Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Menjelaskan


__ADS_3

Maaf slow update, masih suasana lebaran jadi sibuk dengan rela life. Makasih buat yang menunggu cerita ini. Semoga rejekinya dilipatgandakan.


Yuk lanjut baca


...😘😘😘...


"Hentikan!" teriak Meisya. "Jangan bertengkar Kak." Dia melerai Adli dan Leo. Leo pun melepas cengkeraman tangannya.


"Dengar Meisya kamu jangan mengaku aku ini pacar kamu karena aku sudah memiliki istri."


Deg


Hati Meisya merasa hancur berkeping-keping. Dia juga malu ketika mengakui laki-laki yang telah beristri sebagai pacarnya. Apalagi dia tidak meminta izin pada Adli terlebih dulu. Rasanya dia ingin bersembunyi di dalam tanah dan mengubur diri saja.


Leo pun terkejut mendengar ucapan Adli. Kalau saja dia tahu dari awal. Maka dia akan mencegah adiknya mengejar laki-laki itu. Leo merasa menyesal karena tidak bertanya pada Adli sebelumnya.


Meisya menangis lalu berlari keluar. Leo pun menyusul adiknya. "Meisya tunggu!" Dia menarik tangan Meisya lalu membawa ke dalam pelukan.


"Aku malu sekali, Kak," ucap Meisya sambil terisak.


"Kamu nggak salah. Kakak yang salah karena tidak bertanya pada Adli lebih dulu."


Sementara Leo menenangkan adiknya, Helmi meminta penjelasan dari Adli. "Jadi apa pembelaan kamu?" tanya Helmi pada Adli yang sedang berdiri.


"Sudah aku bilang aku dan dia tidak punya hubungan khusus, Pa. Dia baru kembali dari luar negeri beberapa waktu lalu. Dia hanya adik temanku. Lagi pula aku sudah punya Jingga, untuk apa aku mencari wanita lain?"


"Mungkin saja kamu bosan pada Jingga," ucap Karin dengan nada nyinyir.


"Tutup mulut kamu! Aku tidak ada urusan dengan kamu," bentak Adli.


"Adli jaga sikap kamu. Bagaimana pun kamu harus menghormati Karin karena dia adalah ibunya Mario, saudara kamu," ucap Helmi tak terima.


"Sebaiknya, papa tidak usah berhubungan dengan ular ini. Dia hanya membuat keluarga kita berantakan."


Brak

__ADS_1


Helmi menggebrak meja dengan keras. "Jangan kurang ajar kamu! Kamu tidak menghormati papa sebagai orang tua kamu, hm?" Adli terdiam.


"Papa ke sini ingin menyampaikan kabar kalau papa akan menikah lagi dengan Karin."


"Pa, sebaiknya papa pikirkan ulang keputusan papa itu." Helmi berjalan melewati Adli. "Aku sudah pikirkan berkali-kali." Adli mengepalkan tangan mendengar jawaban ayahnya.


"Kacau." Adli mengusap wajahnya kasar.


Di tempat lain, Jingga yang tengah menemani Violet bermain mendapatkan pesan dari seseorang. Dia terkejut ketika melihat pesan gambar itu. Di situ terlihat seorang wanita sedang memeluk suaminya dengan erat. "Nggak mungkin, Mas Adli bukan orang seperti ini."


Jingga menyangkal foto yang dia lihat. Jingga tidak mau percaya sebelum mendapatkan konfirmasi dari suaminya. "Jingga, ada apa?" tanya sang ayah.


"Ah tidak ada apa-apa, Yah," jawab Jingga dengan berbohong.


"Kalau ada masalah, kamu bisa bercerita pada ayah. Siapa tahu ayah bisa bantu," ucapnya dengan tulus.


Jingga tersenyum. "Pasti, Yah. Apa ayah sudah makan malam?" tanya Jingga.


"Sudah, lalu kamu sudah makan atau belum?" tanya Pak Harsha balik. Jingga menggeleng.


"Aku menunggu Mas Adli pulang, Yah," jawan Jingga.


"Aku tidak tahu, Yah. Dia tidak mengirimkan pesan padaku. Mungkin memang ada lembur hari ini," jawa Jingga dengan nada terdengar pasrah.


"Jangan pikir yang bukan-bukan. Adli laki-laki yang baik. Dia tidak akan akan berbuat macam-macam di kuar sana. Kamu harus percaya pada suamimu." Pak Harsha seolah tahu apa yang dipikirkan Jingga. Jingga mengangguk paham.


