Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Cemburu


__ADS_3

Adli dan Fabian duduk di satu ruangan yang sama. Jingga meninggalkan anaknya dengan dua laki-laki itu. Dia sedang membuatkan minuman untuk tamu-tamunya.


Violet yang belum bisa merangkak hanya bisa duduk diam dan memainkan bonekanya. Fabian menurunkan semua mainan yang dia beli. Rupanya Violet menyukainya. Fabian merasa senang karena kehadirannya diterima oleh Violet.


"Untuk apa lagi datang kemari?" tanya Adli. Dia jelas cemburu pada Fabian.


"Apa kamu tidak ingat kalau aku orang tua kandung Violet?" sindir Fabian.


Adli tersenyum miring. "Kenapa baru sekarang kamu mengakuinya. Dia tidak butuh kamu."


"Kenapa? Kamu cemburu melihat Violet menerima aku. Darah lebih kental dari pada apapun bukan?" Adli mengepalkan tangan ketika mendengar ucapan Fabian.


Sesaat kemudian Jingga membawa sebuah nampan yang berisi dua cangkir teh dan camilan. "Silakan diminum Mas Adli, Mas Fabian!"


Adli menarik tangan Jingga untuk menjauh dari Fabian. "Jingga bisa kamu jelaskan padaku kenapa laki-laki itu bisa ada di sini? Apa benar dia hanya ingin menemui Violet? Kamu yakin dia tidak memiliki tujuan lain?" cecar Adli.


"Benar, Mas. Mas Fabian hanya ingin menjenguk Violet. Aku tidak bisa menghalangi dia karena dia ayah kandungnya," jawab Jingga sambil menunduk. Dia merasa bersalah pada Adli.


Adli menyentuh dagu Jingga. "Baiklah. Dia boleh datang tapi tidak boleh sering. Berikan dia batasan waktu. Ingat Jingga kita akan menikah sebentar lagi, kamu tidak mau kalau ada orang ketiga di antara kita bukan?" tutur Adli dengan lembut.


Jingga mengangguk paham. "Aku pun tidak ingin sering bertemu dengannya, Mas. Bagiku Mas Fabian hanya masa lalu. Aku ingin membuka lembaran baru bersamamu," jawab Jingga sambil menatap ke dalam mata Adli.


Adli tak tahan. Selama ini dia menahan diri untuk mencium Jingga. Tapi karena kedatangan Fabian hari ini membuat dirinya ingin mengklaim kalau Jingga adalah miliknya. Adli mencium bibir Jingga tanpa aba-aba terlebih dahulu. Jingga yang tidak siap, jadi terkejut.


Adli ******* bibir ranum milik Jingga. Jingga yang merasa bersalah pada calon suaminya itu akhirnya membalas ciuman Adli. Toh, sebentar lagi mereka akan resmi menjadi suami istri.


Di saat yang bersamaan Fabian mengintip kegiatan mereka. Dadanya terasa panas melihat laki-laki lain mencium mantan istrinya itu. Fabian memilih kembali menemani Violet.

__ADS_1


Adli melepas pagutannya setelah dia merasa puas. "Maaf, aku mengambil ciuman darimu tanpa izin," ucap Adli seraya mengusap bekas ciuman di bibir Jingga.


Jingga memukul dada bidang Adli. "Dasar mesumm!" ucap Jingga sambil menahan senyum. Jantung Jingga berdebar ketika Adli menciumnya.


setelah itu, Jingga menemui Fabian. " Mas apa kamu tidak bekerja?" tanya Jingga pada Fabian.


Fabian berdiri. "Aku menunggumu untuk berpamitan. Besok Aku akan kembali ke sini," ucap Fabian. Adli sudah ketar-ketir. Tentu saja dia khawatir jika Jingga akan berpaling pada Fabian jika terlalu intens bertemu.


"Tidak, Mas. Kamu boleh menemui Vio tapi jangan terlalu sering. Aku juga punya privasi." Jingga bersikap tegas pada Fabian. Bagaimana pun dia harus menjaga perasaan calon suaminya.


Fabian menghela nafas. Dia tidak bisa memaksa Jingga, atau dirinya akan dilarang bertemu dengan Violet sama sekali.


