
Justin sengaja mengajak Danzel memilih jas yang akan dia ke akan untuk melamar Violet. "Kalau tahu begini aku tidak akan ikut dengan dia," gumam Danzel lirih. Tiba-tiba Violet mengirimkan pesan padanya.
^^^'Aku ingin bertemu untuk membalas kebaikanmu. Bagaimana kalau kita makan siang hari ini.'^^^
Danzel tersenyum ketika membaca pesan tersebut. "Bang, aku pergi dulu. Ada klien yang mau ngajak meeting soalnya," kilah Danzel. Justin mendengus tapi dia tidak bisa menahan adiknya jika itu berkaitan dengan urusan pekerjaan.
Justin pun mengizinkan adiknya pergi. Setelah berhasil pergi dari Justin Danzel segera melajukan mobilnya. Dia tidak sabar bertemu dengan Violet.
Vio mengajak Danzel makan di sebuah restorannya sederhana. Gadis itu sampai lebih dulu. Danzel yang baru datang mencari keberadaaan Violet. Keduanya bertemu di meja yang telah dipesan.
Sementara itu ada seseorang yang mengawasi Violet. Dia memotret Vio dan Danzel secara diam-diam.
"Apa kamu telah menunggu lama?" tanya Danzel.
"Tidak. Maaf aku mengajakmu makan di tempat biasa seperti ini."
__ADS_1
Danzel tersenyum. Baginya bukan masalah tempatnya. Melainkan makan dengan siapa itu yang terpenting. "Tenang saja aku bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan." Violet tersenyum.
Setelah itu mereka mengobrol sambil membicarakan masalah restoran yang akan dikelola pembangunnya oleh Danzel. "Bagaimana? Kamu suka dengan konsep yang aku buat?" tanya Danzel pada Violet.
"Ya, sempurna," puji Violet. Danzel pun tertawa. Di sisi lain Justin yang sengaja mengikuti Danzel melihat keduanya makan bersama sambil tertawa.
"Dia tidak pernah tertawa lepas seperti itu denganku," keluh Justin sambil menatap nanar ke arah keduanya. Dia merasa dikhianati oleh adik dan calon istrinya. Justin mengepalkan tangan lalu pergi. Rian, sopir sekaligus aspri Justin mengekor di belakang.
"Pak apa Anda ingin ke suatu tempat?" tanya Rian. Rian memang paling tahun kondisi Justin.
Tak butuh waktu lama mereka tiba di sebuah rumah mewah. Di sana Justin mencari keberadaaan seseorang. "Di mana Mami Karla?" tanya Justin.
Orang yang ditunggu pun tiba. "Hai, ganteng. Apa kabar?" Mami Karla ingin cipika cipiki tapi dia menolak.
"Aku ingin barang baru," ucap Justin. Mami Karla langsung mengerti apa yang laki-laki itu mau. Justin memang sudah lama menjadi pelanggan Mami Karla. Kalau orang lain menganggapnya dia tidak butuh wanita itu salah. Sebagai laki-laki normal dia juga butuh penyaluran.
__ADS_1
Pernah suatu kali Justin mengajak wanita ke rumah. Sabrina secara terang-terangan mengusir wanita itu. Justin merasa malu. Sejak saat itu dia tak pernah lagi membawa wanita. Nenek menganggap Justin tidak bisa move on dari mantan istrinya. Padahal Justin adalah pecandu sek*s
Justin selalu datang kepada Mami Karla jika dia menginginkan hal itu. "Ada, tapi berani bayar berapa?" tanya Mami Karla seraya menggoda Justin.
"Akan ku transfer sesuai yang kamu minta," jawab Justin. Setelah itu dia memanggil seorang gadis yang usianya masih belia.
"Namanya Sonya, dia baru beberapa hari di sini tapi dia belum pernah melayani satu pelanggan pun. Jadi kalau mau buka segel harus bayar tiga puluh juta semalam."
"Oke tidak masalah," jawab Justin. Setelah itu dia mengajak Sonya ke dalam kamar. Sementara Rian menunggu di luar. Rian berjaga di depan kamar yang digunakan Justin bercinta dengan ja*lang yang dia sewa.
Suara-suara tang menggema di dalam kamar terdengar hingga keluar. Rian memejamkan mata sambil membayangkan enaknya jadi si bos. "Emang ya kalau orang berduit apa aja bisa," keluh Rian.
...****...
maaf ya typo bertebaran di mana-mana
__ADS_1