Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Putus


__ADS_3

Sonya yang baru pertama kali merasakan dicumbu mendadak pingsan karena tidak bisa menaham rasa sakti di bagian pangkal pahanya. Tapi Justin tidak mau tahu. Dia sudah bayar jadi itu bukan urusannya lagi.


Usai melepaskan hasratnya, Justin kembali ke rumah. Dia merasa rindu pada putrinya. "Papa," teriak anak kecil itu sambil berlari ke pelukan sang ayah. Justin menyambut pelukan hangat Sabrina.


"Tadi mama datang ke sini untuk memberiku kue," lapor Sabrina. Justin mengerutkan kening.


"Apa mama bersama Om Danzel?" tanya Justin. Sabrina menggeleng.


"Dia datang sendiri. Lumayan lama, tapi papa tidak kunjung pulang," ucap Sabrina dengan wajah sendu. Justin meraih dagu Sabrina.


"Kamu kenapa?" tanya Justin.


"Pa, kapan kita tidur bertiga sama mama? Aku pengen kaya teman-temanku. Mereka bahagia karena mama papanya mendampingi," rengek Sabrina.


"Bersabarlah, Sayang. Keinginan kamu akan segera terpenuhi," ucap Justin berjanji pada putrinya itu. Setelah itu dia menyuruh Sabrina naik ke lantai atas.


Sesaat kemudian Justin mendapatkan pesan singkat dari Rian. Rian ditugaskan untuk mencari tahu tentang kejadian saat Violet jatuh ke kolam renang waktu itu. Rupanya dalang dibalik jatuhnya Vio adalah Albiru, adiknya Vio sendiri.


Justin pun menemui Albiru di sekolahnya. "Ada apa?" tanya Biru.


"Jadi kamu yang menyuruh orang untuk mendorong Violet hingga terjatuh ke dalam kolam?" tanya Justin.


Albiru tersenyum smirk. "Punya bukti?" tanya Biru. Justin menunjukkan bukti yang ada di dalam ponselnya. Biru tidak bisa lagi berkutik.


"Apa alasanmu mencelakai Violet?" tanya Justin.


"Aku hanya tidak suka ada orang baru yang masuk ke keluarga kami."


"Alasan yang tidak masuk akal," sanggah Justin. "Minta maaflah pada kakakmu!" perintah Justin pada Biru.


"Jangan mimpi!" Albiru berjalan melewati Justin begitu saja. Namun, Justin yang tak terima langsung memukul Albiru. Pemuda itu tumbang dalam sekali pukulan.

__ADS_1


Di saat yang sama Cyan langsung mendekat ketika melihat saudara kembarnya dipukul oleh calon kakak iparnya itu. "Mas, ada apa ini?" tanya Cyan.


"Tanya sendiri pada saudaramu itu!" Justin meninggalkan dua anak kembar itu lalu memasuki mobilnya. Cyan membantu Biru bangun. Wajahnya luka dan memar karena Justin memukul dengan keras.


Setelah itu, Cyan membawa Biru pulang ke rumah. Setibanya di rumah Jingga terkejut karena wajah anaknya memar. "Siapa yang melakukan ini?" tanya Jingga.


"Calon suaminya," jawab Albiru sambil menunjuk ke arah Vio.


"Apa? Kenapa Mas Justin melakukan itu? Tidak mungkin dia memukul tanpa alasan," sangkal Violet.


"Memangnya aku ada tampang kriminal," jawab Albiru nyolot. Dia membuang tasnya lalu masuk ke dalam kamar.


Suara pintu kamar yang ditutup dengan keras membuat semua orang terlonjak kaget. "Cyan, sebenarnya apa yang membuat Justin memukul Biru?" tanya Jingga pada putra bungsunya itu. Cyan mengangkat bahu.


"Saat aku tiba di sana, dia sudah terkapar di lantai," jawab Cyan.


Violet tidak bisa tinggal diam. Dia tidak terima saat anggota keluarganya dilukai. Violet pun meminta bertemu Justin di suatu tempat.


"Sayang." Saat Justin akan mencium pipi Vio dia mundur. Justin mengerutkan kening.


"Kenapa Mas Justin memukul Biru?" tanya Violet. Justin menghela nafas.


"Kamu ingat kejadian saat kamu tercebur ke kolam renang? Dialah yang merencanakan semuanya," jawab Justin. Dia juga memperlihatkan video rekaman saat Biru memberikan bayaran pada orang suruhannya.


