laki-laki macam dia," ucap Ibunda Diva di sela-sela tangisannya.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, Ma. Kita tidak berhak ikut campur." Diva mengajak ibunya pulang ke rumah setelah semalaman menunggui Lidia.
"Sayang, maafkan aku." Fabian meraih tangan Lidia lalu menciumnya agar mendapatkan maaf. Lidia menepis tangan suaminya.
"Ke mana saja kamu kemaren, Mas? Apa kamu mabuk-mabukan lagi?" tebak Lidia yang mengingat kebiasaan suaminya dulu.
"Tidak," jawab Fabian berbohong. "Aku semalaman ketiduran. Bagaimana keadaan kamu?" tanya Fabian dengan lembut. Dia mengusap kepala istrinya agar lebih tenang.
Lidia meneteskan air mata. "Kita kehilangan anak kita, Mas. Aku kehilangan dia."
"Tenanglah sayang. Kita bisa buat lagi."
"Belum tentu langsung jadi, Mas. Kamu lupa selama hampir delapan tahu aku baru dikasih kesempatan untuk hamil. Tapi sekarang aku malah kehilangan calon anakku."
Hati Fabian merasa pilu melihat air mata yang terus menetes dari mata istrinya. "Jangan bersedih Jingga."
Lidia terkejut ketika suaminya salah menyebut nama.
__ADS_1