"Baiklah," jawab Fabian dengan perasaan kecewa. Adli merasa lega dengan keputusan Jingga. Dia jadi merasa tenang.


Fabian mencium kening anaknya sebelum dia pergi. Dengan perasaan berat hati dia melangkahkan kaki keluar. "Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menemui Violet hari ini," ucap Fabian pada Jingga.


Adli melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sayang, aku ingin pergi menemui papa. Ada yang harus aku diskusikan dengannya," pamit Adli.


Jarang-jarang Adli memanggil sayang. Selama ini dia menjaga perasaan Jingga. Tapi setelah ciuman tadi Ali merasa Jingga telah menerimanya karena Jingga pun membalas ciuman darinya.


Jingga mengangguk. Adli berpamitan juga pada Violet. "Papa pergi dulu ya sayang. Nanti papa akan belikan mainan yang lebih bagus dari pada ini," ucap Adli. jingga menggelengkan kepala ketika mendengar ucapan Adli yang cemburu secara terang-terangan.


Adli melirik Jingga dan mencium kening wanita itu. "Aku pergi." wajah Jingga memerah ketika mendapatkan perlakuan manis dari laki-laki itu.


Adli masuk ke dalam mobilnya. Dia berniat untuk menemui sang ayah guna meminta penjelasan darinya soal ucapan Karin semalam. Tak butuh waktu lama, Adli sampai di pabrik pembuatan furniture milik perusahaan ayahnya.


"Ada apa kamu ke sini? Apa ada orderan yang masuk?" tanya Helmi.

__ADS_1


"Pa, aku ingin tanya apa papa sedang menjalin hubungan dengan mantan istri papa? Jadi papa selama ini berbohong pada kami?" cecar Adli. Dia tidak terima jika Karin kembali menjadi anggota keluarga mereka. Bukan dia tidak menghormati Mario sebagai saudaranya, tapi mengingat sikap Karin yang meresahkan, Adli sangat tidak setuju jika Helmi menikah lagi dengan wanita itu.


Malam itu ketika Adli sedang mengerjakan laporan keuangan di ruang tengah, Karin tiba-tiba menghampiri.


"Adli ini minuman buat kamu." Karin memberikan segelas jus pada Adli.


"Terima kasih banyak," ucap Adli tanpa curiga.


Karin tetap tinggal dan duduk di samping Adli. Adli meras terganggu tapi saat itu dia hanya diam. Tiba-tiba tangan Karin memeluk Adli dari belakang. Adli tentu saja sangat kaget.


"Adli, kenapa kamu menghindar?" tanya Karin. Dia memanfaatkan situasi ketika tidak ada orang di rumah. Suaminya sedang lembur, Rizky menginap di rumah temannya, sedangkan Mario telah terlelap.


"Tolong jangan seperti ini," ucap Adli. Dia merasa risih dengan sikap Karin.


Usia Karin tak jauh berbeda dengan Adli. Mereka hanya terpaut lima tahun. Tentunya Karin lebih dewasa dari pada laki-laki yang merupakan anak dari suaminya itu.


"Jangan munafik! Kamu juga menyukaiku bukan?" Tak dipungkiri penampilan Karin memang modis dan terlihat lebih muda. Namun, sejak dulu Adli hanya menyukai Jingga. bahkan dia pun tidak pernah pacaran.


"Aku akan adukan perbuatanmu pada papa," ancam Adli.


"Kamu kira dia akan percaya?" tantang Karin. Tapi tanpa dia duga Helmi mendengar percakapan mereka. Saat itulah Helmi menjatuhkan talak untuk Karin. Dia tidak terima dikhianati oleh istrinya itu. Tapi akhir-akhir ini, Karin kembali mendekati mantan suaminya itu agar bisa kembali menggunakan kekayaan Helmi. Karin ingin hidupnya kembali seperti dulu. Penuh dengan kemewahan yang dijanjikan oleh mantan suaminya.


♥️♥️♥️


Sekedar informasi ya aku ganti judul buat novel baruku karena banyak pertimbangan. Silakan mampir


__ADS_1


__ADS_2