
Hari ini seorang wanita cantik bergaun kebaya putih tengah duduk di depan cermin. Kemudian seseorang yang berdiri di belakang membantu wanita itu memakaikan siger di kepalanya. "Mbak Jingga cantik sekali," puji MUA itu.
Jingga tersenyum. "Makasih, Mbak."
"Keluarga mempelai laki-laki sudah datang," seru salah seorang saat memasuki kamar yang di tempati Jingga. Hari ini Jingga dan Adli menikah di rumah wanita itu.
Namun, Adli telah menyulap rumah Jingga dan pelatarannya menjadi sebuah tempat yang istimewa dengan dekorasi penuh dengan bunga warna putih.
Adli memasuki rumah Jingga kemudian duduk di depan penghulu. "Wah calon pengantin lelakinya tampan sekali," puji Pak Penghulu.
Adli jadi merasa malu. "Saya sudah siap, Pak," ucap Adli.
"Wah saya suka nih. Padahal saya biasanya yang tanya duluan sama calon pengantinnya," gurau Pak Penghulu.
Kemudian Pak Harsha datang dan duduk di depan Adli. "Walinya akan menikahkan anaknya secara langsung," terang penghulu tersebut. Adli mengangguk paham. Jantungnya berdegup kencang ketika berhadapan dengan calon mertuanya itu.
__ADS_1
Pak Harsha menjabat tangan Adli yang terasa dingin. Ketara sekali kalau dia sangat gugup. "Tenang, Bang. Elo harus fokus," bisik Rizky menyemangati kakaknya.
"Saya nikahkan anak saya Jingga Prameswari dengan mas kawin uang lima puluh juta dan emas dua puluh gram dibayar tunai," ujar Pak Harsha.
"Saya terima nikahnya Jingga Prameswari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Adli.
"Bagaimana saksi?" tanya Penghulu.
"Sah," jawab semua orang yang antusias menyaksikan acara ijab qobul tersebut. Adli bernafas lega setelah melafalkan janji suci dengan satu tarikan nafas.
"Kalian bisa tanda tangani buku nikah ini," kata penghulu tersebut memberikan instruksi. Keduanya pun menuruti perintah tersebut. Setelah itu Adli dan Jingga saling bertukar cincin.
"Cium! Cium! Cium!" Mario berseru kemudian diikuti yang lainnya. Adli mengikis jarak di antara mereka. Dia mencium kening Jingga agak lama. Jingga pun memejamkan mata ketika suami keduanya itu mencium dirinya.
Dari kejauhan seseorang menatap sendu dengan pernikahan Adli dan Jingga. Fabian merasakan sesak di dadanya kala mantan istrinya itu menikah lagi. "Apa tidak ada kesempatan lagi untukku, Jingga," gumam Fabian. Dia memakai kacamatanya lalu masuk ke dalam mobil. Fabian tidak mau berlama-lama berada di sana. Hatinya sakit menerima kenyataan kalau wanita yang pernah mengisi hatinya itu kini bersanding dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Di tempat kain, Lidia merasa tidak terima ketika dirinya tidak diundang ke acara pernikahan Jingga. "Apa dia tidak menganggap kita sebagai keluarga lagi, Ma? Bisa-bisanya dia melupakan kita?"
"Kak, kalau aku jadi Jingga aku juga tidak akan mengundang kamu. Hati Jingga pasti sakit melihat Kak Fabian bahagia bareng kamu, sedangkan pernikahannya dengan Kak Fabian harus kandas," sela Diva, adik Lidia.
"Tapi apa dia lupa siapa yang selama ini merawat dia sejak dulu?" Lidia merasa jasanya telah dilupakan oleh Jingga.
"Lidia kalau pada akhirnya kamu meminta pamrih atas apa yang telah kamu lakukan itu tidak baik, Nak." Sang ibu menasehati.
Lidia tak mengabaikan ucapan ibunya. Dia merasa semua orang membela Jingga. "Mas Fabian ke mana sih? Kok dia nggak ada ngabarin aku." Lidia mulai risau mencari keberadaan suaminya. Berkali-kali dia menghubungi nomor Fabian tapi laki-laki itu tidak menjawab panggilannya sama sekali. Padahal handphone suaminya masih aktif.
"Dia sengaja ya mengabaikan aku?" tuduh Lidia. Setelah itu Lidia pamit pulang pada ibu dan adiknya. Dia mencari keberadaan Fabian di rumah, akan tetapi suaminya itu tidak pulang. Setelah itu Lidia mencari Fabian di kantor.
"Lo nggak ada lihat suami gue?" tanya Lidia pada Imam.
Imam menggelengkan kepalanya. "Dia tidak datang hari ini. Bahkan jadwal meeting dengan klien harus ditunda karena dia tidak ada kabar.
__ADS_1
Nah lo ke mana ya Mas Fabian pergi? Komen yang banyak ya