Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Minta izin


__ADS_3

"Kak Adli," panggil seseorang ketika Adli sedang mengadakan pameran di sebuah mall. Adli menoleh ketika mendengar panggilan seseorang.


'Gadis ini, kapan dia kembali?' gumam Adli dalam hati.


"Meisya, apa kabar? Kapan kamu kembali dari Malaysia?" tanya Adli berbasa-basi. Sebenarnya dia enggan sekali menyapa adik temannya itu.


Meisya Nugraha adalah adik dari sahabat Adli yang bernama Leo. Mereka teman satu kampus. Tapi beberapa tahun yang lalu keluarga Kevin pindah ke negeri seberang.


"Apa kabar, Adli?" tanya Leo.


"Baik. Aku tidak menyangka kamu akan pulang ke Indonesia," kata Adli.


"Kamu di sini sedang apa?" tanya Leo


"Aku cuma mengecek pameran yang diadakan di sini," jawab Adli.


"Kak Adli aku sangat merindukanmu," ucap Meisya secara frontal. Adli sangat terkejut mendengar ucapan gadis itu. Dia bahkan memeluk lengan Adli. Adli sontak menepis tangan Meisya.


"Kamu masih saja malu-malu," ledek Leo.


"Leo, Meisya maaf aku masih harus bekerja. Kita ngobrol lain kali." Adli menghindar. Berurusan dengan Meisya tidak akan ada habisnya. Kalau Jingga tahu pasti akan cemburu.


"Kak Adli sudah berubah," ucap Meisya kesal. Lain kali kita datangi rumahnya kalau kamu mau," ucap Leo. Meisya mengangguk setuju.


Adli pulang ke rumah setelah seharian bekerja. "Mas, kamu baru sampai?" tanya Jingga. Adli langsung mencium kening istrinya.


"Aku merindukanmu." Ucapan Adli membuat wajah Jingga merona.


"Apa papa tidak merindukan Violet?" tanya Jingga yang menirukan suara anak kecil.


"Tentu saja, tapi aku cuci tangan dulu ya sayang. Tangan papa kotor jadi takut Vio sakit nanti."


"Mas, mau aku buatkan kopi?" tanya Jingga.

__ADS_1


"Boleh pakai susu ya," ucap Adli. Setelah itu dia membersihkan diri.


Jingga meletakkan Vio di dalam box bayi. Setelah itu dia keluar sebentar untuk membuatkan suaminya kopi susu sesuai pesanannya. Ketika dia selesai membuat kopi Jingga terkejut sewaktu melihat anaknya memanjat box bayi itu.


"Vio." Adli yang mendengar teriakan Jingga jadi kaget dan segera keluar dari kamar mandi.


"Ada apa sayang?" tanya Adli.


"Vio manjat box bayi. Aku jadi menjatuhkan cangkir kopinya, Mas."


"Sebaiknya dia tidak jauh dari pengawasan kita. Dia sudah mulai pandai merangkak dan memanjat. Sebentar lagi kamu akan bisa berjalan." Adli menciumi perut Violet hingga dirinya kegelian.


"Aku tidak akan mengulanginya, Mas," ucap Jingga.


"Sayang, Ulang tahun Vio yang pertama mau dirayakan di mana?" tanya Adli.


"Kita undang keluarga saja lalu kita rayakan bersama anak yatim," usul Jingga.


"Aku setuju. Dia belum mengerti ulang tahun. Kita hanya ingin mengucap syukur saja. Jadi idemu itu bagus juga. Vio apa yang kamu inginkan saat ulang tahun nanti?" tanya Adli.


Jingga jadi merasa bersalah. Hingga beberapa bulan mereka menikah keduanya belum juga dikaruniai seorang anak. "Maafkan aku, Mas," ucap Jingga dengan wajah sendu.


"Tidak apa-apa sayang. Bukan salahmu. Kita belum diberi kepercayaan sama Allah untuk memiliki momongan. Lagi pula Violet masih kecil jadi tunggu sampai dia besar," ucap Adli. Meski ada rasa sesak karena dia belum mempunyai anak kandung, tapi dia beruntung memiliki Violet, anak Jingga dengan mantan suaminya.


Ngomong-ngomong dengan mantan suami, Fabian saat ini sedang galau karena beberapa bulan tidak bertemu dengan Violet. Fabian pun berinisiatif menghubungi Jingga. Sayangnya ketika dia menelepon ke handphone mantan istrinya itu, yang menjawab justru Adli.