"Aap Mas yakin dia yang melakukannya? Tapi kenapa?" Violet agak syok dengan informasi yang dia dapat.


"Dia tidak menyukai keberadaan mu di rumah itu. Vio kapan kita bisa menikah dan tinggal bersama?" tanya Justin.


"Mas, ini bukan saatnya membicarakan itu."


Justin memutar bola matanya malas. "Kenapa kamu sering menolakku akhir-akhir ini? Apa karena kamu dekat dengan Danzel?" tuduh Justin. Violet tidak percaya Justin setega itu menuduhnya.

__ADS_1


"Jangan menuduh sembarangan, Mas. Aku dan dia hanya membicarakan soal restoran yang ingin aku bangun."


"Kamu tidak pernah tersenyum padaku, tapi dengan Danzel kalian bisa tertawa bersama."


"Terserah kamu ingin berpikir seperti apa. Namun, dari awal aku juga tidak sungguh-sungguh menikahimu. Maaf selama ini aku memanfaatkan dirimu untuk mencari keberadaaan orang tuaku." Justin mengepalkan tangan tak terima dengan pengakuan Violet.


"Lantas apa mau mau sekarang?" tanya Justin dengan nada dingin.


"Sebaiknya kita putus. Mas Justin juga ingin menikah aku karena Sabrina bukan karena tulus mencintaiku. Aku pun demikian memiliki maksud tertentu pada hubungan kita. Jadi, sebaiknya kita jalani hidup sendiri-sendiri saja."


"Lalu bagaimana nasib Sabrina? Tega kamu menyakiti dia?"


Violet menghela nafas. "Mas Justin harus menjelaskan padanya kalau kita putus. Carilah wanita lain yang lebih baik dari pada aku. Aku ini cuma wanita biasa yang memiliki masa lalu kelam. Terima kasih telah banyak berjasa dalam hidupku. Aku tidak akan melupakannya."


Justin tersenyum smirk. "Hanya ucapan terima kasih? Kamu tidak ingat bagaimana aku mempertaruhkan nyawa saat kamu disekap? Di dunia ini tidak ada yabg gratis nona." Justin mendekat ke atau Violet. "Kalau kamu tidak bisa membayar dengan hal yang sama setidaknya berikan apa yang paling berharga darimu."


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Justin. "Mas Justin sungguh keterlaluan. Aku memang bukan wanita yang istimewa tapi aku punya harga diri." Vio menyambar tasnya yang ada di meja kemudian dia meninggalkan Justin.


Justin terduduk setelah membuat Violet marah. "Begini lebih baik," gumam Justin, meski mulut tak selaras dengan hatinya.


Sementara itu, Violet berjalan seorang diri sambil menangis di pinggir jalan. Padahal dia sudah menaruh hati pada Justin tapi laki-laki itu memberlakukannya seperti wanita murahan. "Dasar laki-laki bareng*sek! Aku benci sama Kamu. Aku benci," teriak Violet.


Violet yang kesal mampir ke sebuah mini market untuk membeli es krim. Dia membeli satu kotak es krim berukuran besar. Violet makan es krim sambil sendirian di depan mini market tersebut. Dia tidak peduli orang lain yang lalu lalang di sekitarnya. Yang dia inginkan saat ini emosinya mereda.


Dari kejauhan Danzel melihat Violet duduk seorang diri di depan mini market. "Apa yang dia lakukan di sana?" gumam Danzel.


Danzel yang sedang mengendarai mobil pun menepikan mobilnya di depan mini market tesebut. Violet masih makan es krim sambil melamun. Tiba-tiba seseorang mengulurkan sapu tangan di depan wajahnya. Vio pun mendongak. Dia tidak menyadari saat Danzel turun dari mobil dan mendekatinya.


"Butuh teman?" tanya Danzel. Vio hanya diam. Namun, Danzel mendudukkan pantatnya di kursi sebelah Violet. "Kamu ngapain duduk sendirian di sini?" tanya Danzel.

__ADS_1


"Ngitung mobil yang lewat," jawab Violet asal. Tiba-tiba tangan Danzel terulur untuk mengusap bibir Violet yang berantakan. Jantung Vio berdegup kencang mendapat perlakuan manis dari mantan calon adik iparnya itu.


"Bicaralah padaku jika ada masalah!" Vio tertegun dengan ucapan Danzel. Bahkan Justin tidak pernah memperlakukannya semanis ini.


__ADS_2