Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Rindu yang tak terbendung


__ADS_3

Karin mengajak Lidia bertemu. "Aku ingin meminta bantuan darimu. Apa ada lowongan pekerjaan di perusahaan tempat kamu bekerja?" tanya Karin. Dia tidak mungkin luntang-lantung tidak jelas. Terlebih dia juga tidak bisa mengandalkan Edward terus menerus. Karin tahu kalau Edward tidak setia.


"Pekerjaan? Bukankah suamimu kaya? Oh ya, bagaimana dengan anakmu? Siapa yang akan mengurus bayi sekecil itu kalau bukan kamu sebagai ibunya?" cecar Lidia.


"Ck, lupakan mereka. Katakan! Apa yang bisa aku lakukan? Agar aku bisa mendapatkan jabatan yang penting di perusahaan tempat kamu bekerja."


Karin mengernyit. "Kamu mau pakai cara kotor?" tanya Lidia.


"Zaman sekarang kalau lurus-lurus aja nggak akan sukses," ucap Karin.


"Aku tidak tahu, nanti aku akan cari informasi. Kalau ada lowongan pekerjaan di perusahaan aku akan aku kabari kamu secepatnya," jawab Lidia.


"Baiklah. Aku tunggu kabar dari kamu."


Tak lama kemudian Edward menyusul. "Hai, Ed," sapa Karin. Mereka saling mencium pipi di depan Lidia. Lidia sangat terkejut. Setahunya suami Karin bukanlah Edward. Karin memang tidak akrab dengan Edward, tapi dia tahu kalau Edward adalah sepupu Axel sekaligus pebinor dalam pernikahan Erik dan Wanda.


Ribet thor... Baca dari awal!


"Rin, elo sadar nggak ini tempat umum," tegur Lidia.


"Memangnya kenapa aku berciuman dengan pacarku ini di tempat umum? Aku sudah bercerai dengan suamiku," ungkap Karin. Lidia tidak menyangka nasibnya tak beda jauh dengan Karin. Sebentar lagi status Lidia juga janda.


Parahnya apa yang dilakukan Lidia juga tidak jauh berbeda dengan Karin. Memiliki pacar apalagi dia adalah adik iparnya sendiri membuat Lidia merasa bersalah pada Diva.


Lidia tidak tahu kalau suaminya sedang mencari Karin sebagai pelaku yang menganiaya Jingga. Fabian dan Adli juga curiga kecelakaan yang menimpa Wanda dan Violet adalah rekayasa Karin.


"Lidia, kami pamit dulu." Lidia tidak menanggapi. Dia menatap kepergian Karin dan Edward yang saling berpegangan tangan.


Tak lama kemudian Lidia mendapat pesan singkat dari Andre. Laki-laki itu menanyakan di mana dia berada. Lidia tidak menjawab. Dia hanya membaca pesan dari Andre.

__ADS_1


Ketika Lidia berada di kasir, dia tak sengaja berpapasan dengan Jingga dan Adli. Mereka datang berdua saja tidak mengajak anak-anak. Jingga sama sekali tidak mengindahkan Lidia. Bagi dia hubungannya dengan Lidia tidak ada artinya saat ini. Walau mereka sepupu, tapi kejadian masa lalu membuat Jingga rela memutus hubungan dengan Lidia.


Lidia pun demikian. Dia merutuki kebodohannya dulu saat menjodohkan suaminya dengan Jingga. Sejak saat itu hidupnya malah berantakan. Lidia pergi usai membayar di kasir.


"Kamu tidak menyapa sepupumu?" tegur Adli.


"Tidak, Mas. Lagi pula aku tidak akrab dengannya," jawab Jingga.


"Lupakan masa lalu! Jika kalian masih ada hubungan kekerabatan kenapa tidak coba mengikhlaskan semua yang terjadi?"


Jingga tersenyum sinis. "Bicara itu lebih mudah dari pada melakukannya." Adli menghela nafas. Mendengar ucapan Jingga, Adli dapat menyimpulkan kalau dia masih menyimpan dendam dengan istri pertama mantan suaminya itu.


Setelah itu mereka memesan makanan. Hari ini Adli sengaja meluangkan waktu untuk makan berdua dengan Jingga. Dia tahu kalau istrinya itu belum sembuh dari rasa sedihnya kehilangan Violet.