"Ada apa menelepon malam-malam?" tanya Adli dengan ketus.


"Aku ingin bertemu dengan anakku. Tidakkah kalian mengizinkan aku bersamanya walau sebentar?" tanya Fabian meminta izin.


"Baiklah, datang kemari besok pagi. Tapi jangan lama-lama. Aku tidak mengizinkan kamu mendekati istriku." Adli bersikap tegas.


Fabian tersenyum senang. Dia pun mampir ke toko mainan untuk memborong mainan lagi. Sepulang kerja dia langsung masuk ke kamar. "Mas kamu bawa pesanan aku bukan?" tanya Lidia.

__ADS_1


"Ada di mobil. Ambil sendiri!" jawab Fabian cuek. Lidia pun membuka mobil Fabian. Betapa terkejutnya dia ketika suaminya lagi-lagi memborong mainan anak.


"Kenapa dia seboros itu. Menghabiskan uang hanya untuk menyenangkan anak kecil. Sungguh tidak bisa dimengerti," gumam Lidia.


Setelah mengambil kue yang ada di mobil, Lidia menyimpannya di dalam kulkas. Tapi dia mengambil sedikit untuk Fabian. "Mas makan camilan ini. Rasanya sangat manis kamu pasti suka."


Fabian mendorong piring kecil itu. "Singkirkan! Aku sudah kenyang," tolak Fabian.


"Mas apa kamu akan menemui anakmu? Apa aku boleh ikut? Aku juga ingin melihat wajahnya." Fabian melirik. Tidak biasanya Lidia berinisiatif untuk ikut dengannya.


"Baiklah, ikut saja besok pagi. Tapi jangan membuat masalah." Fabian memberikan peringatan.


"Iya aku janji."


Keesokan harinya, Lidia tengah bersiap-siap untuk pergi bersama suaminya. "Aku tunggu di mobil," ucap Fabian dengan nafa dingin. Semenjak dia mengetahui kelicikan Lidia Fabian tak lagi respek pada istrinya itu. Dia bertahan karena keinginan ibu mertuanya yang sakit-sakitan. Fabian tidak tega menyakiti orang yang sudah baik padanya. Ya, semenjak menikahi Lidia, Fabian akrab dengan ibunda Lidia. Itu karena Wanda tidak bisa memberikan kasih sayang seorang ibu padanya.


Tin tin


Fabian mengklakson mobilnya agar Lidia segera bergegas. Lidia pun berjalan setengah berlari menuju ke garasi. "Kamu dandan menor begitu memang mau kondangan ke mana?" ledek Fabian pada istrinya.


"Apa make up ku terlalu tebal? Kalau begitu akan aku hapus." Saat Lidia akan beranjak Fabian pun merasa kesal.


"Duduk! Atau aku tinggal?" Fabian memberikan pilihan. Lidia tidak habis pikir kapan suaminya itu akan memaafkan dirinya.


"Mas apa hubungan kita akan terus dingin seperti ini? Apa kamu tidak merindukan kehangatan dan kebersamaan kita seperti dulu?" Lidia memberanikan diri mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini.


"Kamu pikir sikapku begini karena siapa? Aku bahkan tidak bisa menghukummu karena aku telah berjanji pada ibumu untuk selalu menjagamu. Apa menurutmu ini adil?"


Lidia tidak menyangka kalau selama ini suaminya menahan diri. 'Apa dia benar-benar menderita setelah bercerai dengan Jingga? Apa begitu dalam perasaan kamu setelah kehilangan Mas? Lalu apa dia masih mencintaiku seperti dulu? Ah kenapa aku tiba-tiba ragu. Sebesar itukah kesalahan yang telah aku perbuat?'


Lidia merasa bersalah dalam hatinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Apa yang dia tanam akan dia tuai. Keserakahan Lidia yang berniat merebut anak dari wanita lain berujung dirinya yang dicampakkan suami.


Tiga puluh menit menempuh perjalanan ke rumah Jingga, akhirnya bisa sampai di depan rumahnya. Jingga yang tengah menyiram bunga terkejut ketika Fabian datang bersama Lidia. "Untuk apa kamu membawa serta dia?" Jingga seolah tidak terima dengan kedatangan Lidia.

__ADS_1


Lalu apa yang terjadi selanjutnya?


__ADS_2