Pada akhirnya Adli baru pulang ketika malam menunjukkan pukul sembilan. Jingga menyambut kepulangan suaminya. "Mas, kenapa baru pulang? Apa hari ini lembur?" tanya Jingga.


"Siapkan air hangat aku ingin mandi," jawab Adli dengan ketus. Dia mengabaikan pertanyaan sang istri. Jingga sedikit kecewa tapi dia tetap menuruti perintah suaminya.


"Mas, airnya sudah siap. Apa Mas Adli sudah makan? Aku siapkan makanan ya?" Jingga hanya ingin melayani suaminya. Adli menggeleng.


"Habis mandi aku ingin langsung tidur. Besok pagi aku harus kembali bekerja. Siapkan saja teh hangat. Akan aku minum setelah mandi."


"Baik, Mas." Jingga pun pergi ke dapur untuk menyiapkan teh hangat untuk suaminya. Jingga melamun saat menuang air panas yang ada di dalam dispenser. Air panas itu terkena tangan dan kakinya. Jingga jadi berteriak. Untung saja Violet tertidur pulas.

__ADS_1


Adli yang mendengar teriakan Jingga langsung menghampiri sang istri. "Kamu kenapa?" tanya Adli. Jingga memperlihatkan tangannya yang memerah.


"Kenapa kamu bisa seceroboh ini?" tanya Adli.


Pak Harsha melihat dari kejauhan. Dia tidak mau ikut campur urusan Adli dan Jingga. Dia percaya kalau anak dan menantunya sudah dewasa jadi tidak perlu lagi bantuannya.


"Aku melamun," jawab Jingga dengan jujur. Adli pin terdiam. Tidak seharusnya dia pulang dengan marah-marah.


"Apa yang kamu lamunkan, hm?" tanya Adli dengan lembut.


"Aku mendapatkan pesan gambar dari nomor yang tidak dikenal. Di gambar itu ada seorang wanita yang sedang memeluk kamu," jawab Jingga dengan terisak.


Adli terkejut mendengar ucapan Jingga. Dia bisa menduga kalau itu adalah perbuatan Karin. Karena tidak mungkin kalau Leo maupun Meisya yang menyebarkan fotonya. Tidak mungkin juga sang ayah karena saat itu dia sedang sibuk memarahi dirinya.


"Kamu jangan percaya pada foto itu. Ayo kita obati tangan dan kakimu dulu." Saat Adli meminta Jingga berjalan, wanita itu agak kesulitan. Adli pun memutuskan untuk menggendong istrinya. Jingga reflek merangkul leher sang suami.


"Berat ya, Mas?" tanya Jingga. Adli tersenyum.


"Tidak apa-apa, aku menyukainya," bisik Adli ke telinga Jingga.


Setelah itu Adli naik ke lantai atas menuju kamarnya. Dia mendudukkan Jingga di tepi ranjang. Kemudian dia mengambil salep untuk mengobati tangan dan kaki Jingga yang hampir melepuh.


"Aw, pelan-pelan, Mas." Jingga mendesis ketika tangannya terasa sakit.


"Maaf." Adli kembali mengoles dengan perlahan.


"Jadi siapa wanita itu?" tanya Jingga yang masih penasaran.


"Namanya Meisya, dia adik temanku yang baru pulang dari luar negeri. Sungguh aku tidak ada hubungan dengan dia. Hanya saja dia yang terlalu genit dan suka mengaku-ngaku kalau dia punya hubungan denganku. Papa juga ada di sana. Tadi siang dia pun salah paham padaku," ungkap Adli menjelaskan panjang lebar.


Jingga merasa lega usai mendengar penjelasan dari suaminya. "Lalu kenapa Mas Adli pulang-pulang cemberut begitu?" tanya Jingga lagi. Bahkan sikap Adli sangat dingin dan cenderung cuek.


"Aku hanya kesal pada papa karena dia ingin menikah lagi dengan Karin. Aku tidak setuju tapi papa tetap bersikeras untuk menikahi dia," jawab Adli.


"Mario pasti senang mendengar kabar itu," ucap Jingga.

__ADS_1


"Aku pun berpikir demikian. Tapi aku tidak sudi mengakui dia sebagai ibu sambungku. Wanita itu terlalu licik dan seperti ular. Dia bisa saja mengacaukan keluarga kami."


Jingga memeluk Adli. Lalu dia mengelus dada sang suami. "Mas Adli harus sabar. Kita cari cara agar papa tidak jadi menikah dengan Karin. Aku juga kurang suka kalau dia jadi ibu mertuaku." Adli tersenyum tipis.


__ADS_2