
Dengan segala bujuk rayu akhirnya Violet mau diajak pulang bareng Danzel. Awalnya Vio menolak karena dia merasa canggung dengan adik kandung Justin itu. Setelah putus dari kakaknya, Vio tidak mau dianggap sedang mendekati adiknya.
"Jadi apa yang membuat kamu putus dengan Justin?" tanya Danzel.
"Dari awal aku hanya berniat memanfaatkan dia," jawab Violet.
"Maksudnya?" Danzel penasaran dengan jawaban Violet.
"Ah sudahlah, untuk apa aku cerita panjang lebar padamu. Lagi pula kita tidak ada hubungan apa-apa."
Tiba-tiba Danzel mengerem mendadak. "Kamu apaan sih?" protes Violet ketika dahinya terbentur dasboard.
"Sorry. Kamu bilang kamu tidak mau bercerita padaku karena kita tidak ada hubungan apa-apa?" Violet mengangguk.
"Ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Violet. Dia malah bingung.
"Ya sudah."
Vio mengerutkan kening. "Ya sudah apa?" tanya Violet.
__ADS_1
"Ya sudah kita jadian," jawab Danzel.
Violet terkejut. "Dasar sinting!" umpat Violet. Setelah itu dia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Danzel. Danzel tidak tinggal diam. Dia pun turun dan mengikuti langkah Violet.
"Vio, ayolah!" bujuk Danzel. Violet tak mengindahkan ucapan Danzel. Dia terus berjalan sampai dia tak sengaja melihat seseorang yang paling dia takuti selama ini.
"Mami Karla," gumam Vio. Dia pun bersembunyi di balik dada Danzel. Danzel terkejut kenapa gadis itu tiba-tiba memeluknya. Danzel pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia membalas pelukan Violet. Violet jadi terlontar kaget. Namun, dia biarkan laki-laki di hadapannya itu memeluknya hingga Mami Karla pergi.
Setelah Vio melihat kepergian Mami Karla dari sana, Violet berontak. "Ihk, apaan sih peluk-peluk?" Vio mengusap seluruh badannya seolah-olah ketempelan kotoran.
"Eh, situ pikun ya. Yang meluk duluan siapa?" tanya balik Danzel.
"Kamu cari siapa?" tanya Vio.
"Emangnya tadi ada Justin sampai kamu bersembunyi di pelukanku?" Danzel sengaja menekankan kata pelukan. Vio jadi merasa malu.
"Kamu lihat pohon sekitar sini?" tanya Vio. Danzel menggeleng.
"Apa hubungannya?" tanya Danzel.
__ADS_1
"Ya ada. Kalau aja ada pohon aku nggak akan bersembunyi di balik dadamu yang...yang..." Violet mendadak gugup ketika dia menatap dada bidang Danzel. Sangat se*ksi pikirnya.
'Nggak Vio. Kamu apaan sih bisa-bisanya tergoda pada adik mantan tunanganmu,' gumam Vio dalam hati. Vio menggeleng cepat untuk mengusir pikiran kotornya.
Danzel tersenyum tipis ketika melihat tingkah Vio yang dianggap menggemaskan itu. Danzel tak mau menunggu lama dia menarik tangan Vio saat gadis itu lengah. Lalu dia memegang bagian pinggangnya. Danzel mengikis jarak di antara mereka.
"Apa dadaku begitu menggoda?" goda Danzel. Violet membulatkan mata mendengar bualan akan laki-laki itu. Dia ingin melepaskan diri tapi tenaga Danzel sangat kuat.
"Jadilah pacarku!" Vio sangat terkejut Danzel mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan.
"Jangan mimpi!"
Danzel lalu mendekatkan wajahnya tapi Violet berhasil menghalangi bibir Danzel sebelum laki-laki itu menciumnya dengan meletakkan telapak tangannya di bibirnya sendiri.
Namun, tanpa diduga Violet melihat mobil Justin yang semakin mendekat. Tanpa pikir panjang Vio melepas penghalang bibirnya dengan bibir Danzel. Dia pun terpaksa mencium laki-laki itu agar Justin cemburu.
Justin tentu saja melihat tua dengan jelas. Apalagi dia di posisi bagian depan mobil karena dia sedang menyetir tanpa bantuan sopir. Justin mencengkeram kemudi kuat-kuat ketika dia melihat adegan itu.
Hatinya sungguh terluka. Baru saja dia putus, kekasihnya itu sudah main serong dengan adik kandungnya sendiri. Justin pun mengira kalau Danzel adalah penyebab putusnya hubungan dia dan Violet.
__ADS_1