
Hari ini Adli membawa Jingga pulang ke rumah. Namun, anak mereka belum diizinkan pulang. Setidaknya sampai dua hari ke depan mereka harus mendapatkan pengawasan dari dokter.
"Istirahatlah dulu aku akan ambilkan minuman untuk kamu," ucap Adli. Jingga mengangguk patuh. Dia duduk di kursi ruang tengah.
Adli membuatkan teh hangat untuk istrinya. Dia sengaja membuatkan Jingga teh hangat dengan tangannya sendiri. "Ini sayang, minumlah!" ucap Adli. Jingga menerima secangkir teh dari tangan suaminya.
"Mas, kapan anak kita dipulangkan?" tanya Jingga.
"Kata dokter mungkin dua hari lagi, Sayang. Tenanglah mereka akan mendapatkan perawatan terbaik dari rumah sakit. Semua demi kesehatan mereka," ucap Adli memberi pengertian pada istrinya.
Sesungguhnya hati Jingga sangat sedih karena harus berpisah sementara dari anaknya. Adli merangkul bahu Jingga. "Aku tahu bagaimana perasaan kamu. Aku pun merindukan mereka," ujar laki-laki yang merupakan suami kedua Jingga tersebut.
"Mas kamu namai siapa anak-anak kita?" tanya Jingga.
"Albiru dan Cyan," jawab Adli.
"Mereka seperti aku ya memiliki nama yang seperti warna," ucap Jingga sambil terkekeh.
__ADS_1
"Iya, artinya sama-sama berhubungan dengan warna biru," balas Adli. Jingga memeluk suaminya erat.
"Aku bahagia bersamamu, Mas."
Adli mengecup kening istrinya dengan sayang. "Istirahatlah di kamar. Aku akan menjemput Violet yang masih berada di rumah mama Wanda." Jingga mengangguk paham.
Adli pun meninggalkan istrinya di rumah bersama seorang asisten rumah tangga. Dia mendatangi rumah Mama Wanda untuk menjemput anak sambungnya.
Ketika sampai di sana, Adli melihat rumahnya sepi. Dia mencoba menghubungi nomor telepon mama Wanda tapi tidak diangkat. Adli jadi merasa cemas. Bayangan Violet hilang seolah kembali melintas di pikirannya.
Adli pun menghubungi Papa Erik. Namun, dia bilang kalau Mama Wanda tidak bersamanya. "Bagaimana aku menjelaskan pada Jingga?" Adli pun berpikir sejenak. Setelah itu dia kembali. Adli tetap bersikap tenang agar dia bisa menemukan solusi.
"Dia belum mau pulang." Adli terpaksa berbohong agar istrinya tidak khawatir.
"Benarkah? Padahal sejak aku masuk rumah sakit aku sama sekali belum melihat wajahnya. Bagaimana kalau video call saja?" usul Jingga.
Adli mulai panik. Dia pura-pura melihat jam yang melingkar di tangannya. "Sudah larut, Sayang. Sebaiknya kita hubungi Violet besok pagi. Nanti dia malah rewel kalau dibangunkan." Adli mencoba memberi istrinya pengertian.
__ADS_1
"Baiklah, Mas. Kalau begitu aku ingin tidur lagi. Badanku belum benar-benar vit." Adli menganggu menanggapi ucapan Jingga.
Keesokan harinya sebelum Jingga bangun, Adli mencoba menelepon nomor telepon Mama Wanda kembali. Untung saja tersambung. "Alhamdulillah. Ma, mama ke mana? Aku cemas karena kemaren aku ke rumah mama tapi rumah sepi," ucap Adli dengan cepat.
"Mama menginap di rumah Fabian. Maaf mama tidak izin kamu dulu. Hari ini mama akan mengantar Violet pulang," jawab Mama Wanda melalui sambungan telepon.
Setelah itu, Adli menutup teleponnya. Dia takut Jingga mengetahui kebohongannya semalam. Tak lama kemudian Jingga terbangun. "Mas Adli sudah bangun duluan?" tanya Jingga. Adli mengangguk.
"Perutku tiba-tiba mulas. Jadi aku bangun lebih dulu." Lagi-lagi dia berbohong.
'Maaf, Sayang. Aku terlalu sering berbohong padamu," ucapnya dalam hati.
"Oh ya. Tadi mama mengabari kalau Violet akan diantar pulang hari ini. Bersiaplah menyambutnya!" Jingga tersenyum senang. Setelah beberapa hari bahkan hampir seminggu tidak ketemu, akhirnya kerinduannya pada anak sulungnya akan terobati.
"Iya, Mas. Aku akan mandi dan bersiap. Aku juga akan dandan cantik agar Violet senang ketika melihat ibunya." Jingga sangat bersemangat mengharapkan kedatangan anaknya.
***
__ADS_1
Doakan ya supaya author bisa update banyak. Like nya ya jangan lupa, yang belum kasih rate bisa kasih rate asal jangan bintang 1 itu sangat merugikan author 🙏