
"Maafkan aku Jingga, aku mengajak Lidia tanpa meminta izin terlebih dahulu padamu," ucap Fabian yang merasa tidak enak.
"Masuk! Violet ada di dalam," ucap Jingga dengan ekspresi nada yang datar.
Fabian dan Lidia memasuki rumah Adli. Saat itu violet sedang bermain di depan ruang televisi. Fabian menghampiri anak kecil itu dan memeluknya. "Papa merindukanmu Violet," ucapnya dengan tulus. Tak lupa Fabian mencium pipi anak itu. Namun Violet menghindar. Dia tidak ingat siapa Fabian karena saat terakhir kali mereka bertemu Violet masih belum mengerti.
Fabian merasa sedih ketika sang anak menolak kedatangannya. "Bersabarlah sedikit mungkin dia lupa dengan wajahmu," kata Jingga.
"Bagaimana kalau aku yang gendong?" Lidia berinisiatif untuk mencoba merebut hati Violet. Namun sayangnya anak kecil itu malah menangis ketika Lidia mendekat.
"Jingga bagaimana ini dia tidak mau kami ajak main?" Tanya Lidia meminta pendapat Jingga. Jingga menggedikkan bahu.
"Aku juga tidak tahu bagaimana caranya mendekatkan anak itu pada kalian karena aku sendiri merasa keberatan kalau kalian terlalu dekat dengan anakku."
"Jingga apa yang masuk perkataan kamu itu?" tanya Lidia rupanya Jingga sungguh tidak menyukai kedatangannya.
__ADS_1
"Mungkin ini yang dinamakan trauma aku takut kalian mengambil violet dariku," sindir Jingga.
Lidia mengepalkan tangan dia merasa tidak terima Jingga terang-terangan menolaknya. "Baik aku rasa kedatangan Aku di sini memang tidak diterima kalau begitu aku pergi," kata Lidia.
Namun Fabian masih mematung di tempat. Lidia pun menoleh. "Mas tunggu apa lagi? Ayo kita pergi sekarang!" perintah Lidia pada suaminya.
"Tidak, kamu pergilah duluan aku masih ingin berusaha merebut hati violet lagi pula aku tidak memaksa kamu datang ke sini Jadi sekarang terserah kamu kalau kamu mau pergi."
Lidia tidak percaya sang suami juga mengusirnya secara terang-terangan. Daripada membuat keributan wanita itu memilih untuk pergi. Dia memesan taksi kemudian dia pergi menjauh dari rumah Jingga.
Jingga berpikir sejenak. "Baiklah aku akan berikan kesempatan kepadamu. Tapi jika dia tidak mau Mas Fabian tidak boleh memaksa Violet."
"Baiklah aku setuju. Sekarang bolehkah kamu tinggalkan kami berdua saja. Aku hanya ingin menemani dia bermain dan mengobrol."
"Aku berada di belakang jika butuh sesuatu panggil saja aku," ucap Jingga sebelum pergi meninggalkan anak dengan mantan suaminya.
__ADS_1
Fabian memberikan mainan yang dia beli kepada violet awalnya violet tidak tertarik namun ketika Fabian mencoba lama-kelamaan violet penasaran dan mau bermain dengannya. "Vio jangan takut lagi ya dengan Papa. Papa sangat menyayangi kamu," ucap Fabian dengan mata berkaca-kaca.
Setelah satu jam Jingga melihat interaksi Fabian dengan anaknya. Dia melihat keduanya dari kejauhan. Tiba-tiba Jingga merasa sedih karena violet harus tinggal terpisah dengan ayah kandungnya. Kemudian Jingga teringat pada suaminya yang sekarang. "Aku tidak boleh sedih, Mas Adli juga merupakan suami yang sangat baik. Violet tidak akan kekurangan kasih sayang dari seorang ayah," gumam Jingga menatap anaknya yang baru belajar jalan itu.
Jingga membawakan minuman dan camilan untuk Fabian. "Maaf aku tadi lupa mengambil minuman untukmu," ucap Jingga merasa tidak enak pada mantan suaminya itu.
Fabian tersenyum ke arah Jingga. Jingga mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau terbuai dengan wajah tampan mantan suaminya itu. Akan tetapi ketika dia ingin pergi Fabian menarik salah satu tangan Jingga. "Bisakah kamu temani aku di sini sebentar saja?" Mohon Fabian.
Jingga perasaan aku tapi laki-laki dia tidak mau menyakiti Adli ataupun mengkhianati suaminya yang sekarang. "Sebaiknya kamu jaga sikap Mas. Ingat kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku juga sudah memiliki suami jadi aku rasa tidak perlu sampai berpegangan tangan seperti ini." Jingga memberikan peringatan pada mantan suaminya itu.
Fabian pun melepas tangan o, pol l. Hatinya sedikit terluka mendapat penolakan dari wanita yang masih menempati hatinya itu.
Setelah cukup lama Fabian menemani Violet, dia sadar diri untuk pulang tanpa Jingga suruh. "Aku pamit. Aku berharap kedatanganku lain kali akan lebih disambut oleh siapa pun," tutur Fabian. Jingga hanya diam.
Setelah kepergian Fabian, Pak Harsha mendekat. "Sepertinya dia masih mengharap kamu kembali ke sisinya," gumam ayah Jingga.
__ADS_1
"Sampai kapanpun aku tidak akan kembali ke sisinya, Yah. Bagiku dia hanya masa lalu yang buruk dan tidak pernah meninggalkan kesan manis. Jadi sia-sia jika mempertahankan sesuatu yang tidak sesuai harapan," balas Jingga.