"Seharusnya besok ulang tahun Violet yang ke lima. Sudah beberapa bulan kita mencarinya tapi mayatnya saja tidak ditemukan." Mata Jingga mulai berkaca-kaca.


"Sayang, jangan bicara seperti itu. Doakan dia selalu bahagia dalam keadaan apapun." Adli tidak mau menyebut kata 'mati' untuk Violet. Dia yakin anak sambungnya itu masih hidup.


Keesokan harinya, Adli memenuhi janjinya mengantarkan Jingga ke lokasi kejadian kecelakaan yang menimpa Violet. "Vio, mama datang, Nak. Apakah kamu dengar suara mama? Mama rindu sekali dengan kamu. Papamu juga, semua orang merindukan kamu, Vio. Tolong kembalilah pada mama." Jingga menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya melorot ke tanah.


Adli dapat merasakan dalamnya rasa kehilangan yang dialami oleh istrinya. "Jingga, bangun, Sayang! Jangan seperti ini! Violet akan sedih jika dia melihat kamu menangis." Adli mencoba memberikan pengertian pada istrinya.


"Walau sudah lama aku tidak bisa melupakan anakku, Mas. Di mana dia? Aku mohon temukan Violet. Aku sangat merindukannya."


"Iya, Sayang. Aku pasti akan menemukan dia," jawab Adli. Tak lama kemudian Jingga lemas dan pingsan. Adli segera menggendong tubuh istrinya itu.


Dia memasukkan Jingga ke dalam mobilnya. Kemudian dia membawa Jingga pulang. Sesampainya di rumah, Adli meletakkan Jingga di atas ranjangnya. Wajah Jingga terlihat pucat. Adli pun menempelkan telapak tangannya ke kening Jingga. "Dia demam," gumam Adli.


Tak berpikir panjang, laki-laki yang telah memiliki anak kembar itu memanggil dokter untuk memeriksa Jingga. Dia pun meminta bantuan Erik. Adli dan Erik sudah cukup akrab. Jadi dia tidak segan meminta bantuan mantan mertua Jingga itu.

__ADS_1


"Tidak ada yang serius. Ini efek banyak pikiran. Usahakan selalu menjaga suasana hatinya. Aku paham kalau Jingga kehilangan Violet. Kami pun sama. Namun, kalau dia seperti ini terus menerus, kesehatannya akan terganggu," terang Erik.


"Aku mengerti, Paman. Terima kasih banyak sudah mau kurepotkan." Erik mengangguk.


"Aku tidak keberatan sama sekali. Kalau begitu aku langsung pamit," ucap Erik. Adli mengantarkan Erik hingga ke depan.


"Ingat pesanku!" Erik menepuk bahu Adli dua kali kemudian memasuki mobilnya.


Sesaat kemudian salah satu dari bayi kembar Jingga menangis. "Dia kenapa?" tanya Adli pada suster yang membantu merawat Cyan.


"Sepertinya dia haus," jawab suster itu.


"Buatkan susu!" perintah Adli.


"Dia tidak mau minum susu formula, Pak. Dia hanya minum ASI." Adli menghela nafas berat.


Di saat yang bersamaan Jingga tiba-tiba memasuki kamar. "Biar aku saja yang gendong dia."


"Jingga, kamu masih perlu istirahat. Biarkan aku yang mengurus anak-anak kita."


"Bayi seusianya hanya bisa tertidur jika dekat dengan ibunya. Aku lebih baik menahan sakit dari pada mendengar tangisan anak-anakku," ucap Jingga.


Adli merasa bangga pada Jingga. Dia memang ibu yang sangat peduli dengan anak-anaknya.


Tangan ibu lebih nyaman dari pada kasur empuk. Itulah kenapa anak-anak suka sekali digendong.


Lagi-lagi Jingga ingat saat-saat menggendong Violet ketika seusia adiknya. Adli tidak perlu bertanya kenapa Jingga menangis. Dia sudah bisa menebak kalau dia sedang mengenang masa-masa indah dengan Violet.


'Rindu ini terasa berat. Aku masih menyimpan kenangan bersamamu. Hari-hariku selalu penuh kebahagiaan ketika kulihat tawamu. Vio, sampai kapanpun mama akan mendoakan yang terbaik untukmu,' batin Jingga.

__ADS_1


...***...


Makasih yang udah setia mengikuti. Semoga kalian sehat selalu.


__ADS_2